Melihat Produksi Jipang Makanan Tradisional di Kota Tasikmalaya yang Masih Banyak Diminati

Melihat Produksi Jipang Makanan Tradisional di Kota Tasikmalaya yang Masih Banyak Diminati

Terkini | tasikmalaya.inews.id | Rabu, 10 Juli 2024 - 13:31
share

TASIKMALAYA, iNewsTasikmalaya.id - Jipang atau tengteng, makanan tradisional khas Sunda, masih banyak diminati oleh masyarakat hingga saat ini.

Biasanya, makanan ini dijadikan oleh-oleh atau disajikan sebagai camilan di rumah. Tengteng juga sering dijual di warung-warung dengan harga Rp500 per bungkus.

Di Kota Tasikmalaya, terdapat wilayah yang memproduksi makanan tradisional ini, seperti Jipang MB yang diproduksi oleh PD Mirasa dan Barokah di Kampung Pagergunung, Kelurahan Singkup, Kecamatan Purbaratu.

Makanan yang memiliki rasa manis dan tekstur renyah ini terbuat dari beras dan gula aren. Kedua bahan tersebut dicampur, dipotong, dan dikemas sebelum akhirnya dipasarkan.

Pemilik PD Mirasa dan Barokah, Benyamin, menjelaskan bahwa Jipang atau Tengteng dibuat tanpa bahan pengawet.

"Berasnya kami bersihkan dulu, lalu dimasukkan ke mesin dan dicampur dengan gula aren. Prosesnya tidak terlalu lama," kata Benyamin saat ditemui di tempat produksinya, Selasa (9/7/2024) siang.

Dengan mengerahkan 30 pekerja asli Kampung Pagergunung, Benyamin bisa memproduksi 200 bal Jipang per hari.

"Setiap hari kami bisa memproduksi 200 bal. Sebelum dibal, satu per satu bungkus kami kemas dengan plastik agar higienis. Harga per bal adalah Rp 30 ribu ke agen, dan Rp 45 ribu jika dibeli di sini. Kalau di warung biasanya dijual Rp 500 perak per bungkus," terang Benyamin.

Minat masyarakat terhadap Jipang atau Tengteng masih sangat tinggi, terutama saat menjelang Idul Fitri dan Idul Adha.

Produksi Tengteng ini sudah dimulai sejak tahun 2000. Selain dipasarkan di Jawa Barat, produk ini juga dijual di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Belum sampai ekspor ke luar negeri, hanya di seputaran Pulau Jawa saja, Jabar, Jateng, dan Jatim," ungkap Benyamin.

 

Usaha yang dijalani Benyamin tidak selalu stabil, terkadang mengalami pasang surut. "Penghasilan bisa naik turun, terutama saat pandemi Covid-19, kami sempat berhenti," tambahnya.

Selain memproduksi tengteng, Benyamin juga memproduksi makaroni di tempat yang berbeda. Dari dua produksi tersebut, ia bisa mendapatkan penghasilan Rp400 juta per bulan.

"Omzet dari dua produksi, yaitu Tengteng dan makaroni, paling Rp 400 juta per bulan," paparnya.

Ketika ditanya tentang kehadiran Cawalkot Tasikmalaya, H Muhammad Yusuf, di tempat produksinya, Benyamin merasa bahagia dan bangga.

"Kedatangan Pak Yusuf alhamdulillah membuat kami senang. Beliau juga tadi membeli banyak Tengteng," pungkasnya.

 

Topik Menarik