Rubel Jadi Mata Uang Terkuat di Dunia, Sanksi Barat ke Rusia Tak Mempan

Rubel Jadi Mata Uang Terkuat di Dunia, Sanksi Barat ke Rusia Tak Mempan

Berita Utama | sindonews | Selasa, 26 Mei 2026 - 10:21
share

Rusia kembali membuat dunia tercengang, lantaran mata uang rubel berdiri kokoh di tengah rentetan sanksi ekonomi bertubi-tubi dari negara-negara Barat. Ketika sanksi dan biaya perang di Ukraina terus membengkak, mata uang Rusia justru menunjukkan performa terbaik di dunia terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pada kuartal kedua 2026.

Laporan terbaru dari Bloomberg mengungkapkan, bahwa rubel telah melesat tajam sekitar 12 sejak awal April, merangkak naik ke level 72,6 per Dolar AS. Ini merupakan posisi terkuat rubel sejak Februari 2023, sekaligus mematahkan prediksi para analis Barat yang berulang kali meramalkan bahwa mata uang Rusia akan segera runtuh.

Mengapa mata uang rubel justru semakin perkasa di saat Rusia dikepung sanksi? Jawabannya ada pada berkah terselubung (blessing in disguise) dari konflik di Timur Tengah. Baca Juga: Daftar Mata Uang Terlemah di Dunia April 2026 Versi Forbes Advisor, Rupiah Nomor Berapa?

Perang AS-Israel melawan Iran telah melumpuhkan jalur pelayaran Selat Hormuz, memicu kelangkaan energi global dan lonjakan harga minyak dunia. Demi meredam inflasi gila-gilaan di dalam negerinya sendiri, Washington terpaksa mengeluarkan kebijakan pelonggaran sanksi (waiver) khusus untuk minyak Rusia agar pasokan global tetap terjaga.

Pelonggaran ini menjadi keran emas bagi Kremlin, dimana Rusia mendapatkan rezeki nomplok dari ekspor. Penjualan mata uang asing bersih oleh eksportir terbesar Rusia melonjak tiga kali lipat menjadi USD7,3 miliar pada April berkat meroketnya harga minyak mentah Rusia jenis Urals.

Dedolarisasi juga semakin nyata, ketika hampir 60 aktivitas impor Rusia kini diselesaikan menggunakan mata uang rubel, bukan lagi Dolar AS atau Euro. Baca Juga: Ekonomi Rusia Menyusut tapi Rakyatnya Makin Kaya, Moskow Kebal Sanksi Barat?

Modal tertahan di dalam negeri juga menjadi penopang penguatan mata uang. Kebijakan suku bunga domestik yang tinggi membuat warga dan korporasi Rusia enggan memburu Dolar AS. Dana segar kini berputar dan menumpuk di dalam sistem finansial Rusia sendiri, alih-alih dilarikan ke luar negeri (capital outflow).

Dilema Mata Uang Terlalu Perkasa: Bikin Menteri dan Bos Bank Pusing

Secara psikologis, mata uang yang menguat tajam biasanya disambut bahagia. Namun di Rusia, fenomena ini justru melahirkan kecemasan baru di kalangan elite pemerintahan. Menteri Ekonomi Rusia, Maksim Reshetnikov mengakui bahwa rubel saat ini bergerak "lebih kuat daripada yang diinginkan oleh banyak pihak." Mengapa demikian?

Rusia adalah negara berbasis ekspor komoditas. Ketika rubel terlalu kuat, nilai konversi pendapatan dari penjualan minyak internasional ke dalam kas APBN Rusia justru menyusut.

Kondisi ini juga membuat eksportir non-migas menjerit. Wakil Perdana Menteri Pertama, Denis Manturov memperingatkan, bahwa penguatan rubel yang terlalu ekstrem mulai memukul daya saing produk-produk ekspor non-energi Rusia di pasar internasional.

Meskipun demikian, CEO Sberbank (bank terbesar di Rusia), Herman Gref menilai bahwa level 72 rubel per Dolar AS ini adalah titik keseimbangan baru (equilibrium) yang mencerminkan realitas model ekonomi Rusia saat ini.

Topik Menarik