Obrolan Santai Ahmad Yani dengan Anaknya-Anaknya Sehari Sebelum Gugur di Tangan PKI

Obrolan Santai Ahmad Yani dengan Anaknya-Anaknya Sehari Sebelum Gugur di Tangan PKI

Seleb | BuddyKu | Minggu, 1 Oktober 2023 - 04:29
share

PADA subuh 1 Oktober 1965, Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad) Letjen TNI Ahmad Yani meregang nyawa. Tujuh peluru tercatat menembus tubuh Jenderal Yani akibat serangan gerombolan Tjakrabirawa dan pemuda rakyat.

Sehari sebelumnya tepatnya pada 30 September 1965, anak-anak Jenderal Yani seolah tak pernah mendapat isyarat apapun tentang. Seperti biasa, Jenderal Yani menanyakan keberadaan ibunya.

Ibu nandi (Ibu di mana), tanyanya.

Ibu di dapur, sedang masak, jawab anak-anaknya kompak, sebagaimana tertulis di buku Tujuh Prajurit TNI Gugur: 1 Oktober 1965.

Kegiatan pada siang itu dilanjutkan dengan ngobrol santai di ruang keluarga, sembari memberi tahu bahwa anak-anaknya tak perlu masuk sekolah pada 5 Oktober yang merupakan HUT TNI.

Mengko tanggal 5 Oktober, kabeh melu bapak. Ndelok defile nang Istana. Kabeh mbolos sekolah wae (Nanti tanggal 5 Oktober semua ikut bapak. Lihat defile di Istana. Semua bolos sekolah saja), tutur Jenderal Yani.

Sontak anak-anak Jenderal Yani girang. Obrolan penuh canda di bar kecil di dalam rumah, Jalan Lembang No 58, Jakarta Pusat itu pun berlanjut, hingga tangan Jenderal Yani sempat menyenggol botol minyak wangi hingga isinya tumpah.

Sang Jenderal lantas mengusap-usap ceceran minyak wangi itu ke tubuh anak-anaknya.

Nek ditakon uwong seko endi wangine, kandakke nek wangine seko bapak. (Kalau ditanya orang, dari mana wanginya kau dapatkan, bilang wanginya dari bapak), ucap Jenderal Yani sembari berkelakar.

Selesai makan siang bersama, Jenderal Yani kembali keluar rumah untuk main golf dengan Bob Hasan. Sorenya, Jenderal Yani sepulang ke rumah sempat menyapa beberapa temannya anak-anak Jenderal Yani dari Akademi Militer Nasional (AMN).

Anak-anak saya ini paling senang dengan kalian. Silakan ngobrol dengan adik-adikmu! sapa Jenderal Yani yang kemudian berlalu ke ruang tamu untuk bertemu beberapa koleganya.

Pada malam 30 September sekira pukul 23.00 WIB, telefon di rumah mereka bordering. Penelefon misterius itu sempat dua kali bertanya soal keberadaan Jenderal Yani yang dijawab putri sulungnya, Indria Ami Rulliati (Rully).

Bapak sudah tidur. Jangan main-main ya. Ini rumah Jenderal Yani, ketus Rully kala menjawab penelefon misterius itu.

Tak dinyana, mereka harus melihat tragedi yang bikin perih hati kala sang Ayah ditembaki, diseret, dan dilemparkan ke dalam truk pada Jumat subuh, 1 Oktober 1965. Mereka benar-benar bolos sekolah pada 5 Oktober, seperti yang dikatakan Jenderal Yani untuk mengikuti prosesi pemakaman di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Topik Menarik