Trump Salahkan Demokrat dan Ukraina atas Lonjakan Harga BBM, Bukan Perang Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berupaya mengalihkan perhatian atas lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri dari perang AS-Israel dengan Iran kepada Partai Demokrat dan serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia. Pernyataan tersebut disampaikan Trump menjelang pemilihan umum sela (midterm) AS yang berpotensi menentukan keseimbangan kekuatan politik di Washington.
"Yang mendorong kenaikan harga bensin sekarang bukan lagi Selat Hormuz, karena rekor jumlah barel kini keluar hampir setiap hari, melainkan kata ‘kilang’, ketika kilang-kilang Rusia dihancurkan Ukraina dan kilang-kilang kita ditutup di negara bagian biru seperti California oleh Demokrat," kata Trump melalui unggahan di Truth Social dikutip dari Al Jazeera, Rabu (7/10/2026).
Baca Juga:Cadangan Minyak Iran Habis Bulan Ini, Mata Uang Ambles Parah: 1 Dolar AS Setara 2,5 Juta Rial
Trump menyebut penutupan kilang domestik sebagai salah satu penyebab kenaikan harga BBM. Namun, arus ekspor minyak melalui Selat Hormuz justru anjlok 97 sejak perang dimulai, sehingga menekan pasokan minyak global dan menjadi salah satu faktor utama yang mendorong harga energi.
Harga bensin yang dibayar konsumen AS juga terus meningkat. Menurut American Automobile Association (AAA), harga rata-rata bensin mencapai USD4,36 per galon atau sekitar 3,79 liter, naik dari USD4,14 sebulan sebelumnya dan USD2,98 pada 28 Februari, ketika AS dan Israel pertama kali menyerang Iran."Konflik yang sedang berlangsung dengan Iran dan perang Rusia dengan Ukraina saling memperkuat dampaknya terhadap pasar produk minyak, sementara arus minyak dari Timur Tengah masih jauh dari normal," kata Rachel Ziemba, senior adjunct fellow di Center for a New American Security.
Tekanan terhadap pasar energi global mendorong negara-negara G7 pada Jumat menyepakati pelepasan 100 juta barel minyak mentah dan diesel dari cadangan darurat. Di sisi lain, cadangan minyak strategis AS kini berada pada level terendah sejak 1982, membatasi ruang pemerintah untuk meredam gejolak pasokan.
Baca Juga:Trump Ungkap Perang Iran akan Berakhir dengan Cara yang Baik atau Cara yang Tak Begitu Baik
Serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia turut memperburuk pasokan, terutama diesel. Kementerian Pertahanan Ukraina pada Minggu mengklaim telah menonaktifkan lebih dari separuh kapasitas pengolahan minyak Rusia, sementara analisis Badan Energi Internasional (IEA) menunjukkan kapasitas pengolahan minyak Rusia pada Juni mencapai titik terendah dalam dua dekade dan produksi diesel turun 30 dalam 18 bulan terakhir.
Trump juga menyoroti penutupan dua kilang di California dalam setahun terakhir yang memangkas kapasitas pengolahan minyak negara bagian tersebut 17, menurut S&P Global. Namun, upaya Trump mengalihkan kesalahan terjadi menjelang pemilu sela, ketika survei AP-NORC menunjukkan 65 warga AS menyalahkan kebijakan Trump atas kenaikan harga dan 61 menilai kondisi ekonomi AS lebih buruk dibandingkan ketika Trump kembali menjabat.










