Serpong CBD Menapak Jadi Episentrum Baru Aktivitas Perkotaan di Jabodetabek

Serpong CBD Menapak Jadi Episentrum Baru Aktivitas Perkotaan di Jabodetabek

Berita Utama | sindonews | Jum'at, 31 Juli 2026 - 08:02
share

Wajah kawasan penyangga Jakarta terus berubah. Jika dulu Serpong lebih dikenal sebagai kawasan hunian di pinggiran ibu kota, maka kini wilayah di Tangerang Selatan (Tangsel) itu berkembang menjadi salah satu pusat aktivitas perkotaan baru di Jabodetabek.

Pertumbuhan hunian, sekolah, pusat perbelanjaan, ruang publik, fasilitas olahraga, hingga kawasan kuliner membuat denyut kehidupan di Serpong berlangsung sejak pagi hingga malam. Perubahan ini ikut menggeser cara pelaku usaha menentukan lokasi bisnis.

Baca juga: 7 Siswa MAN IC Serpong Raih Skor UTBK 2026 di Atas 1000, Tembus UI, ITB, dan ITS

Kini, keramaian kendaraan di jalan utama bukan lagi satu-satunya pertimbangan. Yang lebih dicari adalah kawasan dengan aktivitas warga yang terus bergerak dan mampu menghadirkan pengunjung secara berkelanjutan.

Head of Research Services Colliers Indonesia Ferry Salanto mengatakan, perubahan perilaku masyarakat telah mengubah wajah kawasan komersial di kota-kota besar.

“Mal-mal ini semakin berperan sebagai pusat gaya hidup, dengan kurasi penyewa yang kuat, penyelenggaraan acara, serta ruang sosial yang tidak dapat tergantikan oleh platform online,” ujar Ferry saat memaparkan Quarterly Property Market Report Kuartal I 2026, dikutip Jumat (31/6/2026).

Baca juga: 129 Sampul Paspor Bekas Jemaah Haji Ditemukan Tercecer di Serpong, Imigrasi: Dokumen Lama

Menurut Ferry, pusat komersial saat ini tidak lagi sekadar menjadi tempat bertransaksi. Kawasan yang mampu menghadirkan pengalaman, ruang interaksi, dan aktivitas komunitas justru memiliki daya tarik yang lebih besar bagi masyarakat.

Fenomena tersebut terlihat di Serpong yang berkembang sebagai kawasan mixed-use. Dalam satu kawasan, masyarakat dapat tinggal, bekerja, bersekolah, berolahraga, menikmati hiburan, hingga bersantai di ruang terbuka tanpa harus berpindah jauh.Model seperti itu dinilai menciptakan traffic yang lebih berkualitas karena pengunjung datang dengan berbagai tujuan, bukan hanya untuk berbelanja.

Data Colliers menunjukkan aktivitas penyewaan ruang ritel premium di Jakarta masih bergerak positif meski tingkat kekosongan pusat perbelanjaan mencapai 4,2 persen pada kuartal pertama 2026. Di saat yang sama, sejumlah merek internasional tetap berekspansi ke Indonesia.

Pelaku usaha kini lebih selektif memilih kawasan yang memiliki ekosistem matang dibanding sekadar berada di koridor jalan dengan lalu lintas kendaraan tinggi. “Kondisi ini membuat peritel menyesuaikan strategi, mulai dari ukuran gerai hingga pemilihan lokasi yang dinilai memiliki traffic berkualitas,” kata Ferry.

Perubahan tersebut tercermin di kawasan Serpong CBD, yang dikembangkan sebagai kawasan terpadu dengan menggabungkan fungsi hunian, pendidikan, komersial, ruang terbuka, hingga fasilitas rekreasi.

Saat ini kawasan tersebut dihuni lebih dari 12.000 keluarga dan memiliki sekitar 2.000 unit rumah toko (ruko). Aktivitas masyarakat didukung oleh keberadaan pusat perbelanjaan, area kuliner, taman kota, hingga ruang komunitas yang membuat kawasan tetap hidup sepanjang hari.Di koridor yang sama, pengembang menyiapkan The Hood, kawasan komersial berkonsep lakeside retail neighborhood seluas sekitar 10 hektare. Kawasan yang dijadwalkan beroperasi pada Desember 2026 itu akan menghadirkan lebih dari 50 tenant, mulai dari restoran, pusat kebugaran, lapangan padel, bioskop, gedung pertunjukan, supermarket, fasilitas wellness, hingga toko buku.

Konsep tersebut dirancang agar aktivitas kawasan tidak hanya ramai saat akhir pekan atau jam makan siang, tetapi terus berlangsung melalui kegiatan olahraga, pendidikan, hiburan, dan aktivitas keluarga.

Executive Director Summarecon Serpong Albert Luhur mengatakan, pelaku usaha kini tidak lagi hanya melihat lokasi dari sisi aksesibilitas. “Mereka juga mempertimbangkan aktivitas yang sudah terbentuk di dalam kawasan. Semakin beragam aktivitas yang terjadi setiap hari, semakin besar peluang sebuah usaha untuk berkembang,” ujarnya.

Di kawasan seperti Serpong, kekuatan sebuah kota justru lahir dari ekosistem yang mampu menghubungkan hunian, pendidikan, ruang publik, dan pusat komersial dalam satu lingkungan yang hidup sepanjang hari.

Topik Menarik