Saat Timur Tengah Retak, Modal Mencari Rumah Baru
Perdana Wahyu SantosaProfesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, Direktur Riset GREAT Institute dan CEO SAN Scientific
Setiap perang besar selalu memindahkan sesuatu: kapal, harga, dan pada akhirnya modal. Selama dua dekade terakhir, Teluk menjual dirinya sebagai oasis stabilitas—tempat uang global merasa aman membangun bandara, hotel, pusat logistik, sampai data center. Kini narasi itu retak. Reuters melaporkan perang telah menutup sebagian besar ruang udara, mengacaukan logistik, menekan pariwisata, mengganggu bisnis ritel dan manufaktur, bahkan merusak infrastruktur digital seperti data center di kawasan Teluk.
Dalam laporan lain, Reuters mengutip Tourism Economics bahwa konflik ini dapat memangkas 23 sampai 38 juta kunjungan wisata ke kawasan dan menghapus US$34 miliar sampai US$56 miliar belanja wisata. Itu bukan sekadar jeda. Itu koreksi brutal atas premi “stabilitas” yang selama ini dinikmati kawasan tersebut.
Di titik itulah Asia Tenggara mulai tampak bukan hanya sebagai pasar, tetapi sebagai tempat berlindung. Bukan karena kawasan ini bebas risiko—itu mirip dongeng pengantar tidur—melainkan karena dibandingkan dengan kawasan perang, ia menawarkan kombinasi yang lebih waras: pertumbuhan, tenaga kerja, pasar domestik, dan jarak yang relatif dekat ke rantai pasok Asia. Indonesia punya alasan khusus untuk ikut disebut.
Kementerian Investasi mencatat realisasi FDI 2025 sebesar Rp900,9 triliun, naik tipis 0,1 persen, dengan pemulihan pada kuartal IV. Kenaikannya memang belum spektakuler, tetapi cukup untuk menunjukkan satu hal: di tengah dunia yang berisik, Indonesia belum kehilangan daya tariknya. Lebih menarik lagi, Indonesia tidak lagi hanya menjual tambang dan pasar konsumsi. Pemerintah sedang menyusun strategi AI nasional untuk menarik investasi asing di bidang kecerdasan buatan dan infrastruktur digital. Tercatat sovereign wealth fund INA memprioritaskan data center, layanan kesehatan, dan energi terbarukan, termasuk melalui platform hyperscale data center DayOne di Batam.
Jadi, ketika pusat-pusat digital di Teluk mulai dipandang lebih rentan akibat konflik, Indonesia sebenarnya sudah punya alasan untuk menawarkan diri sebagai alternatif—bukan pengganti total Dubai atau Riyadh, tentu saja, tetapi sebagai bagian dari peta baru penempatan modal digital Asia.
Namun, di sinilah kita harus menahan diri dari euforia murahan. Modal global tidak pindah hanya karena ada perang; ia pindah kalau menemukan tempat baru yang tidak kalah efisien dan lebih dapat dipercaya. Dan di sinilah pekerjaan rumah Indonesia masih menganga. Reuters baru-baru ini mengingatkan bahwa pasar Indonesia sempat diguncang aksi jual besar dan muncul ancaman penurunan klasifikasi pasar oleh MSCI karena kekhawatiran atas tata kelola dan transparansi.
Itu poin yang tidak boleh disapu ke bawah karpet merah investasi. Investor bisa memaafkan kekurangan infrastruktur. Mereka jauh lebih sulit memaafkan ketidakpastian aturan, tata kelola yang tambal-sulam, dan lembaga pengawas yang tampak sibuk setelah kejadian, bukan sebelum kejadian. Artinya, peluang dari krisis global ini nyata, tetapi tidak otomatis jatuh ke pangkuan.
Indonesia harus bergerak dengan logika yang tajam. Pertama, stabilitas makro harus tetap dijaga, sebab data center, manufaktur presisi, dan infrastruktur AI tidak suka kurs yang liar dan inflasi yang suka berulah. Di sini fondasi makro Indonesia masih relatif membantu: BI menyebut inflasi tetap dalam koridor sasaran dan cadangan devisa akhir Februari 2026 berada pada level 6,1 bulan impor. Kedua, kepastian pasokan listrik dan konektivitas data harus diperlakukan sebagai agenda investasi inti, bukan urusan sambilan. Ketiga, reformasi tata kelola pasar keuangan harus dipercepat, karena modal digital global datang membawa due diligence, bukan doa.
Ada satu ironi yang menarik. Krisis minyak memang bisa memperlambat ekonomi, menekan fiskal, dan membuat semua orang lebih murung. Tetapi justru dalam momen seperti itu kualitas strategi nasional diuji. Negara yang hanya sibuk memadamkan api akan kelelahan.
Negara yang mampu memadamkan api sambil menata ulang ruang tamunya akan menyambut tamu baru ketika debu perang turun. Indonesia punya modal untuk itu: pasar besar, posisi geostrategis, dorongan hilirisasi, agenda AI yang mulai dibentuk, dan sovereign fund yang sudah membaca arah angin. Yang belum selalu ada adalah konsistensi eksekusi. Nah, setan kecilnya memang di situ.
Dituding Pengkhianat oleh Roy Suryo Cs, Eggi Sudjana: Menyesatkan dan Pencemaran Nama Baik!
Jadi, dari perang ini Indonesia memang lebih dulu merasakan risikonya lewat minyak, kurs, dan logistik. Tetapi berhenti di sana adalah cara berpikir korban. Cara berpikir negara yang matang adalah ini: menahan pukulan jangka pendek, lalu merebut perpindahan modal jangka menengah.
Timur Tengah yang memanas sedang mengajari pasar satu pelajaran lama: uang selalu mencari pelabuhan yang lebih tenang. Pertanyaannya bukan apakah modal akan bergerak. Pertanyaannya: apakah Indonesia sudah cukup rapi untuk menjadi rumah, bukan sekadar tempat transit?










