Trump Dorong The Fed Pangkas Suku Bunga, Sebut Inflasi AS Telah Reda
IDXChannel - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menyerukan agar Federal Reserve (The Fed) menurunkan suku bunga acuannya.
Menurut Trump, AS seharusnya memiliki biaya pinjaman terendah di dunia.
“Suku bunga harus lebih rendah,” kata Trump kepada wartawan, dilansir dari Anadolu Agency pada Selasa (28/7/2026).
Dia juga mengklaim bahwa jika suku bunga rendah, ekonomi AS dapat tumbuh delapan persen, atau bahkan hingga 12 persen.
“Kita seharusnya memiliki suku bunga terendah di dunia, seperti 30 tahun yang lalu,” katanya.
Trump menunjuk data inflasi terbaru sebagai bukti bahwa tekanan harga mereda. Harga konsumen AS turun 0,4 persen secara bulanan pada Juni, sementara inflasi tahunan melambat menjadi 3,5 persen dari 4,2 persen pada Mei. Inflasi inti, yang tidak termasuk makanan dan energi, turun menjadi 2,6 persen.
Bank Sentral AS (Fed) telah mempertahankan suku bunga acuan dalam kisaran target 3,5 persen-3,75 persen sejak awal tahun. Pertemuan kebijakan moneter berikutnya dijadwalkan pada tanggal 28-29 Juli.
Trump menegaskan dukungannya terhadap Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh. Namun, dia mengklaim bahwa beberapa anggota Dewan Gubernur The Fed tak ingin mendukung pemerintahannya.
"Warsh ingin melakukan hal yang benar tetapi membutuhkan persetujuan dari pembuat kebijakan lainnya," katanya.
Warsh dilantik sebagai ketua The Fed pada 22 Mei, menggantikan Jerome Powell. Trump menominasikannya pada 4 Maret, sementara Senat mengukuhkannya sebagai gubernur The Fed pada 12 Mei dan sebagai ketua pada 13 Mei. Masa jabatannya sebagai ketua akan berjalan hingga 21 Mei 2030, sementara masa jabatannya sebagai anggota dewan The Fed berakhir pada 31 Januari 2040.
Trump berulang kali mengkritik Powell selama masa jabatannya karena terlalu lambat dalam mengurangi biaya pinjaman, menuduhnya membuat keputusan suku bunga yang bermotivasi politik. Ia secara terbuka menyerukan agar Powell mengundurkan diri dan mengklaim bahwa kebijakan The Fed yang ketat menghambat pertumbuhan ekonomi. (Wahyu Dwi Anggoro)










