Loading...
Loading…
Kisah Detri Warmanto penyintas Covid-19, sadar dekat dengan kematian

Kisah Detri Warmanto penyintas Covid-19, sadar dekat dengan kematian

Seleb | brilio.net | Minggu, 20 Desember 2020 - 07:00

Brilio.net - Sejak hampir 9 bulan ke belakang, keadaan dunia sedang tidak baik-baik saja. Munculnya pandemi Covid-19 yang merebak hampir di seluruh dunia benar-benar mengubah kehidupan masyarakat. Hal yang paling terasa adalah aktivitas masyarakat yang sangat dibatasi.

Pemerintah hampir di seluruh dunia memberi imbauan kepada masyarakatnya untuk tetap berdiam diri di rumah. Segala aktivitas yang biasa dilakukan di luar rumah, seperti sekolah hingga kerja terpaksa harus dilakukan secara daring demi memutus rantai penyebaran Covid-19.

Pasalnya, virus yang disebut-sebut berasal dari Wuhan itu hingga kini masih belum juga hilang. Bahkan kian hari kasus petumbuhan pasien Covid-19 terus bertambah. Virus corona tak mengenal gender, usia, dan status sosial. Semua orang bisa terinfeksi virus bila tidak mematuhi protokol kesehatan.

Hal itu terbukti, sudah banyak sekali masyarakat biasa, tokoh terkenal hingga selebriti yang terinfeksi virus ini. Salah satunya adalah aktor Detri Warmanto sekaligus menantu Tjahjo Kumolo, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB). Pada bulan Maret lalu, kabar Detri terinfeksi virus corona merebak setelah ia mengumumkan di media sosial pribadinya. Kala itu, virus corona masih sangat baru di kalangan masyarakat sehingga kecemasan masyarakat terhadap virus itu begitu tinggi.

foto: Instagram/@detriwarmanto

Detri sendiri pada awalnya mengaku kaget ketika dinyatakan positif. ia tercatat sebagai artis Tanah Air pertama yang terinfeksi virus ini. Beberapa hari menjalani isolasi mandiri, Detri dinyatakan sembuh dari Covid-19.

Nah, pasti kamu penasaran kan bagaimana cerita lengkap penyintas Covid-19 Detri Warmanto? Berikut rangkuman tanya jawab brilio.net dengan Detri Warmanto.

Awal tahu kalau terinfeksi virus corona bagaimana?

Awal swab tes itu, karena Pak Menteri Budi Karya dinyatakan postif, terus semua jajaran menteri dan kabinet Pak Jokowi disuruh tes. Kebetulan kan mertua saya itu menteri dari kebinet Pak Jokowi. Terus kami satu rumah swab termasuk Asisten Rumah Tangga (ART) dan driver.

Saya dan keluarga swab tes dapat fasilitas dari negara, tapi kalau orang rumah (ART dan driver) kita bayarin di Rumah Sakit Angkatan Darat (RSPAD). Akhirnya nggak disangka satu rumah itu ada tiga orang yang terpapar, ada driver, asisten driver mertua dan saya.

Saat dinyatakan terinfeksi virus corona, tanggapan keluarga bagaimana?

Istri saya yang pasti nangis. Kalau saya cuek aja, mau bagaimana lagi dong. Saya hidup banyak sekali dapat kejutan, mulai di pekerjaan sampai di kehidupan pribadi. Jadi saya nggak terlalu shock.

Saat itu saya mikir kalau sudah jalannya ya mau gimana lagi. Kalau titiknya mati yaudah emang selesai disitu. Saat itu enggak ada yang ngasih tau saya harus kemana, jadi saya ambil keputusan sendiri, minum obat segala macem saya pikirin sendiri.

Ada gejala nggak?

Kita bertiga tanpa gejala, atau asimtomatik dalam bahasa medisnya. Jadi orang yang terpapar tapi sehat-sehat aja. Kalau ditanya ngerasain sakit apa engga? Jawabannya nggak. Kehilangan penciuman dan kehilangan rasa kecap juga nggak. Kalau batuk awal-awal iya karena sugesti, saya mikir Covid bersarang di saluran pernapasan jadi batuk. Batuknya juga batuk-batuk kecil.

Waktu dinyatakan positif dirawat di mana?

Saya tinggal di rumah pribadi. Karena kan selama ini saya masih tinggal di rumah mertua, rumah pribadi saya kosong. Jadi saya isolasi mandiri di sana. Saya inget banget, 9 Maret masih minim rumah sakit rujukan. Wisma Atlet aja belum buka, kalau sekarang kan udah banyak bahkan hotel khusus pasien Covid juga ada.

Pas tahu kalau dinyatakan positif virus corona, perasaan Detri bagaimana?

Kalau saya lebih ke mental dan psikis. Kaget, \'waduh kok kena yah\', \'dimana?\', segala macem mikirnya tapi satu sisi kalau dipikirin terus jadi pusing. Mental saya kaget, shock. Tapi mau gimana lagi, saya jalani aja.

Orang yang kena waktu itu masih sedikit saya nggak tau harus ngapain taunya kan mati, Covid meninggal. Mental saya saat itu benar-benar down, apalagi harus jauh dari anak dan istri. Saya mikir jangan-jangan saya mati di saat harus jauh dari anak dan istri.

foto: Instagram/@detriwarmanto

Selain itu juga saya langsung jadi sorotan, karena saya artis pertama yang kena. Tiap jam ada aja yang wawancara. Kalau Andrea Dian kan menolak bicara (soal Covid) kan, kalau saya waktu itu saya mikir, daripada terjadi sesuatu sama diri saya, saya lakukan yang bermanfaat untuk diri saya.

Jadi cara mensiasati biar nggak stres, selama isolasi saya jawabin pertanyaan dari wartawan, dari telepon sampai Zoom. Tanpa disadari selama masa ingkubasi saya 14 hari itu saya menjawab pertanyaan wartawan dan ternyata sudah 14 hari aja. Jadi itu cara saya menyibukan diri.

Waktu terinfeksi virus corona, berapa lama masa pemulihannya?

Saya nggak nunggu pemulihan, saya nunggu sampai hasil swab saya. Waktu itu tes swab paling cepat 5 sampai 7 hari. Saya minta tolong banget sama Pak Terawan (menteri kesehatan) dan itu pun paling cepet banget empat sampai lima hari. Nggak seperti sekarang ada yang 24 jam, 12 jam, ada yang antigen.

Kenapa saya 21 hari, karena saya nunggu virus itu hilang. Kata dokter masa ingkubasi virus kita itu 14 hari makanya saya melakukan tes swab setelah 14 hari dinyatakan positif saya tes swab. Total 21 hari pisah rumah sama keluarga.

Waktu itu minum obat apa?

Nggak ada. Saya nggak minum obat hanya makan makanan bergizi empat sehat lima sempurna. Konsumsi vitamin C, vitamin D, vitamin B, vitamin E, itu aja sih nggak ada obat khusus Covid, minum antibiotik juga nggak. Kalau sekarang kan udah banyak minuman herbal, obat tetes segala macem, kalau dulu masih langka bgt.

Bagi masyarakat awam, virus corona ini kan diibaratkan seperti aib. Sempat ngalamin stigma dari masyarakat nggak?

Sampai sekarang saya malah ngerasa kalau saya dikenal karena Covid. Masih banyak yang nanya, \'gimana mas udah sehat?\', \'lo udah sembuh belum\'. Sampe saya dari yang bersikap ramah, nggak ramah, sampai ramah lagi.

Saya sempat ketus beberapa bulan, ketus ngadepin stigma masyarakat, cape lah. Karena seakan-akan kok aib banget. Mau ketemu tapi meraka masih ragu, dalam hati saya, \'lo liat dong di luar sana ribuan orang kena, bedanya dia nggak terkenal aja\'.

Satu sisi ada positifnya saya memberi infomasi ke masyarakat. Tapi di sisi lain ada risiko yang harus saya hadapi ketika orang-orang ketemu saya pada parno.

Dengan stigma masyarakat yang seperti itu, cara Detri nyikapinnya gimana?

Kalau mentalnya nggak bagus pasti sensitif, baper terus emosian segala macem. Kalau saya fokus aja, orang nggak mau deket sama saya ya udahlah itu hak mereka, tapi ujung-ujungnya sekarang orang-orang sudah menerima.

Jadi takut keluar rumah nggak?

Sampai detik ini sih ada dua karakter yang berbeda dari saya dan istri. Kalau saya orangnya bukannya berani, moto di hidup saya kalau bisa jalan, kalau bisa gerak. Kalau saya di rumah terus mau makan apa.

Intinya ikhtiar dulu dan kalau ke luar rumah tetap patuhi protokol kesehatan. Pakai masker, cuci tangan, jaga jarak, kebiasaan tos dengan orang saya hindari. Saya sering ngajak anak saya juga keluar buat olahraga atau berjemur.

Tapi kalau istri saya parnoan, udah berbulan-bulan dia di rumah. Kalaupun ke luar rumah, paling kerumah ibu saya atau keluar kalau penting banget beli sesuatu barang di mall terus pulang. Itu pun langsung mandi segala macem. Jadi ya bener-bener ibu rumah tangga nggak pernha keluar.

foto: Instagram/@detriwarmanto

Melihat kini masyarakat sudah menjalani kehidupan seperti biasa, bahkan tidak sedikit masyarakat yang masih kurang peduli terhadap virus ini tanggapan Detri bagaimana sih?

Ada dua sisi pandangan yg berbeda di kepala saya. Yang pertama satu sisi sedih melihatnya kenapa semakin bertambahnya penularan covid di Indonesia, masyarakat tidak mematuhi protokol kesehatan. Saya melihat mereka makin brutal nggak ada takutnya.

Nongkrong di cafe nggak pakai masker dengan alasan lagi makan dan minum. Padahal kan habis makan dan minum bisa pakai masker lagi, kenapa dibuka terus? Sampai sekarang kan kita nggak pernah tau itu droplet atau airbone, Wallahualam. Barang gaib dari Tuhan kita nggak pernah prediksi.

Yang kedua, kalau melihat realita yang ada khususnya di bidang ekonomi, selama mereka di rumah aja mereka nggak bisa cari nafkah alhasil akan memunculkan kriminalitas yang tinggi. Dengan kondisi sekarang kan keruh, apapun panas karena masalah perut.

Terus juga masyarakat yang ekonominya di bawah, menggunakan masker yang tidak sesuai dengan anjuran pemerintah. Banyak dari mereka yang justru lebih memilih membeli makan dibanding beli masker, serba salah sih.

Setelah kejadian ini, pelajaran hidup apa sih yang bisa diambil dari seorang Detri Warmanto tentang virus corona?

Kita jadi lebih mendekatkan diri (pada Tuhan), sadar dekat akan kematian. Saya jadi lebih disiplin dan menjaga kesehatan. Dulu kalau abis pergi pulang ke rumah langsung tidur aja, sekarang pulang mandi. Terus juga lebih disiplin minum vitamin olahraga, ibadah lebih banyak.

Original Source

Topik Menarik