Bukan Solusi, AI Disebut Bencana! Sanders: Musk dan Ellison Hanya Ingin Perkaya Diri Sendiri
Gelombang revolusi Kecerdasan Buatan (AI) yang digadang-gadang sebagai tonggak peradaban modern justru dipandang sebagai ancaman eksistensial bagi umat manusia oleh Senator independen Amerika Serikat, Bernie Sanders. Dengan nada berang dari mimbar Senat pada Selasa lalu, Sanders melontarkan tudingan tajam bahwa booming AI saat ini tak lebih dari sekadar konspirasi para "Oligarki Big Tech" untuk menghisap darah kelas pekerja demi melipatgandakan kekayaan mereka yang sudah tak masuk akal.
Melalui unggahan di platform X yang menyertakan pidato lengkapnya, Sanders secara spesifik menyebut empat nama besar di Silicon Valley sebagai dalang utama. "Siapa yang mendorong AI? Musk. Bezos. Zuckerberg. Ellison. Apa yang mereka inginkan bukanlah apa yang dibutuhkan keluarga pekerja," ketik Sanders dengan tegas.
Kritik Sanders bukan isapan jempol belaka. Raksasa teknologi ini memang tengah membakar investasi gila-gilaan, bukan untuk mengentaskan kemiskinan, melainkan untuk efisiensi ekstrem. Sanders membeberkan fakta mengerikan: Jeff Bezos, sang pendiri Amazon, dilaporkan tengah berupaya menggalang dana sebesar USD100 miliar—atau setara dengan Rp1.700 triliun—secara global. Tujuannya? Secara spesifik untuk mengotomatisasi pabrik dan menggantikan tenaga kerja manusia dengan robot. "Para oligarki menginginkan segalanya. (Itu) Tidak akan terjadi. Berdirilah dan LAWAN BALIK," seru Sanders menanggapi laporan Bezos tersebut.
Sanders juga menyoroti peringatan dari Elon Musk yang menyatakan bahwa AI dan robot pada akhirnya berpotensi menggantikan seluruh pekerjaan manusia. Di sisi lain, ia juga mengecam visi bos Oracle, Larry Ellison, yang mendambakan sistem pengawasan AI yang bekerja konstan setiap saat, sebuah konsep yang dinilai Sanders sangat merusak privasi.
Kepanikan Sanders tidak berhenti pada retorika politik. Berdasarkan laporan staf minoritas Komite HELP Senat yang dirilis Oktober 2025 lalu, ia telah merancang agenda perlawanan yang konkret. Sanders menuntut penerapan sistem 32 jam kerja per minggu tanpa adanya pemotongan gaji, pelarangan keras terhadap aksi pembelian kembali saham perusahaan (stock buybacks), dan mendesak agar seluruh keuntungan finansial yang dihasilkan dari efisiensi AI harus mengalir ke kantong pekerja, bukan para eksekutif dan pemegang saham. Lebih jauh, ia bahkan menyerukan moratorium atau penghentian sementara pembangunan pusat data (data center) AI baru yang dinilainya menyedot sumber daya publik secara semena-mena.
Dari kacamata makro, proyeksi masa depan akibat dominasi AI ini memang suram. Sanders memperingatkan bahwa AI berpotensi memusnahkan hampir 100 juta pekerjaan di Amerika Serikat dalam satu dekade ke depan. Tak hanya menghancurkan mata pencaharian, AI juga dituding akan memperparah penyebaran misinformasi politik melalui deepfake, merusak kesehatan mental anak-anak, membuat jaringan listrik kolaps akibat rakusnya konsumsi energi pusat data raksasa, dan pada skenario terburuk, menimbulkan risiko kepunahan jika sistem kecerdasan super ini lepas dari kendali manusia. Di tengah ancaman di depan mata ini, Sanders menantang Kongres AS untuk segera bertindak membatasi kekuasaan para miliarder tersebut.



