Bos Anthropic Ingatkan Tsunami AI di 2026: Kekuasaan Absolut Menumpuk di Segelintir Orang

Bos Anthropic Ingatkan Tsunami AI di 2026: Kekuasaan Absolut Menumpuk di Segelintir Orang

Teknologi | sindonews | Jum'at, 27 Februari 2026 - 11:53
share

Sangat jarang seorang bos teknologi mengakui bahwa produk buatannya sendiri bisa membahayakan dunia. Namun, Dario Amodei, CEO Anthropic, justru melakukannya. Di tengah ledakan pasar kecerdasan buatan (AI) tahun 2026, ia merasa ketakutan melihat bagaimana kekuasaan dan kekayaan mendadak dikuasai oleh segelintir pihak saja.

Dalam siniar WTF Is, Amodei berbicara blak-blakan. "Ada ketidaksengajaan bagaimana beberapa orang akhirnya memimpin perusahaan yang tumbuh sangat cepat ini, dan tampaknya dalam waktu dekat, akan menggerakkan begitu banyak sektor ekonomi," ujarnya.

Di 2026 AI bukan lagi sekadar alat ketik pintar, melainkan mesin yang bisa menggantikan fungsi perusahaan. Awal bulan ini, Anthropic merilis Claude Cowork, sistem dengan plug-in khusus untuk industri penjualan dan keuangan. Lalu awal pekan ini mereka meluncurkan fitur tambahan untuk HRD dan perbankan investasi.

Dampaknya mengerikan di bursa saham: rilis ini memicu aksi jual saham perangkat lunak global senilai USD1 triliun (Rp 16.000 triliun).

Investor panik karena meyakini AI akan membuat layanan perangkat lunak (software) konvensional menjadi usang dan mati.Otomatisasi massal ini melahirkan ketimpangan ekonomi yang tajam. Rekor investasi AI menyumbang tambahan kekayaan sebesar USD550 miliar (Rp 8.800 triliun) bagi para miliarder teknologi AS di 2025 saja. Bahkan, pemegang saham Tesla tahun lalu menyetujui paket gaji senilai USD1 triliun (Rp 16.000 triliun) untuk sang CEO, Elon Musk.

Melihat fenomena ini, Amodei merasa resah. "Saya agak tidak nyaman dengan besarnya pemusatan kekuasaan yang terjadi di sini. Terjadi hampir dalam semalam, hampir karena kebetulan," tegasnya.

Januari lalu, ia merilis esai 20.000 kata berjudul The Adolescence of Technology. Sebagai bentuk tanggung jawab, Amodei bersama 6 pendiri Anthropic lainnya berjanji untuk menyumbangkan 80 persen kekayaannya demi mencegah kehancuran sosial akibat ketimpangan.

Bagi Amodei, AI layaknya bencana alam yang pasti datang. "Seolah-olah tsunami ini datang ke arah kita. Begitu dekat hingga terlihat di cakrawala," ucapnya. Sayangnya, banyak pihak masih menyangkal dengan berkata, "Itu bukan tsunami—hanya tipuan cahaya."

Ia menegaskan peringatannya ini murni demi kemanusiaan. "Memperingatkan risiko bukanlah kepentingan komersial kami. Mengatakan bahwa model yang kami bangun bisa berbahaya bukanlah strategi pemasaran yang efektif, dan bukan itu alasan kami melakukannya," pungkasnya.