Ulama dan Cendikiawan Iran yang Berjasa untuk Islam dan Dunia

Ulama dan Cendikiawan Iran yang Berjasa untuk Islam dan Dunia

Gaya Hidup | sindonews | Minggu, 8 Maret 2026 - 15:52
share

Bangsa Persia atau Iran sekarang kembali membuat dunia tercengang. Konflik perang Amerika-Israel dan Iranyang saat ini terjadi, membuat publik ingin mengetahui lebih banyak tentang bangsa Persia tersebut. Salah satunya tentang ilmu pengetahuan mereka yang ternyata sangat menakjubkan. Simak ulasannya berikut ini.

Sejak zaman Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, orang-orang Persia atau Iran ini dikenal 'berkualitas'. Banyak ulama besar dan tabi'interkemuka berasal dari bangsa Persia (non-Arab/Ajam), yang memainkan peran sentral dalam merumuskan ilmu-ilmu keislaman seperti hadis, fiqih, tafsir, dan tata bahasa Arab.

Selain itu, tokoh-tokoh dari kelompok sosial, bangsa Persia (Iran-red) yang berkiprah dalam perkembangan ilmu- ilmu agama, pengetahuan, dan sains. Tidak sedikit darinya memimpin sejumlah pusat keilmuan yang dibangun rezim Abbasiyah di seluruh negeri Islam.

Ulama dan Tabi'in Terkemuka yang Berasal dari Persia:

1. Salman al-Farisi (Sahabat): Sahabat Nabi Muhammad SAW yang berasal dari Persia dan berperan penting dalam perang Khandaq.2. Imam Abu Hanifah (Nu'man bin Tsabit): Pendiri Mazhab Hanafi, salah satu mazhab fiqih terbesar dalam Islam Sunni, berasal dari keturunan Persia (Kabul/Irak).3. Muhammad bin Sirin (Tabi'in): Seorang tabi'in terkemuka, ahli hadis, dan ahli tafsir mimpi yang berasal dari Persia.4. Hasan al-Bashri (Tabi'in): Ulama besar dan ahli hikmah yang lahir dari orang tua Persia di Basra.5. Amir bin Syurahbil al-Sya'bi (Tabi'in): Tabi'in besar ahli hadis dan aritmatika dari Kufa.6. Thawus bin Kaisan (Tabi'in): Ulama tabi'in ahli fiqih yang berasal dari Persia.7. Abu Yazid al-Busthami (Sufi): Sufi terkenal dari abad ketiga Hijriyah yang berasal dari Bustham, Persia.8. Imam Bukhari (Muhammad bin Ismail): Penghimpun hadis sahih (Shahih Bukhari), berasal dari Bukhara, Persia.9. Imam Abu Dawud: Ahli hadis yang berasal dari Sijistan (wilayah Persia).10. Rufai bin Mihraan (Tabi'in): Dikenal sebagai salah satu tabi'in yang berlatar belakang budak dari Persia, yang kemudian menjadi ahli hadis.

Baca juga:Keutamaan Bangsa Iran yang Dikisahkan dalam Al Quran, Kaum Muslim Wajib Tahu!Mayoritas ulama Persia pada masa klasik berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah sebelum wilayah tersebut beralih menjadi mayoritas Syiah pada abad ke-16 M.

Pengaruh Persia Zaman Dinasti Abbasiyah

Peran signifikan Bangsa Persia sangat terasa pada zaman keemasan Islam, yakni sejak era Abbasiyah hingga jatuhnya Baghdad ke tangan Mongol 1258 M.

Mereka mencapai banyak hal, baik dalam dunia ilmu agama maupun umum. Dengan ilmu-ilmu agama yang dikuasainya, tokoh-tokoh mawali ini tidak kalah hebat dari para alim ulama Arab.

Di antara nama-nama yang masyhur ialah Syekh Hasan al-Bashri (wafat 728 M), Ibnu Juraij (wafat 767 M), Imam Abu Hanifah (wafat 767 M), at- Thabari (wafat 923 M), Ibnu Katsir (wafat 1373 M), dan Imam al-Ghazali (wafat 1111). Sumbangsih mereka bagi peradaban Islam bahkan diakui luas hingga saat ini.

Dalam bidang ilmu bahasa, peran kaum Persia tidak bisa dipandang sebelah mata. Golongan ini melahirkan banyak pakar gramatika dan sastra, baik bahasa Persia maupun Arab. Beberapa yang termasyhur di antaranya ialah Sibawaihi dan al-Farra.

Sosok yang pertama itu bernama asli Amr bin Utsman al-Bashri. Cendekiawan yang mengajar di Basrah pada zaman Abbasiyah itu menulis lima jilid buku Al-Kitab. Isinya membahas seluk-beluk bahasa Arab.Sementara itu, al-Farra bernama asli Yahya bin Ziyad. Ia lahir di Iran utara, tepatnya daerah pegunungan Daylam. Sultan Harun al-Rasyid sangat menghormatinya karena keahliannya dalam penguasaan bahasa Arab murni.

Selain itu, ada pula Abu Hasan Ali bin Hamzah. Lelaki Persia yang akrab disapa al-Kisa'i ini merupakan salah satu tokoh mazhab Kuffah untuk studi bahasa Arab.

Di samping gramatika, kepakarannya juga meliputi ilmu membaca Alquran atau qira'at. Pada abad ke- 10, terdapat sosok Abu al-Faraj al-Ashfihani. Mawali Persia yang juga penulis Kitab al-Aghani (Buku Nyanyian) itu adalah seorang ahli sastra Arab- Persia. Ia juga berjasa dalam mengembangkan teori musik.

Besarnya peran para sarjana Persia di era Abbasiyah juga berarti eratnya persentuhan kultural antara Arab dan Persia. Bahkan, lebih dari itu. Yang terjadi ialah perjumpaan multikultural.

Sebab, Persia memiliki sejarah yang sangat panjang dalam mem pertemukan banyak budaya, baik dari kawasan daratan Asia maupun pesisir Mediterania Timur. Untuk bidang sastra, contoh terpenting dalam hal ini barang kali adalah Alf Laylah wa-Laylah alias Seribu Satu Malam atau The Arabian Nights.Kisah-kisah di dalamnya disusun sedemikian rupa sehingga menjadi cerita berbingkai. Karena mengagumi khazanah kesusastraan ini, sultan Abbasiyah memerintahkan sejumlah ilmuwan untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab.

Hasil terjemahan itu kemudian ditambahi pula dengan bumbu-bumbu cerita yang intinya mengapresiasi pemimpin Abbasiyah, utamanya Harun al-Rasyid sendiri. Bagaimanapun, porsi terbesar cerita berbingkai ini berasal dari hikayat Persia, Hezar Afsan (Seribu Kisah), yang juga mengadopsi banyak elemen budaya India.

Kontribusi Bidang Sains

Di bidang sains, kontribusi orang Persia sangatlah nyata. Nama-nama berikut ini adalah sebagian dari banyak contoh nyata kontribusi mereka.

1. Ilmu Kedokteran

Nama Muhammad bin Zakariya al-Razi dan Fakhruddin al-Razi sangat populer. Keduanya sama-sama berkebangsaan Persia walaupun berasal dari masa yang berbeda. Yang satu dari abad ke-10, sedangkan yang lain hidup pada abad ke-12 M.

Muhammad bin Zakaria menulis sebuah kitab fenomenal, Al-Hawi, yang menelaah dan mengkritik ilmu kedokteran pada masa Yunani Kuno. Hanya karena buku ini, orang-orang Eropa di abad pertengahan menggelarinya sebagai dokter terbesar pada masanya.

Adapun Fakruddin al- Razi tidak hanya berkiprah pada ilmu medis, tetapi juga sejarah, filsafat, dan fisika. Sang polymath merupakan yang mula-mula mengembangkan teori alam semesta majemuk (multiverse) dan menghubungkannya dengan petunjuk Alquran.

2. Ilmu Kedokteran Modern

Ibnu Sina (wafat 1037 M) adalah orang Persia. Para sarjana Eropa menyebut nya Avi cenna. Ia merupakan seorang cendekiawan genius yang merintis jalan bagi ilmu kedokteran modern. Karya monumentalnya, Al-Qanun fii al-Thibb, menjadi pegangan bagi kaum pembe lajar Eropa sejak abad pertengahan. Adapun karya lain darinya, Kitab asy-Syifaa, merupakan sebuah ensiklopedi tentang obat-obatan dan gejala-gejala penyakit.

3. Para Cendekiawan

Selain cendekiawan di bidang kedokteran, banyak nama orang Persia yang patut dikenang, antara lainJabir bin Hayyan (wafat 803 M), Nashir al-Din al-Thusi (wafat 1274 M), al-Biruni (wafat 1050 M), dan Umar Khayyam (wafat 1131 M).

Itulah sebagian cerdik cendekia Muslimin Persia pada masa kejayaan Islam. Status mereka sebagai Bangsa Persia sama sekali tidak mengurangi reputasinya di mata dunia.

Baca juga:Ustaz Abdul Somad : Umat Islam Harus Berdiri Tegak Bersama Negara yang Bela Palestina

Topik Menarik