Loading...
Loading…
Klaim Akun Polsek Srandakan Diretas

Klaim Akun Polsek Srandakan Diretas

Powered by BuddyKu
Teknologi | RadarJogja | Senin, 03 Oktober 2022 - 02:59

JOGJA Akun resmi Twitter Polsek Srandakan, Bantul, dinilai meresahkan Minggu (2/10). Akun itu melontarkan tulisan kontroversial, mengomentari peristiwa kericuhan pertandingan sepak bola antara Arema FC VS Persebaya di Stadion Kanjuran, Malang.

Komentar tersebut dinilai memberikan citra buruk Polri. Di lain sisi, juga mentautkan ( tagline ) akun Twitter Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Maruf Amin pada kolom komentar yang diunggah pukul 03.43.

Kapolsek Srandakan Kompol Sudarsono membenarkan, akun tersebut resmi milik Polsek Srandakan. Tetapi dia menegaskan, komentar itu bukan ditulis oleh pemegang akun, yakni Kasi Humas Polsek Srandakan Aiptu Didik. Melainkan diduga terjadi peretasan mengatasnamakan akun Polsek Srandakan.

Dia mengaku secara pribadi terkejut dengan pernyataan tersebut. Pihaknya telah memanggil yang bersangkutan untuk dimintai keterangan. Dan saat dihubungi kemarin sore, anggotanya telah memenuhi panggilan Unit Profesi dan Pengamanan (Propam) Polres Bantul. Ya, baru saja selesai, terang Sudarsono saat dihubungi Radar Jogja kemarin (2/9).

Dari konfirmasi, lanjutnya, yang bersangkutan tidak merasa mengomentari, mengeluarkan pernyataan kontraversil tersebut. Oleh karena itu, pemeriksaan oleh Unit Propram untuk menguji kebenaran apakah betul yang bersangkutan mengeluarkan pernyataan atau tidak.

Menurutnya, ini kali pertama diduga akun diretas. Pemegang akun disebutkan hanya ada satu orang. Terkait dugaan peretasan ini, pihaknya bekerjasama dengan polres melakukan penyelidikan, siapa peretas akun itu. Seandainya terjadi benar, ini masuk peristiwa pidana, katanya.

Berdasarkan pantauan Radar Jogja sekitar pukul 17.00 cuitan itu sudah dihapus. Hal ini merugikan institusi Polri. Untuk memulihkan kepercayaan masyarakat, pihaknya semakin intensif membanjiri akun dengan mengisi kegiatan positif. Sesuai tugas pokok dan fungsi kepolisian sebagai pelindung dan penegak hukum. Juga open dengan kegiatan sosial membantu masyarakat, katanya.

Dia pun meminta maaf atas komentar meresahkan akibat dugaan peretasan akun itu. Dia menekankan agar anggotanya bijak menggunakan media sosial. Mengedepankan etika dan perilaku baik sebagai anggota Polri. Agar tidak mengeluarkan pernyataan yang tidak pas, baik di medsos maupun tatanan kehidupan.

Terpisah, Kadiv Humas Jogja Police Watch (JPW) Baharuddin Kamba mengecam keras komentar salah satu admin diduga Polsek Srandakan di Twitter. Dalam komentar itu tertulis Modyar kemudian salut sama pak tentara, musnahkan dan gek do belani opo koe ki.

Tentu tulisan tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut, apa benar admin Polsek Srandakan atau bukan. Tetapi jika benar admin dari Polsek Srandakan, sangatlah tidak terpuji, kata Kamba.

Komentar itu dinilai tak senonoh. Tak layak dilontarkan kepada publik. Sebab, tragedi kemanusiaan ini tak hanya klub Arema FC yang berduka, tetapi juga seluruh rakyat Indonesia. Karena mengakibatkan ratusan orang meninggal.

JPW berharap pelaku (admin Polsek Srandakan) sekali lagi jika benar, segera diperiksa oleh Propam Polda DIJ agar diberikan sanksi etik profesi Polri. Jika akun benar diretas, harus dibuktikan dengan audit forensik. Polda DIJ yang punya alat untuk menelusuri itu, yang meretas berapa nomor IP-nya, ujarnya.

Jika terbukti bersalah, menurut Kamba, perlu diberikan sanksi pemberhentian dengan tidak hormat (PDTH). Agar memberikan efek jera bagi pelaku dan anggota polisi lainnya. Karena hal ini berbanding terbalik dengan slogan yang diusung Polri. Yakni Presisi, kependekan dari prediktif, responsibilitas, transparansi berkeadilan. (mel/inu/laz)

Original Source

Topik Menarik

{
{