Israel Gunakan Senjata Laser saat Membunuh Prajurit TNI di Lebanon

Israel Gunakan Senjata Laser saat Membunuh Prajurit TNI di Lebanon

Teknologi | sindonews | Kamis, 9 April 2026 - 08:39
share

Di tengah meningkatnya konflik, pasukan PBB di Lebanon menuduh Israel menghancurkan 17 kamera pengawasan dan menyebabkan kerusakan signifikan pada markas besar dan personel pasukan penjaga perdamaian.

Seorang pejabat keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada hari Sabtu menuduh bahwa pasukan Israel menghancurkan 17 kamera pengawasan yang terhubung ke markas pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon selatan dalam waktu 24 jam.

Sejak perang antara Israel dan Hizbullah dimulai pada 2 Maret, Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) terjebak di tengah baku tembak di selatan negara itu, ketika Hizbullah melancarkan serangan terhadap Israel dan pasukannya, sementara pasukan Israel maju ke kota-kota perbatasan.

Pejabat yang tidak disebutkan namanya itu mengatakan bahwa "17 kamera di markas besar dihancurkan oleh tentara Israel" di kota pesisir Naqura.

Juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, mengatakan bahwa "kamera-kamera tersebut tampaknya telah dihancurkan oleh sejenis sinar laser."Ibu Kandice menambahkan bahwa tentara Israel hadir di Naqura dan telah melakukan penghancuran bangunan skala besar di desa tersebut sepanjang minggu ini. Penghancuran ini tidak hanya menghancurkan rumah dan bisnis warga, tetapi kekuatan ledakan juga merusak markas UNIFIL.

Tiga personel pasukan penjaga perdamaian Indonesia yang bertugas di bawah naungan pasukan PBB tewas dalam dua insiden terpisah pekan lalu.

Israel melancarkan serangan udara yang menewaskan tiga tentara penjaga perdamaian Filipina.

Pada hari Jumat, UNIFIL juga melaporkan sebuah "ledakan" di salah satu pangkalan mereka dekat Odaisseh di Lebanon selatan, yang melukai tiga orang, dan menambahkan bahwa mereka "belum mengetahui penyebab ledakan tersebut." Militer Israel segera membantah bertanggung jawab, menuduh Hizbullah menembakkan "roket yang mengenai pos terdepan UNIFIL."

Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jakarta mengatakan pada hari Sabtu bahwa para korban luka adalah warga negara Indonesia.Indonesia mengutuk insiden tersebut sebagai "tidak dapat diterima," dan menambahkan bahwa "peristiwa ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk memperkuat perlindungan pasukan penjaga perdamaian PBB dalam konteks konflik yang semakin berbahaya."

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, 97 anggota pasukan ini telah tewas dalam kekerasan sejak pembentukannya pada tahun 1978 untuk mengawasi penarikan Israel setelah invasi mereka ke Lebanon.

UNIFIL mengadakan upacara pemakaman untuk para prajurit yang tewas akibat serangan Israel.

Topik Menarik