Ambisi Gila Mark Zuckerberg: Meta Bersiap Pecat 15.000 Karyawan Demi Danai AI Rp2.295 Triliun

Ambisi Gila Mark Zuckerberg: Meta Bersiap Pecat 15.000 Karyawan Demi Danai AI Rp2.295 Triliun

Teknologi | sindonews | Selasa, 31 Maret 2026 - 15:42
share

Mark Zuckerberg kembali membuktikan bahwa di Sillicon Valley, mesin dan algoritma jauh lebih berharga daripada manusia. Demi memuaskan dahaga obsesi terhadap infrastruktur Kecerdasan Buatan (AI), Meta dilaporkan tengah merancang gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) sapu bersih yang akan mengorbankan 20 persen atau lebih dari total stafnya, mengancam nasib sedikitnya 15.000 pekerja.

Langkah ini membongkar logika kelam pasar teknologi di 2026. Efisiensi tenaga kerja sejatinya hanyalah tameng untuk menutupi pembengkakan biaya pengembangan AI yang tak terkendali.

Tahun ini saja, Meta diproyeksikan membakar dana hingga USD135 miliar (Rp2.295 triliun) hanya untuk pengeluaran terkait AI.

Kegilaan ini memuncak pada rencana pembangunan pusat data AI raksasa senilai USD600 miliar (Rp10.200 triliun) yang ditargetkan rampung pada 2028.

Untuk menambal lubang biaya maha besar ini, manusia harus disingkirkan. Ironisnya, Wall Street menari di atas penderitaan ini; saham Meta langsung melonjak hampir 3 persen saat perdagangan dibuka pada hari Senin merespons rumor PHK tersebut.Tsunami pemecatan ini mengukuhkan rekam jejak kelam perusahaan. Meta sebelumnya telah membuang 11.000 pekerja pada 2022 dan memangkas 10.000 posisi tambahan di masa yang disebut Zuckerberg sebagai "tahun efisiensi" pada awal 2023. Juru bicara Meta, Andy Stone, berusaha meredam kepanikan dengan berkilah bahwa kabar ini hanyalah "pelaporan spekulatif tentang pendekatan teoretis."

Namun, fakta di lapangan berbicara sebaliknya. Awal tahun ini, Zuckerberg secara terbuka memuja efisiensi AI dengan sesumbar bahwa proyek yang dulunya membutuhkan tim besar kini bisa diselesaikan oleh "satu orang yang sangat berbakat."

Paradoksnya, demi mengejar talenta tunggal ini, Zuckerberg sempat menyodorkan tawaran gaji tak masuk akal menembus USD1 miliar (Rp17 triliun) kepada seorang ahli AI papan atas, tawaran absurd yang pada akhirnya ditolak.

Di tengah ancaman merumahkan karyawannya sendiri, Meta justru foya-foya berbelanja perusahaan lain. Bukti bahwa mereka tidak kekurangan dana terlihat jelas minggu lalu saat Meta mengakuisisi Moltbook, situs mirip Reddit yang digerakkan bot AI, serta mencaplok startup AI asal China, Manus, dengan nilai fantastis antara 2 hingga USD3 miliar (Rp34 triliun - Rp51 triliun).

Meta tidak sendirian. Lanskap 2026 dipenuhi oleh "kiamat pekerja" di mana perusahaan seperti xAI milik Elon Musk, Atlassian, dan Amazon memangkas ribuan posisi hanya di bulan ini. Pendiri Twitter dan CEO Block, Jack Dorsey, bahkan memecat hampir separuh stafnya dengan dalih "alat kecerdasan buatan" telah menciptakan cara kerja baru.

Tragedi terbesarnya, pengorbanan belasan ribu manusia ini tidak sebanding dengan kualitas produk AI Meta. Model Llama 4 mereka gagal memukau pasar. Parahnya lagi, peluncuran model andalan terbaru bersandi Avocado terpaksa ditunda karena performanya masih kalah telak dibandingkan pesaing seperti Google, OpenAI, dan Anthropic.

Juru bicara Meta, Dave Arnold, hanya bisa berjanji normatif bahwa model berikutnya akan "menunjukkan lintasan cepat," dan mereka akan "mendorong batas selama tahun ini" agar publik bisa segera melihat apa yang sedang mereka racik.

Di balik layar, kepemimpinan Zuckerberg juga goyah. Kepala AI Meta, Alexandr Wang, dilaporkan merasa tercekik oleh gaya manajemen mikro sang CEO. Meskipun Zuckerberg mencoba menepis isu keretakan ini lewat unggahan swafoto mereka yang tersenyum canggung minggu lalu, pasar tahu persis: ada keputusasaan yang sedang ditutupi di balik senyum tersebut.

Topik Menarik