Harga Minyak Dunia Mendidih dalam Sepekan, Solar Tembus Rekor Tertinggi
Harga minyak mentah dunia menguat pada akhir perdagangan Jumat dan membukukan kenaikan signifikan sepanjang sepekan setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terlibat dalam pertukaran serangan militer. Kenaikan harga minyak yang disertai lonjakan harga bahan bakar, terutama diesel, meningkatkan tekanan inflasi dan biaya pinjaman pemerintah di berbagai negara serta memunculkan kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi global.
“Semua sektor perekonomian terdampak oleh diesel. Ini menjadi salah satu alasan mengapa imbal hasil obligasi pemerintah AS begitu tinggi, karena ada ekspektasi bahwa inflasi akan terus meningkat,” kata Kepala Ekonom Rystad Energy Claudio Galimberti dikutip dari Reuters, Sabtu (5/9/2026).
Baca Juga:Tekan Ekonomi Iran, AS Klaim Telah Berkomplot dengan Uni Eropa
Pada perdagangan Jumat, harga minyak Brent berjangka ditutup naik 76 sen atau 0,8 menjadi USD92,68 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) berakhir naik 18 sen atau 0,20 menjadi USD91,48 per barel.
Harga BBM Pertamina Hari Ini 22 Agustus 2026 dari Pertalite hingga Pertamax, Ada yang Turun!
Lonjakan harga minyak tersebut terjadi setelah AS dan Iran kembali bertukar serangan pada bulan ketujuh konflik kedua negara. Pada saat yang sama, serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia turut meningkatkan gangguan pasokan, sementara harga rata-rata diesel di AS mencapai rekor USD5,85 per galon berdasarkan data American Automobile Association (AAA).
Ekonom Rystad Energy menilai tingginya harga bahan bakar dapat memperbesar tekanan inflasi dan imbal hasil surat utang pemerintah. Sementara itu, mitra Again Capital John Kilduff mengatakan data ketenagakerjaan AS yang kuat turut meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve dapat menaikkan suku bunga sehingga memberikan tekanan terhadap harga WTI.
Arus Tanker Hormuz Masih Terganggu
Meski pemerintah AS menyatakan arus minyak dari Timur Tengah telah kembali mendekati kondisi normal dalam beberapa pekan terakhir, analis dan pemantau lalu lintas kapal menilai distribusi masih mengalami gangguan serius. Data pelayaran awal menunjukkan hanya empat kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Kamis, jauh di bawah rata-rata sekitar 15 kapal dalam 10 hari terakhir. Kepala Ekonomi dan Riset Generasi Berikutnya Julius Baer Norbert Rucker mengatakan konflik yang berulang membuat premi risiko tetap tertanam dalam harga minyak.
“Sejauh ini, belum ada indikasi bahwa eskalasi pekan ini secara material berdampak pada ekspor dari Timur Tengah dan memperketat pasar minyak. Kenaikan harga minyak saat ini tampaknya lebih banyak didorong sentimen dan ketakutan,” ujarnya.Baca Juga:Vance Akui AS Hampir Tak Pernah Memenangkan Perang dalam 42 Tahun Terakhir
Serangan AS sepanjang pekan yang menewaskan dan melukai puluhan orang, termasuk warga sipil Iran, merupakan bentrokan paling sengit antara kedua negara sejak Juli. Di sisi lain, upaya AS untuk menekan perekonomian Iran dengan membatasi ekspor minyak dan menindak upaya penghindaran sanksi disebut semakin sulit dihadapi Teheran.
Sementara itu, Irak meningkatkan ekspor minyaknya pada Agustus menjadi sekitar 2,34 juta barel per hari dari sekitar 1,35 juta barel per hari pada Juli. Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat membantu menjaga pasokan minyak global di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.










