Produk Audio Palsu Kian Marak, Harman Hapus 500.000 Tautan Produk JBL Ilegal

Produk Audio Palsu Kian Marak, Harman Hapus 500.000 Tautan Produk JBL Ilegal

Teknologi | sindonews | Jum'at, 25 September 2026 - 16:06
share

Harman International, induk usaha merek audio JBL, memperketat pemberantasan produk palsu di kawasan Asia Pasifik. Sepanjang 2025, perusahaan itu memfasilitasi penghapusan lebih dari 500.000 tautan produk ilegal di sejumlah lokapasar digital utama.

Dari jumlah tersebut, sekitar 300.000 tautan teridentifikasi menjual barang palsu. Sisanya melanggar hak kekayaan intelektual (HAKI) milik Harman. Penghapusan dilakukan bersama platform niaga elektronik, otoritas kepabeanan, dan aparat penegak hukum.

Upaya itu berlanjut pada 2026. Dalam enam bulan pertama tahun ini, sejumlah operasi penegakan hukum menyita produk palsu dalam jumlah signifikan di beberapa pasar utama. Di Korea Selatan, aparat setempat menyita pengeras suara JBL Flip 6 palsu. Dalam operasi terpisah, unit JBL Charge 6 palsu juga disita.

Di Thailand, otoritas bea cukai menghentikan peredaran produk yang dipasarkan dengan nama fiktif "JBL Max 33". Operasi lain di negara itu menyita unit palsu JBL Go 4, JBL Clip, dan headphone seri JBL Tune.

General Manager and Vice President Consumer AudioHarman Asia Pacific Grace Koh mengatakan, menjaga reputasi merek kian krusial saat JBL memasuki usia ke-80. "Produk palsu tidak hanya melanggar Hak Kekayaan Intelektual kami, tetapi juga merusak pengalaman yang diharapkan konsumen dari JBL," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (25/9/2026).Menurut Grace, Harman akan terus bekerja sama dengan otoritas bea cukai, penegak hukum, dan platform niaga elektronik di Asia Pasifik untuk memutus jaringan produk palsu.

Selain penindakan, Harman meluncurkan kampanye edukasi antibarang palsu di media sosial tingkat regional. Kampanye ini memaparkan risiko produk tiruan, pentingnya membeli melalui distributor resmi, serta cara memverifikasi keaslian produk.

Risiko keselamatan

Produk palsu kerap memakai komponen bermutu rendah dan melewatkan proses kendali mutu. Akibatnya, performa dan keandalan menurun, bahkan berpotensi membahayakan keselamatan pengguna.

Konsumen diimbau membeli produk JBL hanya di peritel resmi dan toko daring resmi. Harga yang terlampau murah serta penjual yang tidak terverifikasi patut diwaspadai sebagai indikasi barang palsu.

Grace menambahkan, produk asli juga terhubung dengan ekosistem aplikasi resmi JBL. Melalui aplikasi itu, pengguna dapat mengatur ekualiser (EQ), memakai fitur stereo pairing dan Playtime Boost, serta mengakses berbagai optimasi perangkat. "Pengalaman seperti ini tidak dapat direplikasi dengan baik oleh produk tiruan," katanya.

JBL didirikan James B. Lansing pada 1946. Selama delapan dekade, teknologi audionya dipakai di studio rekaman, bioskop, konser musik, aksesori otomotif, hingga jutaan perangkat konsumen, serta meraih penghargaan Academy dan Grammy.

Topik Menarik