Pimpinan Padepokan Padang Ati Pekalongan Jadi Tersangka Pencabulan, 350 Santri Dipulangkan
JAKARTA, iNews.id - Pimpinan Padepokan Padang Ati di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Abdul Khalim Fadlun (55 tahun) ditetapkan sebagai tersangka pencabulan puluhan santriwati. Sebanyak 350 santri pun dipulangkan dari padepokan tersebut.
Penangkapan dilakukan di padepokan yang berada di Simbangkulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, pada Rabu (27/5/2026).
Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pekalongan bersama instansi terkait kini melakukan langkah antisipasi untuk memastikan keberlanjutan pendidikan para pelajar yang terdampak.
Plh Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Pekalongan, Moh Irkham mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan sejumlah madrasah agar pendidikan formal siswa tetap berjalan.
“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak madrasah untuk memastikan pendidikan formal mereka tetap berlanjut dan tidak terputus,” ujar Irkham, dikutip Jumat (29/5/2026).
Kemenag Kabupaten Pekalongan mencatat terdapat sekitar 350 anak yang belajar di Padepokan Padang Ati. Dari jumlah tersebut, sebanyak 38 siswa tercatat belajar di Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) swasta.
Selain itu, Kemenag juga berkoordinasi dengan sejumlah pondok pesantren untuk mengantisipasi kelanjutan pendidikan anak-anak terdampak.
“Kami juga telah berkoordinasi dengan sejumlah pondok pesantren sebagai langkah antisipasi kelanjutan pendidikan dan mereka siap menampung anak-anak yang terdampak,” sambungnya.
Meski demikian, untuk sementara waktu para pelajar memilih pulang ke rumah masing-masing. Dari total sekitar 350 anak, terdapat dua pelajar dari luar kota yang saat ini tinggal di rumah guru MTs.
“Jadi, sampai sore ini, pelajar Padepokan Padang Ati sudah dipulangkan ke rumah masing-masing,” katanya.
Irkham menambahkan, pemerintah daerah juga menyiapkan pendampingan psikologis bagi para pelajar terdampak.
“Terkait dampak psikologis mereka, Dinas P3A dan PPKB juga telah mempersiapkan rencana untuk melakukan pendampingan psikologi klinis dan penanganan trauma healing baik di rumah maupun di satuan pendidikan,” tandasnya.










