Ukraina Terancam Bangkrut, UE Kembali Suntik Rp27,36 Triliun dari Bunga Aset Beku Rusia
Uni Eropa (UE) kembali memanfaatkan aset Rusia yang dibekukan untuk diberikan kepada Ukraina dalam bentuk paket bantuan finansial. Kali ini Komisi Eropa mengambil 1,4 miliar euro atau sekitar Rp27,36 triliun (dengan kurs Rp19.546 per USD) dari hasil keuntungan dari aset Rusia yang dibekukan.
Langkah ini memicu reaksi keras dari Moskow yang berulang kali menyebut penggunaan dana tersebut sebagai tindakan pencurian terang-terangan. Sejak perang Rusia vs Ukraina pecahpada 2022, negara-negara Barat telah membekukan aset kedaulatan Rusia senilai kurang lebih USD300 miliar. Mayoritas dana tersebut tersimpan di lembaga kliring Euroclear yang berbasis di Belgia.
Uni Eropa menggunakan celah hukum dengan menyatakan bahwa bunga atau pendapatan tahunan yang dihasilkan dari aset tersebut adalah 'keuntungan tidak terduga' (windfall profits). Menurut Brussel, bunga ini secara hukum tidak termasuk dalam aset kedaulatan yang dilarang untuk disita.
Baca Juga: Bak Rampasan Perang, Eropa Mau Bagi-bagi Aset Beku Rusia
Paket bantuan UE kepada Ukraina ini merupakan yang keempat kalinya yang menggunakan bunga dari dana Rusia yang dibekukan. Paket sebelumnya disalurkan pada Agustus 2025.
Bukannya dialokasikan langsung untuk pembangunan, paket bantuan periode April 2026 ini memiliki misi khusus. Berdasarkan pernyataan resmi Komisi Eropa, 95 dari hasil bunga akan disalurkan melalui Ukraine Loan Cooperation Mechanism (ULCM). Dana tersebut akan digunakan Kiev untuk membayar kembali utang-utang pinjaman kepada Uni Eropa dan negara-negara anggota G7.
Baca Juga: Aset Beku Rusia Digerogoti Negara Eropa, Terbaru Rp1,6 T Mengalir ke Ukraina
Langkah ini diambil saat Ukraina menghadapi jurang kebangkrutan dengan proyeksi defisit anggaran mencapai USD53 miliar untuk periode 2025-2028. Laporan dari El Pais bahkan menyebutkan bahwa pemerintah Ukraina terancam kehabisan uang kas pada bulan ini jika tidak ada suntikan dana darurat.
Sementara itu seperti dilansir RT, Rusia tidak tinggal diam, dimana Kremlin telah memberikan peringatan keras bahwa mereka siap membalas dengan menyita aset-aset Barat senilai 200 miliar euro (sekitar Rp3.440 triliun) yang saat ini masih tertahan di Rusia.
Pada bulan Desember, Bank Sentral Rusia mengajukan gugatan terhadap Euroclear di pengadilan Moskow menuntut kompensasi sebesar USD232 miliar atas aset yang dibekukan dan kerugian laba. Selain itu regulator Rusia mengancam akan memperluas gugatan hukum mereka untuk menyasar bank-bank komersial Eropa lainnya yang ikut menahan dana mereka.








