Narwhal Gantikan Peran Ilmuwan Temukan Fenomena Aneh di Bawah Greenland
Narwhal Gantikan Peran Ilmuwan Temukan Fenomena Aneh di Bawah Greenland
ALASKA - Enam narwhal yang dilengkapi sensor menyelam hingga kedalaman lebih dari 1.500 meter, mengumpulkan data di fjord Greenland yang jarang diakses oleh kapal penelitian.
Para ilmuwandari Universitas Kopenhagen, Institut Sumber Daya Alam Greenland, dan organisasi lainnya telah memasang sensor pada enam narwhal yang hidup di fjord Scoresby Sound di Greenland timur.
Perangkat yang dipasang pada hewan-hewan tersebut adalah sensor CTD, yang dapat mengukur konduktivitas listrik air untuk menentukan salinitas, suhu, dan kedalaman. Narwhal kemudian melanjutkan kehidupan normal mereka, berenang dan menyelam, tanpa sengaja membawa peralatan ilmiah ke tempat-tempat yang sulit dijangkau manusia.
Sensor-sensor tersebut dibiarkan menempel di tubuh mereka selama kurang lebih 85-332 hari, mengumpulkan total 2.060 catatan pengukuran kedalaman. Beberapa pengukuran dilakukan pada kedalaman lebih dari 1.500 meter.Yang luar biasa adalah narwhal dapat berenang jauh ke dalam teluk sempit yang tertutup es dengan medan yang kompleks, tempat kapal penelitian jarang berani masuk.
Menurut Profesor Mads Peter Heide-Jørgensen dari Institut Sumber Daya Alam Greenland, hewan-hewan tersebut telah menyebar ke daerah hingga 300 km dari pantai, di mana sebelumnya hampir tidak ada data yang tercatat.
Ini adalah penemuan penting karena air di sistem fjord di sebelah timur Greenland terdiri dari dua komponen yang sangat berbeda: lapisan air yang sangat dingin dari Arktik dan lapisan air Atlantik yang lebih hangat dan lebih asin yang terletak di bawahnya.
Tim tersebut menggabungkan data yang dikumpulkan oleh narwhal dengan lebih dari 2.200 pengukuran historis dalamWorldOcean Database, kemudian membangun model perubahan suhu, salinitas, dan kedalaman di area tersebut.
PUBG MOBILE Kolaborasi dengan Spider-Man: Brand New Day, Hadirkan Konten dan Item Eksklusif
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lapisan air hangat Atlantik menebal, sementara lapisan air yang sangat dingin di atasnya menipis. Yang menarik, air hangat tersebut mampu menembus ratusan kilometer ke dalam sistem fjord dan mencapai cekungan dalam tepat di depan gletser."Ini adalah jenis air yang berkontribusi pada pencairan gletser," kata Profesor Mads Peter Heide-Jørgensen. Hasil baru ini membantu menunjukkan bagaimana air Atlantik yang hangat dapat mempercepat laju hilangnya es.
Profesor Susanne Ditlevsen (Universitas Kopenhagen) berpendapat bahwa data dari narwhal mengisi celah besar pada peta oseanografi. Tempat-tempat di mana kapal penelitian harus berbalik karena es atau akses yang sangat sulit justru merupakan tempat-tempat di mana hewan-hewan ini sering berenang.
Informasi ini juga dapat dimasukkan ke dalam model iklim untuk memprediksi pencairan es di Greenland dengan lebih akurat.
