Richard Putra, Lulusan SMP yang Sukses Bangun Bisnis Digital Marketing Al hingga Beli Ferrari

Richard Putra, Lulusan SMP yang Sukses Bangun Bisnis Digital Marketing Al hingga Beli Ferrari

Teknologi | sindonews | Selasa, 3 Februari 2026 - 19:19
share

Keterbatasan pendidikan formal tidak menghentikan langkah Richard Putra dalam membangun bisnis digital. Lulusan SMP ini kini dikenal sebagai entrepreneur digital yang mengintegrasikan Artificial Intelligence (Al) dalam skala bisnisnya.

Perjalanan bisnis Richard dimulai sejak usia 15 tahun. Latar belakang ekonomi keluarga yang terbatas mendorongnya untuk mencari penghasilan sendiri sejak dini melalui bisnis online. "Dulu saya benar-benar mulai dari nol. Saya tidak punya kendaraan, ke sekolah naik angkutan umum, dan harus bantu ekonomi keluarga. Dari situ saya sadar satu-satunya jalan keluar adalah belajar jualan dan marketing digital," ujar Richard Putra.

Pada usia 16 tahun, Richard berhasil meraih penghasilan Rp100 juta pertamanya dari bisnis online. Prestasi ini menjadi titik balik yang mengubah arah hidupnya. Tidak berhenti di situ, Richard terus mengembangkan skill digital marketing dan sistem distribusi digital. Di usia 19 tahun, ia berhasil mencatatkan penghasilan Rp1 miliar pertamanya, menandai fase scale-up bisnis yang lebih serius. "Di umur 19 tahun saya sadar, bisnis itu bukan soal kerja keras saja, tapi soal sistem. Kalau sistemnya benar, scale itu cuma masalah waktu," katanya.

Menjelang usia 30 tahun, Richard telah mendirikan belasan perusahaan dan brand di berbagai sektor digital. Saat ini, ekosistem bisnis yang ia bangun telah mempekerjakan lebih dari 200 karyawan, dengan fokus pada digital marketing, e-commerce, edukasi, dan teknologi.

Dari masa sekolah tanpa kendaraan pribadi, kini Richard berhasil memiliki mobil impiannya sejak kecil, termasuk kendaraan sport mewah yang menjadi simbol transformasi hidupnya. "Buat saya, Ferrari itu bukan soal gaya hidup. Itu simbol bahwa anak SMP pun bisa membangun bisnis global kalau mau belajar dan disiplin," ungkap Richard.

Salah satu fase penting dalam perjalanan bisnis Richard adalah saat perusahaannya mulai mengintegrasikan teknologi Artificial Intelligence (Al) dalam operasional bisnis, terutama untuk analisis data, optimasi iklan digital, dan otomasi marketing. "Al mempercepat semuanya. Dulu keputusan bisnis bisa butuh berminggu-minggu, sekarang bisa dalam hitungan jam. Al bukan masa depan, tapi alat wajib kalau mau bisnis scale," jelasnya.

Melihat potensi besar Al dalam dunia bisnis, Richard mendirikan Akademi Master Online Al, sebuah institusi edukasi yang fokus pada pengembangan skill Al Digital Marketing untuk entrepreneur Indonesia. Akademi ini menargetkan untuk mendukung lebih dari 1 juta pengusaha Indonesia agar mampu go digital dan memanfaatkan Al dalam operasional bisnis mereka.

"Visi saya sederhana: kalau UMKM dan entrepreneur Indonesia pakai Al, kita bisa bersaing secara global. Akademi ini saya bangun supaya Al tidak cuma dipakai perusahaan besar, tapi juga pengusaha kecil," ujar Richard.

Richard juga baru meluncurkan dua buku terbaru berjudul Master Secrets TikTok GMV Max dan Master Secrets Meta CPAS Shopee Ads. Seluruh keuntungan penjualan buku tersebut disalurkan untuk kegiatan sosial, khususnya panti asuhan dan anak yatim piatu. Hingga saat ini, total donasi yang telah disalurkan tercatat lebih dari Rp300 juta. "Ilmu bisnis itu harus berdampak. Kalau cuma bikin kaya diri sendiri, itu biasa. Tapi kalau bisa bantu orang lain, itu baru meaningful," katanya.

Perjalanan Richard Putra menjadi contoh bahwa keterbatasan pendidikan formal dan ekonomi bukan penghalang untuk membangun bisnis digital berskala besar. Dengan pemanfaatan teknologi, sistem digital marketing, dan Al, Richard kini membangun ekosistem edukasi dan bisnis yang berdampak nasional.

"Kunci saya cuma tiga: belajar cepat, eksekusi brutal, dan pakai teknologi sebagai leverage. Indonesia punya potensi entrepreneur digital terbesar di Asia Tenggara, tinggal kita siap atau tidak," tutup Richard.

Topik Menarik