Distribusi Konten Cepat, Telegram Jadi Tempat Hacker Sebar Data Curian

Distribusi Konten Cepat, Telegram Jadi Tempat Hacker Sebar Data Curian

Terkini | inews | Rabu, 10 Juli 2024 - 17:35
share

JAKARTA, iNews.id - Penjahat dunia maya secara aktif mengoperasikan saluran dan grup di Telegram untuk mendiskusikan skema penipuan. Volume postingan semacam ini pun melonjak tahun ini. 

Menurut data Digital Footprint Intelligence Kaspersky, volume postingan skema penipuan di Telegram melonjak 53 persen pada Mei-Juni 2024 jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Menurut analis di Kaspersky Digital Footprint Intelligence Alexei Bannikov meningkatnya minat terhadap Telegram dari komunitas penjahat dunia maya didorong beberapa faktor. Pertama, messenger ini sangat populer secara umum dengan audiens mencapai 900 juta pengguna bulanan. 

Kedua, Telegram dipasarkan sebagai pengirim pesan paling aman dan independen yang tidak mengumpulkan data pengguna apa pun. Alhasil, memberikan rasa aman bagi pelaku ancaman.

Selain itu, menemukan atau membuat komunitas di Telegram relatif lebih mudah. Dikombinasikan faktor-faktor lainnya, membuat berbagi saluran, termasuk berbau penjahat dunia maya mengumpulkan audiens lebih cepat. 

Penjahat dunia maya yang beroperasi di Telegram umumnya menunjukkan kecanggihan dan keahlian teknis lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang ditemukan di forum dark web yang lebih terbatas dan terspesialisasi. Ini disebabkan rendahnya hambatan masuk ke komunitas bayangan Telegram.

Selain itu, Telegram tidak memiliki sistem reputasi serupa dengan yang ditemukan di forum dark web (seperti yang disoroti dalam penelitian Kaspersky ini), sehingga banyak penipu di dunia kriminal siber Telegram yang cenderung menipu sesama anggota komunitasnya.

Di sisi lain, Telegram juga sekarang muncul sebagai platform tempat berbagi hacker membuat pertanyaan dan mengekspresian pandangan mereka. Karena basis penggunanya yang luas dan distribusi konten lebih cepat. 

"Telegram telah muncul sebagai platform tempat berbagai peretas membuat pernyataan dan mengekspresikan pandangan mereka. Karena basis penggunanya yang luas dan distribusi konten yang cepat melalui saluran Telegram, para peretas menganggap platform ini sebagai alat yang mudah digunakan untuk memicu serangan DDoS dan metode merusak lainnya terhadap infrastruktur yang ditargetkan. Selain itu, mereka dapat melepaskan data curian dari organisasi yang diserang ke domain publik menggunakan saluran bayangan," kata Alexei Bannikov.

Topik Menarik