Ahli Vulkanologi ITS Ingatkan Pentingnya Pahami Status Gunung Api dan Mitigasinya
Tingginya aktivitas vulkanik di sejumlah wilayah Indonesia membuat upaya mitigasi dan edukasi masyarakat kembali menjadi sorotan. Ahli Geologi ITS M Haris Miftakhul Fajar menekankan pentingnya masyarakat mengikuti data pemantauan dan status aktivitas gunung api untuk meningkatkan kewaspadaan serta menentukan langkah mitigasi yang tepat.
Kepala Departemen Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)ini menerangkan, empat tingkatan status aktivitas gunung api ini dapat menjadi acuan bagi masyarakat hingga pemerintah dalam menentukan langkah pengamanan. “Status gunung api normal, waspada, siaga, hingga awas menjadi acuan mitigasi, bukan sekadar penanda akan terjadi letusan,” terang Haris, melalui siaran pers, Selasa (8/9/2026).
Baca juga: 4 Gunung Meletus Bersamaan dengan Anak Krakatau, Ilmuwan Minta Waspadai Hal Ini
Pemerintah melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) selaku unit Badan Geologi Kementerian ESDM telah menyediakan sistem informasi terpadu melalui platform MAGMA Indonesia. Platform digital ini menyajikan laporan aktivitas seluruh gunung api di Indonesia termutakhir yang diperbarui secara berkala.
Ia juga mengingatkan kepada masyarakat jangan mudah percaya dengan kabar bohong (hoaks) dan juga diimbau untuk bisa menyaring informasi dengan benar. “Saat ini sering beredar ramalan tidak berdasar di media sosial, padahal secara ilmiah tidak ada teknologi yang mampu memprediksi hari dan jam pasti terjadinya erupsi,” tegasnya.
Lebih lanjut, pada status Waspada dan Siaga, masyarakat dapat menjaga pembatasan aktivitas pada zona tertentu. Pembatasan tersebut bertujuan untuk mengurangi risiko lontaran material vulkanik yang dapat terjadi mengikuti karakter erupsi.
Baca juga: Erupsi selama 25 Jam, Potensi Letusan Susulan Anak Krakatau Belum Berakhir
“Maka, saat gunung api berstatus Waspada dan Siaga, masyarakat harus mematuhi rekomendasi resmi terkait kawasan rawan bencana,” saran Haris.
Material mikro tajam tersebut dinilai sangat berbahaya bagi saluran pernapasan manusia, serta menggores kaca jika terjadi gesekan pada permukaan. Selain itu, sebaran abu juga dapat mengurangi jarak pandang hingga berpotensi mengganggu mesin pesawat yang membahayakan penerbangan. Bahaya ini bukan sekadar potensi. Pada 24 Juni 1982, pesawat British Airways Penerbangan 9 menembus awan abu Gunung Galunggung di ketinggian 37.000 kaki. Abu yang masuk mesin meleleh lalu mengeras menyumbat turbin, membuat keempat mesin mati total.
Pesawat sempat melayang tanpa tenaga sebelum akhirnya mendarat darurat dengan selamat di Halim Perdanakusuma. Insiden inilah yang mendorong dibentuknya Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC).
Haris mendorong sinergi dan kolaborasi lintas sektor pemerintahan sebagai sebuah keharusan. Koordinasi ini melibatkan peran PVMBG selaku pemantau aktivitas gunung api, BMKG untuk analisis arah angin dan cuaca, serta Kementerian Perhubungan untuk pengaturan jalur penerbangan demi memprioritaskan keselamatan publik.
Untuk jangka panjang, Haris menganjurkan pemerintah serta instansi terkait untuk memperkuat edukasi kebencanaan sebelum aktivitas meningkat. Ia berpendapat bahwa langkah edukasi dan sosialisasi membantu masyarakat memahami risiko tanpa menimbulkan kepanikan.
Mitigasi juga perlu dilakukan melalui pemetaan risiko, penyiapan jalur evakuasi, serta penguatan komunikasi kebencanaan. “Budaya mitigasi harus dibangun melalui pemahaman terhadap proses alam dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Haris.
Menurutnya, pemahaman tersebut membuat masyarakat lebih siap menghadapi aktivitas gunung api. Kesiapsiagaan juga membantu mengurangi dampak ketika erupsi terjadi. Dengan demikian, aktivitas vulkanik dapat dihadapi melalui kewaspadaan, kepatuhan terhadap rekomendasi, dan pemanfaatan informasi ilmiah.




