China Lancarkan 2,63 Juta Serangan Siber per Hari ke Taiwan pada 2025
JAKARTA – Serangan siber China terhadap infrastruktur utama Taiwan, mulai dari rumah sakit hingga bank, meningkat 6 pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya menjadi rata-rata 2,63 juta serangan per hari, kata Biro Keamanan Nasional pulau itu. Badan tersebut menambahkan bahwa beberapa serangan disinkronkan dengan latihan militer dalam “ancaman hibrida” untuk melumpuhkan pulau tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, Taiwan telah mengeluhkan apa yang dianggapnya sebagai “perang hibrida” China – mulai dari latihan militer harian di dekat pulau tersebut hingga kampanye disinformasi dan serangan siber – seiring dengan meningkatnya tekanan militer dan politik Beijing terhadap pulau yang diperintah secara demokratis itu untuk memaksa Taipei menerima klaim kedaulatannya.
Jumlah rata-rata serangan harian pada 2025 melonjak 113 dari 2023 ketika biro tersebut pertama kali mulai menerbitkan data, dengan sektor-sektor seperti energi, penyelamatan darurat, dan rumah sakit mengalami peningkatan tahunan yang paling tajam, menurut laporan Biro Keamanan Nasional pada Minggu (4/1/2026).
“Tren seperti itu menunjukkan upaya yang disengaja oleh China untuk membahayakan infrastruktur penting Taiwan secara komprehensif dan untuk mengganggu atau melumpuhkan fungsi pemerintahan dan sosial Taiwan,” kata laporan itu, sebagaimana dilansir Reuters.
Biro tersebut mengatakan bahwa “tentara siber” China mengatur waktu operasinya agar bertepatan dengan paksaan militer dan politik. Sebagai contoh, China melancarkan 40 “patroli kesiapan tempur gabungan” dengan mengirimkan pesawat dan kapal militer mendekati Taiwan, dan serangan siber meningkat pada 23 kesempatan tersebut.
China juga meningkatkan aktivitas peretasan selama momen-momen yang sensitif secara politik, seperti ketika Presiden Lai Ching-te menandai tahun pertama masa jabatannya dengan pidato pada Mei dan ketika Wakil Presiden Hsiao Bi-khim berbicara dalam pertemuan dengan anggota parlemen di Parlemen Eropa pada November.
“Langkah-langkah China selaras dengan kebutuhan strategisnya untuk menggunakan ancaman hibrida terhadap Taiwan baik selama masa damai maupun perang,” kata laporan itu.
Kantor Urusan Taiwan China tidak menanggapi permintaan komentar.
China secara rutin membantah terlibat dalam serangan peretasan.
Beijing mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya sendiri dan tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk membawa pulau itu di bawah kendalinya. Taipei sangat keberatan dengan klaim kedaulatan China dan mengatakan hanya rakyat Taiwan yang dapat menentukan masa depan mereka.
Laporan Taiwan mengatakan serangan China termasuk serangan distributed denial-of-service (DDoS) yang dirancang untuk mengganggu kehidupan sehari-hari Taiwan serta serangan man-in-the-middle untuk mencuri informasi dan menembus jaringan telekomunikasi pulau itu.
Taman sains yang menjadi pusat industri semikonduktor Taiwan — rumah bagi perusahaan-perusahaan seperti TSMC — juga menjadi target utama, dengan para penyerang menggunakan berbagai teknik untuk mencuri teknologi canggih.
Langkah tersebut merupakan “upaya untuk mendukung kemandirian Tiongkok dalam pengembangan teknologi dan ekonomi serta mencegah Tiongkok berada dalam posisi yang kurang menguntungkan dalam persaingan teknologi Amerika Serikat–China,” demikian laporan tersebut.

