Instagram Guyur Kreator Rp8,9 Miliar Buat Bikin Video Panjang, YouTube Ketar-ketir?

Instagram Guyur Kreator Rp8,9 Miliar Buat Bikin Video Panjang, YouTube Ketar-ketir?

Teknologi | sindonews | Selasa, 3 November 2026 - 20:32
share

Instagram menawarkan hingga USD500.000 (sekitar Rp8,95 miliar) kepada kreator untuk video panjang, siasat yang pernah gagal lewat IGTV. Mampukah uang di muka mengalahkan bagi hasil YouTube?

Instagram menyiapkan bayaran hingga USD500.000 (sekitar Rp8,95 miliar) bagi kreator yang mau mengunggah video panjang. Sebagian kreator ditawari USD50.000 (sekitar Rp895 juta), sementara yang lain mendapat kontrak enam digit dolar Amerika Serikat.

Tawaran itu mengiringi uji coba Features, fitur baru Instagram yang diumumkan pekan lalu dan memungkinkan pengunggahan video hingga 90 menit. Pembayaran tersebut berupa dana sekali cair kepada nama-nama besar, bukan skema bagi hasil.

Juru bicara Meta tidak membenarkan maupun membantah angka itu. Ia hanya menyebut perusahaan mendanai konten Features secara langsung bersama sejumlah kreator.

Bos Instagram Adam Mosseri mengakui, faktor ekonomi sangat menentukan. Timnya sedang menjajaki sejumlah opsi agar kreator video panjang dapat dibayar. ”Faktor ekonomi sangat berpengaruh,” tulis Mosseri di Threads, Kamis (29/10/2026).Jejak IGTV

Siasat serupa pernah dicoba dan tidak membuahkan hasil. Pada 2021, Meta menjanjikan USD1 miliar (sekitar Rp17,9 triliun) bagi kreator sepanjang 2022, termasuk pembayaran khusus bagi pembuat konten IGTV yang mengizinkan iklan di videonya.

Namun, minat mengunggah video panjang tak kunjung naik. Awal 2022, Meta sudah bergerak menutup aplikasi IGTV yang terpisah.

Platform lain menempuh jalan serupa. Tahun ini, X menawarkan hadiah USD175.000 (sekitar Rp3,13 miliar) bagi pengguna yang membuat versi film ”The Odyssey” dengan Grok. Promosi semacam itu lazimnya memicu lonjakan unggahan, tetapi jarang melahirkan kenaikan berkelanjutan dalam produksi maupun konsumsi video.

Jurang PendapatanPadahal, tolok ukur pendapatan di YouTube jauh berbeda. Analisis VidIQ menunjukkan, skema bagi hasil iklan YouTube umumnya membayar kreator antara USD1 dan USD10 per 1.000 tayangan video panjang. Dalam rupiah, kisarannya sekitar Rp17.900 hingga Rp179.000. Sebagai pembanding, monetisasi Instagram yang hanya mengandalkan tayangan ”nyaris nol” tanpa kerja sama dengan merek.

Kesenjangan itu tampak pada kantong kreator papan atas. Kreator dengan lebih dari satu juta pelanggan di tiap aplikasi rata-rata meraup sekitar USD50.000 (sekitar Rp895 juta) per bulan di YouTube. Di Instagram, rata-ratanya hanya USD5.000 hingga USD15.000. Dalam rupiah, kisarannya sekitar Rp89,5 juta hingga Rp268,5 juta.

Di sisi lain, pembayaran di muka memang bisa melahirkan lonjakan unggahan sesaat, sementara Features baru memasuki tahap uji coba. Meta pun masih membuka peluang skema lain bagi kreator video panjang.

Terlepas dari besarnya cek yang disodorkan, ada satu masalah yang belum teratasi, yakni belum adanya sistem bagi hasil yang berkelanjutan di Instagram.

Topik Menarik