Putin Perintahkan Gencatan Senjata 3 Hari Dimulai, Ukraina Sebut Hanya Sandiwara

Putin Perintahkan Gencatan Senjata 3 Hari Dimulai, Ukraina Sebut Hanya Sandiwara

Global | sindonews | Kamis, 8 Mei 2025 - 10:11
share

Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan gencatan selama tiga hari dengan Ukraina mulai berlaku hari ini (8/5/2025), bertepatan dengan peringatan Hari Kemenangan Perang Dunia II.

Namun pengumuman sepihak oleh Putin itu langsung ditolak oleh Ukraina, yang menyebutnya tidak lebih dari sebuah “sandiwara politik” tanpa itikad baik.

Kremlin menyatakan gencatan senjata tiga hari tersebut merupakan upaya untuk menguji kesiapan Kyiv terhadap perdamaian. Tetapi Ukraina tetap skeptis, mengingat pengalaman buruk dari gencatan senjata sebelumnya yang dipenuhi pelanggaran.

Gencatan senjata diumumkan Putin sebagai “gestur kemanusiaan", menyusul tekanan dari Amerika Serikat untuk mengakhiri perang yang sudah memasuki tahun ketiga. Sebaliknya, Ukraina menyerukan gencatan senjata selama 30 hari penuh untuk memberi ruang bagi diplomasi.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, dalam pidato malamnya, menegaskan bahwa negaranya tetap membuka pintu untuk gencatan senjata yang lebih substansial.

“Kami tidak mencabut usulan ini, karena hal itu bisa memberikan peluang bagi diplomasi. Namun dunia belum melihat adanya respons nyata dari Rusia,” ujarnya, seperti dikutip AFP.

Meski gencatan senjata resmi dimulai hari ini, situasi di medan perang menunjukkan sebaliknya. Hanya beberapa jam sebelum masa gencatan berlaku, Moskow dan Kyiv masih saling melancarkan serangan udara.

Ukraina melaporkan sedikitnya dua korban jiwa, termasuk seorang ibu dan anaknya, akibat serangan Rusia.

Di sisi lain, Ukraina juga melancarkan serangan drone besar-besaran ke wilayah Rusia. Serangan itu mengganggu operasional bandara di berbagai kota besar seperti Moskow dan Saint Petersburg.

Sekitar 60.000 penumpang terdampak dengan lebih dari 350 penerbangan terganggu selama dua hari terakhir, menurut Asosiasi Operator Tur Rusia.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan para penumpang tidur di lantai bandara dan antrian panjang pesawat yang tertahan di landasan pacu.

Trump Gagal Damaikan Rusia-Ukraina

Sejak dilantik pada Januari lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah berulang kali menyatakan keinginannya untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina.

Namun upaya diplomatiknya belum menunjukkan hasil berarti. Bahkan proposal gencatan senjata tanpa syarat dari AS dan Ukraina pada bulan Maret lalu ditolak langsung oleh Putin.

Gedung Putih dilaporkan semakin frustrasi dengan stagnasi dalam proses perdamaian. Wakil Presiden JD Vance mengungkapkan perlunya perundingan langsung antara Rusia dan Ukraina.

“Kami rasa tidak mungkin bagi AS untuk menjadi mediator utama tanpa keterlibatan langsung kedua belah pihak,” katanya.

20 Pemimpin Dunia Ada di Rusia

Rusia telah bersiap menggelar parade Hari Kemenangan pada 9 Mei, yang akan dihadiri lebih dari 20 pemimpin dunia, termasuk Presiden China Xi Jinping, Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva, dan Presiden Serbia Aleksandar Vučić.

Parade ini menandai peringatan kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman dalam Perang Dunia II.

Kremlin memperketat pengamanan di Moskow. Juru bicara Dmitry Peskov mengatakan layanan keamanan dan militer telah mengambil langkah ekstra untuk memastikan “atmosfer yang damai dan stabil” selama perayaan berlangsung.

Dia juga menyebut gangguan sinyal internet dilakukan demi alasan keamanan.

“Kita harus memahami bahwa kita memiliki lingkungan yang berbahaya,” ujar Peskov, merujuk pada Ukraina.

Dia menambahkan bahwa pembatasan di Moskow akan berlaku hingga 10 Mei, dan mengimbau masyarakat untuk bersabar.

Di tengah meningkatnya ketegangan, warga Rusia dari luar kota yang datang ke Moskow untuk parade terlihat tidak terganggu. “Kami dari Rostov-on-Don. Tidak ada yang membuat kami takut,” kata Valeria Pavlova, seorang mahasiswi berusia 22 tahun.

Kota asalnya merupakan pusat logistik militer Rusia untuk operasi di Ukraina dan sering menjadi target serangan. “Di sini justru terasa lebih tenang,” imbuh dia.

Namun ketenangan itu kontras dengan situasi di garis depan. Rusia masih menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina dan dalam beberapa bulan terakhir menggencarkan serangan.

Puluhan drone dan rudal balistik diluncurkan ke wilayah Ukraina, menimbulkan sejumlah korban jiwa dan kehancuran.

Ukraina menyatakan tidak yakin Rusia benar-benar akan menghormati gencatan senjata kali ini. Mereka merujuk pada pengalaman sebelumnya saat Kremlin mengumumkan gencatan senjata 30 jam saat Paskah, namun justru disertai dengan ratusan pelanggaran yang diduga dilakukan oleh pasukan Rusia.

Kini, dengan gencatan senjata yang berlangsung hanya tiga hari dan tanpa kesepakatan bersama, skeptisisme Ukraina semakin kuat. “Apa yang disebut gencatan senjata ini hanyalah sandiwara untuk pencitraan di mata dunia,” ujar seorang pejabat Ukraina yang tidak disebutkan namanya.

Dengan parade militer yang megah di satu sisi dan serangan drone serta korban sipil di sisi lain, dunia kembali dihadapkan pada ironi pahit: perayaan kemenangan masa lalu berlangsung di tengah perang yang masih jauh dari kata usai.