Fakta Atlet Binaraga Terpaksa Makan Ayam Tiren, Ternyata hanya Terima 10 Persen Dana Operasional

Fakta Atlet Binaraga Terpaksa Makan Ayam Tiren, Ternyata hanya Terima 10 Persen Dana Operasional

Nasional | sindonews | Rabu, 7 Mei 2025 - 00:23
share

Atlet binaraga mengeluhkan minimnya anggaran dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang untuk persiapan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur. Sebab itu, para atlet bahkan rela makan ayam tiren untuk memenuhi kebutuhan gizi dari protein hewani untuk mempersiapkan para atlet.

Ketua Persatuan Binaraga dan Fitnes Indonesia (PBFI) Kabupaten Malang, Indra Khusnul menyatakan, Pemkab Malang memang sudah mencairkan dana untuk atlet dan pelatih jelang Porprov Jawa Timur. Tapi jumlahnya, lanjut dia, masih jauh dari kebutuhan atlet dan cabang olahraga (cabor) binaraga.

"Sebenarnya dana dari Pemkab itu cuma membackup cuma 10 persen, malah itu kurang dari 10 persen dari pengeluaran kita, sisanya kita sendiri cari," kata Indra Khusnul dikutip Selasa (5/5/2025).

Menurutnya, pasca viralnya atlet binaannya memakan ayam mati kemarin atau tiren anggaran untuk persiapan Porprov Jatim sudah dicairkan.

Cabang olahraga (cabor) binaraga sendiri menerima Rp600 ribu untuk tiga bulan terakhir berkaca di tahun lalu, padahal bila dikalkulasikan kebutuhan makan, suplemen, hingga multivitamin per harinya mencapai Rp2-3 juta per bulan, tergantung kelasnya.

"Kita ambil minimal kelas itu 60 ke bawah minimal satu kilo per hari, untuk protein hewani, itu belum termasuk, makanan tambahan seperti serat pangannya, karbohidratnya, multi vitaminnya belum, suplemennya belum, kalau untuk suplemen itu satu orang," jelasnya.

Kekurangannya kata dia, diambil dari dana pribadi dari pengurus serta usaha dari bisnis fitnes yang ia miliki di Lawang dan Sumbermanjing Wetan. Dimana satu di antaranya untuk dikomersialkan.

"Kekurangannya dana pribadi, dana saya pribadi. Jadi kita punya dua tempat latihan, satu latihan itu untuk kita komersialkan, satunya untuk penanganan atlet, subsidinya kita subsidikan di situ," ucapnya.

Indra menambahkan, perhitungan kebutuhan atlet binaraga disebut memang tidak tampak. Sebab atlet binaraga tentu membutuhkan asupan makanan bergizi, yang tidak tak tampak layaknya sarana prasarana fisik cabor lain.

Indra mencontohkan, di olahraga balap motor misalnya, ketika dikatakan ada kekurangan, bisa dihitung dari sepeda motor atau infrastruktur lainnya.

"Kayak IMI, kurang 200 juta pun kelihatan fisiknya. Berupa motor, kalau kita berupa makanan, masuk ke dalam tubuh, multivitamin masuk ke dalam tubuh," terangnya.

Ia pun menyayangkan minimnya asupan gizi yang diterima atletnya. Padahal secara normal harusnya atlet binaraga membutuhkan asupan daging sapi, tapi karena tidak mampu membeli maka diganti dengan daging ayam, itu pun dengan membeli ayam tiren demi memenuhi kebutuhan protein hewaninya.

"Untuk memenuhi gizi, itu sudah kita survei, kalau kita ambil di telur cuma 23 ribu per kilo, tapi jumlahnya protein berapa, kalau yang mewah kita ambil daging sapi pasti, paling nggak 160 ribu," keluhnya.

Di ajang Porprov Jawa Timur sendiri kata Indra, PBFI Kabupaten Malang menerjunkan 12, dari 22 atlet-atlet andalan untuk ajang bergengsi olahraga antar kabupaten kota di Jawa Timur. Ia menargetkan, di ajang Porprov Jatim Kabupaten Malang bisa kembali jadi juara umum.

"Kalau bisa kita juara lagi ya kita juara lagi. Gimana caranya agar cabor bisa bertahan dan jadi juara umum," tukasnya.

Sebelumnya diberitakan, video atlet binaraga Kabupaten Malang yang makan ayam tiren viral di media sosial. Video itu memperlihatkan beberapa atlet binaraga yang tengah mempersiapkan diri untuk Porprov Jawa Timur, harus makan ayam tiren, karena kurangnya dana untuk persiapan.

Terlihat di video itu para atlet mengolah ayam tiren di sebuah kamar mandi, dan memasukkan ke dalam ember untuk dibersihkan. Tak hanya satu ekor ayam saja, tampak ada beberapa ayam yang diduga juga ayam tiren. Ayam-ayam itu diolah sendiri untuk dikonsumsi para atlet yang akan mempersiapkan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur.

Topik Menarik