IDAI Sarankan Anak di Bawah 2 Tahun Tidak Boleh Diberikan HP Sama Sekali!
JAKARTA, iNews.id – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan larangan penggunaan gawai bagi anak di bawah usia dua tahun. Rekomendasi ini bukan tanpa alasan, melainkan berdasarkan pertimbangan medis terkait fase krusial perkembangan otak pada masa awal kehidupan.
Ketua Pengurus Pusat IDAI dr Piprim Basarah Yanuarso menyatakan, dua tahun pertama kehidupan merupakan periode emas yang sangat menentukan kualitas tumbuh kembang anak di masa depan.
"Pada fase ini, otak anak berkembang sangat pesat dan membutuhkan stimulasi nyata melalui interaksi langsung, bukan dari layar," ujar dr Piprim dalam keterangan resminya, Minggu (29/3/2026).
Menurut IDAI, paparan gawai pada bayi justru berpotensi menghambat perkembangan kognitif dan emosional. Anak yang terlalu dini terpapar layar dikhawatirkan mengalami keterlambatan bicara (speech delay), gangguan konsentrasi, hingga kesulitan bersosialisasi.
Dies Natalis ke-79 HMI: Salurkan Bantuan Pendidikan dan Dukung Cak Nur Jadi Pahlawan Nasional
Interaksi dua arah seperti berbicara, bermain, dan kontak fisik dengan orang tua dinilai jauh lebih penting dalam membentuk koneksi saraf di otak anak. Sementara itu, layar gawai tidak mampu menggantikan kualitas stimulasi tersebut.
IDAI juga mengingatkan bahwa penggunaan gawai sering kali dijadikan 'jalan pintas' oleh orang tua untuk menenangkan anak. Padahal, kebiasaan ini dapat berdampak jangka panjang terhadap perkembangan mental dan perilaku anak.
Seiring dengan itu, IDAI menyambut penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 sebagai langkah awal pemerintah dalam membatasi paparan digital pada anak. Kebijakan ini dinilai sejalan dengan upaya perlindungan kesehatan anak di era teknologi.
Ketua Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI dr Fitri Hartanto menekankan bahwa pembatasan akses digital harus diiringi dengan peran aktif orang tua.
"Anak membutuhkan kehadiran orang tua, bukan sekadar distraksi dari layar. Interaksi langsung sangat penting untuk membangun kemampuan berpikir dan emosi anak," jelasnya.
IDAI pun mendorong orang tua untuk mengganti penggunaan gawai dengan aktivitas yang lebih bermanfaat, seperti bermain bersama, membaca buku, atau mengajak anak berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Dengan jumlah anak usia dini yang besar di Indonesia, IDAI menilai kesadaran orang tua menjadi kunci utama dalam mencegah dampak negatif teknologi sejak dini.
"Ini bukan soal melarang teknologi, tetapi memastikan anak tumbuh dengan optimal sesuai tahap perkembangannya," kata dr Piprim.
Melalui imbauan ini, IDAI berharap orang tua lebih bijak dalam memberikan akses gawai kepada anak. Sebab, di usia emas tersebut, setiap stimulasi yang diberikan akan sangat menentukan kualitas perkembangan otak dan masa depan anak.










