Agil Sulthon Tak Menyangka Tembus 4 Besar CMI, Punya Trik Khusus Gaet Anak Muda
Peserta Cahaya Muda Indonesia asal Sarolangun, Agil Sulthon, mengaku tak menyangka bisa melangkah hingga babak empat besar dalam ajang Cahaya Muda Indonesia (CMI). Menjelang Grand Final, ia memilih fokus memperbaiki diri berdasarkan evaluasi dari para juri.
Ia mengatakan, setiap kritik yang diberikan juri pada babak eliminasi sebelumnya menjadi bahan evaluasi penting untuk tampil lebih baik.
Baca juga: 125 Mahasantri Cinta Quran Center Siap Jadi Dai di Tengah Masyarakat
“Alhamdulillah sekarang sudah empat besar. Tentu nggak nyangka dan deg-degan juga, karena ini satu langkah lagi menuju Grand Final,” ujar Sulthon.
“Saya mengamati masukan-masukan atau kritikan dari juri di eliminasi sebelumnya dan saya jadikan itu perbaikan untuk eliminasi kali ini,” tambahnya.Selama mengikuti kompetisi, Sulthon mengaku mengalami tantantan terbesar dari dua sisi yaitu peserta lain, dan dirinya sendiri. Menurut Sulthon, tiga peserta lainnya bagus dan sangat berkembang.
Namun dari sisinya pribadi, ia merasa masih belum improve lebih baik. Sehingga ia mengusahakan hal tersebut dalam penampilannya di Grand Final Cahaya Muda Indonesia kali ini.
“Tantangan terbesar tentu pertama dari tiga orang yang lain, mereka bagus dan sangat berkembang. Dan tantangan kedua ya dari diri saya sendiri yang masih belum improve lebih baik. Tapi saya usahakan itu membaik di malam ini,” jelasnya.
Menghadapi perkembangan zaman dan dakwah bagi anak muda, Sulthon sendiri menilai bahwa ajaran Islam pada dasarnya selalu sesuai lintas zaman. Namun ia menegaskan kunci dakwah pada anak muda terletak pada cara penyampaian.
“Semua materi Islam itu akan selalu relevan dari zaman ke zaman. Tinggal bagaimana kita mengemasnya dan memberi analogi yang relate dengan zamannya,” ujarnya.Sulthon pun punya trik sendiri yaitu dengan menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan anak muda masa kini agar pesannya dapat lebih mudah diterima. Ketika ditanya soal target juara, Sulthon menegaskan bahwa keikutsertaannya di CMI bukan semata soal gelar atau hadiah.
Baginya, proses belajar dan evaluasi adalah hal yang utama dalam kompetisi ini. Ia mengaku mengikuti lomba ini untuk memperbaiki proses dakwahnya.
“Saya ikut lomba ini untuk memperbaiki proses dakwah saya. Dari setiap eliminasi selalu ada masukan dan kritikan yang akhirnya saya sadar kekurangan saya di mana,” ungkapnya.










