Fenomena Anak Krakatau Ini Tak Bisa Disepelekan, Taruhannya Nyawa

Fenomena Anak Krakatau Ini Tak Bisa Disepelekan, Taruhannya Nyawa

Teknologi | sindonews | Minggu, 6 September 2026 - 13:32
share

Ahli geologi memperingatkan Gunung Anak Krakatau masih sangat berbahaya karena memiliki potensi longsoran tubuh gunung bawah laut yang dapat memicu tsunami mendadak serta aktivitas erupsi eksplosif yang tinggi.

Data satelit dan rekaman helikopter yang diambil pada 23 Desember 2018 lalu mengonfirmasi bahwa bagian sektor barat daya dari gunung api tersebut telah ambruk ke laut.

Dalamsebuah laporan 29 Desember, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan bahwa tinggi Anak Krakatau turun dari 338 meter di atas permukaan laut ke 110 meter.

Suatu simulasi peristiwa gunung berapi menunjukkan potensi gelombang 15 meter atau lebih secara lokal (merah) yang berasal dari situs Anak Krakatau.Giachetti et al. (2012)

Meski sebagian besar tsunami memiliki asal-usul seismik (misalnya,tsunami di Aceh pada 2004dan tsunami di Tohuku Jepangpada 2011), mereka juga dapat dipicu oleh fenomena yang terkait dengan letusan gunung berapi besar.

Tsunami yang disebabkan gunung berapi dapat dipicu oleh ledakan bawah laut atau oleh aliran piroklastik yang besar—campuran panas gas vulkanik, abu dan balok yang bergerak dengan kecepatan puluhan kilometer per jam–jika mereka masuk ke dalam badan air. Penyebab lainnya adalah ketika sebuah kawah besar terbentuk karena runtuhnya atap kamar magma–sebuah reservoir besar batuan panas di bawah permukaan bumi–setelah letusan.

Di Anak Krakatau, massa besar yang meluncur dengan cepat yang menghantam air menyebabkan tsunami. Jenis peristiwa ini biasanya sulit diprediksi karena sebagian besar massa yang meluncur berada di bawah permukaan air.

Tanah longsor vulkanik ini dapat menyebabkan tsunami besar. Tsunami yang dipicu oleh tanah longsor mirip dengan apa yang terjadi di Anak Krakatau yang terjadi pada Desember 2002 ketika 17 juta meter kubik (600 juta kaki kubik) material vulkanik dari gunung apiStromboli, di Italia, memicu gelombang setinggi 8 meter.

Baru-baru ini pada Juni 2017, gelombang setinggi 100 meter dipicu oleh tanah longsor45 juta meter kubikdiKarrat Fjorddi Greenland menyebabkan naiknya gelombang air laut secara cepat yang mendatangkan malapetaka dan menewaskan empat orang di desa nelayan Nuugaatsiaq yang terletak sekitar 20 km dari lokasi keruntuhan.

Gambar satelit diambil pada 20 Agustus (kiri) dan 24 Desember (kanan) yang menunjukkan perubahan topografi Anak Krakatau (dalam lingkaran merah) sebelum dan sesudah letusan.Geospatial Information Authority of Japan,CC BY-NC-NDKedua tsunami ini memiliki sedikit kematian korban karena terjadi di lokasi yang relatif terisolasi (Karrat Fjord) atau selama periode tanpa aktivitas wisata (Stromboli). Ini jelas tidak terjadi di Anak Krakatau pada 22 Desember.

Bagian dunia ini berpengalaman dengan gunung berapi yang merusak. Pada 26-28 Agustus 1883,gunung api Krakataumengalami salah satu letusan gunung berapi terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah manusia, menghasilkan 15 meter (50 kaki) gelombang tsunami dan menyebabkan lebih dari 35.000 korban tewas di sepanjang pantai Selat Sunda di Indonesia.

Hampir 45 tahun setelah letusan dahsyat pada 1883 ini, Anak Krakatau muncul dari laut di lokasi yang sama dengan bekas Krakatau, dan tumbuh mencapai sekitar 338 meter (1.108 kaki), ketinggian maksimumnya pada Desember 22, 2018.

.

Topik Menarik