Guru Tewas Diserang KKB di Yahukimo, MPSI: Ini Kejahatan Kemanusiaan
Aksi biadab kembali dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau OPM Kodap XVI Yahukimo. Dalam aksinya, mereka membantai seorang guru bernama Frengki di lingkungan Sekolah Yakpesmi, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.
"Pembunuhan brutal terhadap guru sebagai tenaga pendidik yang dilakukan di ruang sekolah saat aktivitas belajar mengajar berlangsung merupakan kejahatan kemanusiaan dan tidak bisa dipandang sebagai tindak kriminal biasa", kata Direktur Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI), Noor Azhari, Senin (9/2/2026).
Menurut dia, guru dibunuh secara sadis di sekolah. Ini bukan sekadar gangguan keamanan belaka tapi sudah menyentuh pada persoalan kemanusiaan. "Kebrutalan KKB ini dengan membunuh seorang guru merupakan kejahatan kemanusiaan,” urai Noor.
Baca juga: 18 Kolonel AD Pecah Bintang Jadi Brigjen TNI usai Promosi Jabatan di Februari 2026, Ini Namanya
Peristiwa berdarah itu terjadi pada Senin, 2 Februari 2026, sekitar pukul 09.30 WIT. Korban Frengki (55) dikejar tiga pelaku bersenjata setelah terdengar bunyi tembakan dari arah belakang sekolah."Jika kita lihat dari video kejadian yang beredar luas, korban sempat berupaya menyelamatkan diri dengan masuk ke ruang guru, namun para pelaku memaksa masuk dan melakukan pemarangan hingga korban meninggal dunia di tempat," jelasnya.
Lihat video: Satgas Damai Cartenz Evakuasi Korban Penganiayaan di Yahukimo, Diduga Ulah Simpatisan KKB
Para pelaku bukan hanya membunuh guru saja. Setelah memastikan korban tewas, para pelaku melakukan perusakan terhadap kendaraan milik kepala sekolah serta memecahkan kaca ruang kelas Sekolah Yakpesmi Yahukimo dengan lemparan batu."Aksi biadab ini terjadi saat proses belajar mengajar masih berlangsung, sehingga guru-guru harus mengamankan para siswa dan memulangkan mereka lebih awal,” tegasnya.
Noor Azhari menilai tindakan tersebut menunjukkan pola kekerasan yang disengaja dengan menjadikan sekolah dan tenaga pendidik sebagai sasaran teror demi menunjukkan eksistensi kelompok bersenjata.
“Sekolah merupakan ruang sipil yang seharusnya dilindungi. Ketika guru dibunuh di ruang kelas, itu menandakan teror terhadap masa depan anak-anak Papua,” ujarnya.Dia mendesak Komnas HAM dan Kementerian Hak Asasi Manusia untuk segera turun langsung ke Yahukimo guna melakukan penyelidikan independen dan menyeluruh. “Kasus ini harus diusut sebagai pelanggaran HAM serius dan kejahatan kemanusiaan, bukan sekadar kejahatan biasa,” tegasnya.
Dia juga meminta pemerintah memperkuat perlindungan terhadap tenaga pendidik dan masyarakat sipil di wilayah rawan konflik Papua agar tragedi serupa tidak kembali terulang.
“Jika guru terus menjadi korban dan sekolah dijadikan medan teror, maka yang hancur bukan hanya nyawa manusia, tetapi masa depan generasi Papua dan kewibawaan negara,” katanya.










