Jangan Cuma Cek Suhu Saat Anak Demam, Segera Bawa ke Dokter Jika Ada Gejala Berikut
Demam menjadi salah satu penyakit yang tidak jarang bisa dirasakan oleh seorang anak. Hal utama yang biasanya diselidiki dan disoroti orang tua adalah suhu badan anak, namun ternyata ada berbagai hal yang patut diperhatikan dari sekedar suhu tubuh anak saat demam.
Dokter spesialis anak sekaligus influencer kesehatan anak, dr. Lucky Yogasatria dalam unggahan video di akun Instagramnya mengatakan, orang tua terkadang panik dan overthinking saat anak demam. Banyak dari para orang tua yang menginginkan suhu tubuh anak turins secara cepat agar demam cepat hilang.
Baca juga: Rekor! Angka Kematian DBD di Indonesia Turun ke 0,4 Persen, Target Nol Kematian 2030 Kian Nyata
“Saya tahu anak demam begitu termometer menunjukkan 38,5, 39,5, 40, kepala Ibu langsung ramai. Harus turun sekarang, nanti kejang atau enggak, ini bahaya atau enggak? Sini-sini, dengerin dulu biar parenting-nya enggak over tinggi,” kata dr. Lucky, dikutip Minggu (24/5/2026).
Ia menyebut, suhu tubuh yang tinggi saat anak demam bukan menjadi indikator utama penyakit yang dirasakan. Namun demam bisa menjadi indikator respon tubuh anak terhadap sesuatu penyakit seperti infeksi virus dan lain sebagainya. “Sebenarnya demam itu adalah alarm tubuh. Tanda bahwa tubuh itu sedang merespon sesuatu. Bisa kena infeksi virus, bisa kena batuk pilek, radang tenggorokan, HFMD, DBD, ISK, atau penyebab lainnya,” ucap dia.
Baca juga: Kasus Dengue Tembus 161 Ribu, Kemenkes Sebut DBD Masih Jadi Momok di Indonesia dan ASEAN
dr. Lucky menjelaskan bahwa saat anak demam bukan alarm tubuh atau suhu badan yang diutamakan untuk turun. Namun apa penyebab dari demam itu yang harus diselidiki oleh para orang tua. Maka dari itu, pemberian obat demam juga seharusnya diberikan ketika anak mengalami demam dengan kondisi lainnya seperti tidak nyaman, rewel, susah makan dan minum atau nafas yang terasa sesak.
“Obat demam itu diberikan terutama kalau anaknya tidak nyaman, rewel sekali, nyeri, sulit istirahat atau jadi sulit minum. Nah, kalau demamnya membuat anak tetap bisa minum, masih responsif, nafasnya nyaman dan tidak tanda bahaya lainnya, kita bisa lebih tenang sambil observasi,” jelas dr. Lucky.
Lebih lanjut, ia menyarankan agar orang tua bisa mengobservasi apa penyebab dari demam yang dialami anak. Hal itu bisa dilihat dari beberapa gejala dan kondisi yang dirasakan anak. Berbagai gejala itu bisa menjadi indikator apakah kita perlu membawa anak kita untuk berobat kepada dokter atau hanya cukup dengan obat saja. Beberapa gejala yang perlu diperhatikan di antaranya seperti lemas, sulit bangun, sesak, muntah, susah makan dan minum, air seni yang berkurang, kejang serta pendarahan.
“Tapi kalau demamnya disertai dengan anak sangat lemas, sulit dibangunkan, sesak, muntah berulang, tidak mau minum, pipisnya sangat berkurang, kejang, pendarahan atau tampak memburuk, itu bukan alarm biasa yang ditunggu,” tutur dia.
Saat anak mengalami berbagai gejala di atas, alangkah baiknya orang tua langsung memeriksakan kondisi anaknya ke dokter. Hal tersebut dilakukan guna mengetahui apa sebenarnya yang menjadi penyebab demam pada anak.
Sebab, demam hanyalah indikator atau alarm alami tubuh saat merespon sebuah sesuatu. Sehingga, perlu ada pemeriksaan lebih lanjut jika berbagai gejala di atas mulai dirasakan anak saat demam.
“Itu perlu diperiksa. Jadi, saat anak demam jangan cuma bertanya suhunya berapa, tanya juga anaknya bagaimana,” pungkas dia.










