Nekat Bakar Uang Rp404 Triliun, Blunder Fatal Schneider Electric Bikin Sahamnya Hancur Lebur!

Nekat Bakar Uang Rp404 Triliun, Blunder Fatal Schneider Electric Bikin Sahamnya Hancur Lebur!

Teknologi | sindonews | Selasa, 6 Oktober 2026 - 22:28
share

Saham Schneider Electric anjlok lebih dari 9 persen di Bursa Paris, Senin (5/10/2026), tak lama setelah raksasa teknologi energi asal Prancis itu mengumumkan akuisisi terbesar dalam sejarahnya: membeli PTC, perusahaan perangkat lunak desain industri asal Boston, Amerika Serikat, senilai USD22,6 miliar atau sekitar Rp404,5 triliun.

Schneider akan membayar tunai USD205 (Rp3,67 juta) per saham untuk 100 persen saham PTC. Termasuk utang, nilai transaksi mencapai USD23,7 miliar (Rp424,2 triliun).

Harga itu mengandung premi 42,3 persen dari harga penutupan terakhir saham PTC. Dewan direksi PTC telah menyetujuinya.

Premi itulah yang pertama mengusik. Dengan harga penutupan sekitar USD144 per saham, Schneider membayar lebih sekitar USD61 per saham. Total premi ditaksir USD6,7 miliar atau sekitar Rp120 triliun.

Waktunya pun dipersoalkan. Pasar tengah khawatir kecerdasan artifisial (AI) menggerus model bisnis perusahaan perangkat lunak karena menawarkan alternatif yang lebih murah.Menurut MarketWatch, valuasi PTC tahun ini sempat turun hingga 13,1 kali laba 12 bulan ke depan.

Analis Jefferies menilai kekhawatiran itu membuat Schneider bisa membeli PTC pada valuasi terendah dalam satu dekade, tetapi kekhawatiran yang sama berpotensi terus membebani saham Schneider. Murah, dengan kata lain, ada sebabnya.

Beban pembiayaan menambah tekanan. Schneider berencana menerbitkan utang hingga €17 miliar (sekitar Rp342 triliun) dan saham baru hingga €6 miliar (sekitar Rp120,7 triliun), yang berarti dilusi bagi pemegang saham lama.

Pembelian kembali saham dihentikan pada 2027 dan 2028, lalu dipercepat agar program senilai €2,5 miliar-€3,5 miliar (Rp50,3 triliun-Rp70,4 triliun) tuntas akhir 2030.

Sebagai imbalan, Schneider menjanjikan penghematan biaya €250 juta (Rp5 triliun) per tahun mulai tahun ketiga setelah transaksi rampung, ditambah sekitar €800 juta (Rp16,1 triliun) pendapatan baru. Hitungan kasarnya, penghematan itu hanya sekitar 1,2 persen dari nilai transaksi. Untuk menutup preminya saja dari penghematan biaya, dibutuhkan sekitar 24 tahun.Manajemen kedua perusahaan tetap optimistis. CEO Schneider Electric Olivier Blum menyebut akuisisi ini langkah penting menuju era kecerdasan energi dan industri, sekaligus menciptakan ”kekuatan perangkat lunak dan AI paling lengkap di industri”.

CEO PTC Neil Barua mengatakan, perusahaannya memperoleh skala dan sumber daya untuk mempercepat inovasi serta memperluas pasar ke lebih banyak wilayah.

PTC memiliki lebih dari 7.000 karyawan dan melayani lebih dari 30.000 pelanggan. Sekitar separuh pendapatannya pada tahun fiskal 2025 berasal dari kawasan Amerika.

Transaksi ditargetkan rampung kuartal III-2027, setelah mendapat persetujuan mayoritas pemegang saham PTC dan regulator.

Artinya, hampir dua tahun ada ketidakpastian. Dan ini buruk bagi investor. Sekarang mereka bertanya, apakah Schneider membayar terlalu mahal untuk masa depan yang belum pasti. Jawabannya sudah ditemukan, di hari pertama saham langsung jeblok.

Topik Menarik