Heboh War Takjil Tiap Ramadan, Dosen IPB Sebut yang Direbut Bukan Cuma Makanan

Heboh War Takjil Tiap Ramadan, Dosen IPB Sebut yang Direbut Bukan Cuma Makanan

Gaya Hidup | sindonews | Kamis, 19 Februari 2026 - 08:34
share

Setiap bulan Ramadan tiba, masyarakat Indonesia kerap disuguhkan dengan fenomena unik yang jarang ditemui pada bulan-bulan lainnya, yakni war takjil.

Sore hari menjelang waktu berbuka puasa, berbagai penjual makanan dan minuman bermunculan menawarkan aneka takjil. Di sepanjang jalan, pasar, hingga kawasan permukiman, beragam hidangan khas berbuka tersaji menarik.

Tak hanya pedagang musiman, banyak pula pelaku usaha baru yang memanfaatkan momentum Ramadan untuk mencoba peruntungan. Kondisi inilah yang kemudian melahirkan istilah “war takjil”, seolah-olah masyarakat tengah bersaing mendapatkan takjil favorit.

Baca juga: Masjid Istiqlal Sediakan Takjil untuk Ribuan Jemaah selama Bulan Suci Ramadan

Menariknya, keseruan war takjil tidak hanya dirasakan oleh umat muslim yang berpuasa. Tahun lalu kita menyaksikan fenomena menarik dimana masyarakat nonmuslim pun turut menikmati suasana berburu takjil, menjadikan fenomena ini sebagai bagian dari pengalaman sosial khas Ramadan.Dosen IPB University, Dr Tjahja Muhandri, yang sehari-hari aktif membina pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), menilai war takjil sebagai fenomena sosial yang unik dari berbagai aspek. Salah satunya adalah munculnya makanan dan minuman yang tergolong langka dan jarang dijumpai di hari biasa.

“Silakan dicek, akan banyak makanan atau minuman yang pada hari biasa tidak ada, tapi muncul saat Ramadan. Tersaji menarik, harganya murah. Maka rebutan akan makanan atau minuman takjil itu bisa jadi adalah rebutan ‘kenangan’,” ujarnya sambil bergurau.

Ia menjelaskan, awalnya takjil memang ditujukan bagi mereka yang akan berbuka puasa. Namun, seiring meningkatnya minat masyarakat, baik yang berpuasa maupun tidak, fenomena ini menunjukkan adanya tarikan pasar yang sangat kuat.

“Ketika konsumen sampai berebut beli, itu menandakan kebutuhan muncul dan pasar merespons dengan cepat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Dr Tjahja menyebut fenomena war takjil membawa dampak positif bagi UMKM. Produk yang dijajakan cenderung laku keras dan hampir tidak tersisa. Meski demikian, ia mengingatkan pelaku UMKM agar tetap kreatif dan mau mengikuti tren.“Asalkan UMKM mau ikut tren produk dan tidak monoton dengan produk yang kurang disukai konsumen,” katanya.

Dari sisi konsumen, war takjil justru memudahkan masyarakat dalam mencari variasi menu berbuka. Beragam pilihan hidangan membuat keluarga memiliki lebih banyak opsi sajian saat berbuka puasa.

Namun demikian, Dr Tjahja juga menekankan pentingnya aspek kebersihan dan keamanan pangan. Ia mengingatkan bahwa fenomena ini membuka peluang bagi siapa saja untuk berjualan, sehingga pengawasan terhadap kualitas dan kebersihan produk menjadi hal yang krusial.

“Para UMKM perlu menjaga kebersihan produk, wadah, penyajian, bahkan penjualnya. Gunakan perlengkapan standar, minimal masker dan sarung tangan bersih saat melayani konsumen,” ungkapnya.

Ia juga menyarankan pelaku usaha untuk mengikuti tren, tidak masalah meniru produk yang sedang viral, serta mencantumkan harga jual secara jelas agar konsumen merasa nyaman dan tidak khawatir akan ‘digetok harga’.

“Semua bisa jualan dan gelar lapak. Karena itu, aspek kebersihan sangat penting untuk mencegah risiko keracunan atau penyakit,” pungkasnya.

Topik Menarik