Pemerintah Bidik 1.000 Penerima Beasiswa Magister Mengabdi di 154 Kawasan Transmigrasi

Pemerintah Bidik 1.000 Penerima Beasiswa Magister Mengabdi di 154 Kawasan Transmigrasi

Terkini | idxchannel | Senin, 19 Januari 2026 - 04:10
share

IDXChannel - Pemerintah menargetkan 1.000 penerima beasiswa magister untuk mengabdi langsung di 154 kawasan transmigrasi di Indonesia. Program ini juga menyasar lulusan perguruan tinggi berbasis full online learning di Indonesia.

Sekretaris Jenderal Kementerian Transmigrasi, Edy Gunawan, mengatakan hal ini menjadi rancangan dari program 'Transmigrasi Patriot 2026' yang mengintegrasikan Tim Ekspedisi Patriot dan Beasiswa Patriot (S2) guna membentuk kawasan transmigrasi yang produktif dan mandiri secara ekonomi berbasis riset aplikatif. 

"Di tahun 2026, ditargetkan sebanyak 1.000 awardee beasiswa magister akan menempuh pendidikan selama 18 bulan, termasuk melakukan penelitian tesis dan pengabdian langsung di 154 kawasan transmigrasi seluruh Indonesia," kata Edy Gunawan dalam acara wisuda Universitas Siber Asia (UNSIA), Minggu (18/1/2026).

Kehadiran Kementerian Transmigrasi ini turut mempertegas komitmen dalam mengakselerasi pembangunan nasional melalui sinergi dunia akademik dan teknologi digital. 

UNSIA, kata Edy, mewisuda 879 lulusan secara hybrid. Sebanyak 367 orang diwisuda secara onsite (langsung) dan 495 orang di antaranya terhubung secara daring dari berbagai belahan dunia termasuk Malaysia, Taiwan, dan Arab Saudi, UNSIA membuktikan bahwa peran pendidikan jarak jauh adalah nyata, tanpa batas, dan tanpa jarak.

Kepala LLDIKTI Wilayah III, Henri Togar Hasiholan Tambunan menyampaikan lulusan perguruan tinggi berbasis full online learning asal Indonesia harus memiliki DNA digital. Henri menjelaskan hal ini menurutnya penting untuk memecahkan masalah nyata di Indonesia.

"Lulusan kampus siber harus memiliki 'DNA Digital' yang menjadi keunggulan kompetitif mutlak. Di tengah disrupsi AI, ijazah saja tidak cukup. Saudara harus menjadi praktisi solutif yang mengombinasikan keahlian informatika, komunikasi, atau manajemen untuk memecahkan masalah nyata di masyarakat," kata Henri. 

Rektor UNSIA, Jang Youn Cho, menekankan lulusan UNSIA harus menjadi pionir di era Artificial General Intelligence (AGI).

Dia juga mengumumkan pencapaian UNSIA sebagai hub World University Ranking for Innovation (WURI) di Indonesia serta rencana menjadi Google Reference University pertama dan pionir penggunaan AI untuk pendidikan di tanah air.

"Jangan hanya menjadi 'pengguna' masa depan, jadilah 'inovator' masa depan. Di era AI ini, kecanggihan mesin justru membuat nilai kemanusiaan Anda semakin berharga. Gunakan efisiensi AI untuk memberi Anda lebih banyak waktu menjadi manusia yang lebih empati dan melayani bangsa dengan hati yang tidak dapat direplikasi oleh kode mana pun," kata Jang Youn Cho.

(NIA DEVIYANA)

Topik Menarik