Demonstran Bakar Puluhan Masjid di Iran, Khamenei Tuduh AS Terlibat

Demonstran Bakar Puluhan Masjid di Iran, Khamenei Tuduh AS Terlibat

Global | okezone | Minggu, 11 Januari 2026 - 14:20
share

JAKARTA – Demonstran di Iran membakar masjid dan meneriakkan slogan-slogan anti-rezim selama protes terbesar di negara itu dalam tiga tahun terakhir. Video yang beredar di media sosial menunjukkan salah satu masjid terbesar di Iran dilalap api dan menjadi viral.

 

Video tersebut dibagikan oleh aktivis hak asasi manusia Iran, Masih Alinejad, di media sosial X dengan keterangan: “Salah satu masjid terbesar di Iran terbakar selama pemberontakan. Jangan panik. Ini bukan kekacauan. Ini adalah 47 tahun kemarahan. Selama 47 tahun, setelah setiap seruan Allahu Akbar dari menara-menara ini, warga Iran yang tidak bersalah dieksekusi oleh rezim Islamis.”

Kebenaran video tersebut belum dapat dikonfirmasi. 

Wali Kota Teheran, Alireza Zakani, mengatakan bahwa setidaknya 25 masjid telah dibakar dan banyak infrastruktur lainnya dirusak selama demonstrasi.

"Satu rumah sakit rusak, dua pusat medis dan 26 bank dijarah, 25 masjid dibakar, serta pos penegak hukum dan markas besar (pasukan Korps Garda Revolusi Islam) Basij diserang," katanya di televisi pemerintah Iran, sebagaimana dilansir TASS.

 

Sebelumnya, demonstran juga dilaporkan membakar kitab suci Al-Quran dan berusaha menyerang masjid dalam sebuah demonstrasi di distrik Sadaf, Kota Hamadan, bagian barat Iran. Namun, aksi tersebut berhasil dihentikan.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam komentar pertama sejak protes meletus pada 3 Januari, menyebut para demonstran sebagai “perusak” dan “penyabot”. Khamenei juga menuduh keterlibatan Amerika Serikat (AS) dalam demonstrasi terbaru ini, dengan mengatakan bahwa tangan Presiden AS Donald Trump “berlumuran darah lebih dari seribu warga Iran.”

Sementara itu, Reza Pahlavi, pangeran Iran yang diasingkan, mendesak Trump untuk campur tangan dalam pemberontakan yang telah menyebabkan bentrokan antara demonstran dan petugas keamanan.

 

Gelombang protes kedua dimulai awal pekan ini setelah Pahlavi mendorong warga untuk bersuara menentang Republik Islam Iran, karena negara tersebut menghadapi kesulitan ekonomi yang parah. Protes saat ini, gelombang perbedaan pendapat terbesar dalam tiga tahun terakhir, dimulai bulan lalu di Grand Bazaar Teheran dengan para pemilik toko mengecam jatuhnya nilai mata uang rial.

Topik Menarik