Kisah Jane Foster, Wanita Intel Amerika yang Mata-matai Indonesia

Kisah Jane Foster, Wanita Intel Amerika yang Mata-matai Indonesia

Seleb | BuddyKu | Jum'at, 7 Juli 2023 - 08:03
share

JAKARTA- Kisah Jane Foster, wanita intel asal Amerika yang mata-matai Indonesia akan diulas. Pada masa penjajahan hingga awal kemerdekaan, Indonesia pernah dimata-matai oleh seorang intel perempuan asal Amerika Serikat bernama Jane Foster.

Jane Foster banyak berhubungan dengan tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan seperti Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, dan lain sebagainya. Dia lahir pada 1912 dan tumbuh di San Francisco, California, Amerika Serikat. Dirinya merupakan lulusan dari Mills College di Oakland, California.

Pada tahun 1943, Foster mulai bergabung dengan organisasi intelejen bernama Officer for Strategic Service (OSS) yang kini menjadi Central Intelligence Agency (CIA). Pada awalnya Foster ditugaskan di Salzburg, Austria.

Tak lama setelah itu, Foster dipindahkan ke sebuah kota pedalaman di Sri Lanka yang kemudian membuka jalannya untuk menjalankan banyak operasi rahasia ke Sumatera, Hindia-Belanda, Malaysia dan wilayah Asia Tenggara lainnya.

Pada Agustus 1945, Foster diundang oleh komandan detasemen OSS di Sri Lanka, Kolonel John Coughlin ke bungalownya. Pada pertemuan itu, Foster ditawari untuk menjadi sukarelawan untuk melaporkan perkembangan transisi pasca perang di Jawa. Sejak saat itulah, Jane Foster mulai memata-matai Indonesia.

Meski begitu, Indonesia bukanlah tempat asing baginya. Pada tahun 1936 dirinya sempat tinggal di Jawa setelah menikah dengan seorang diplomat Belanda, Leendert Kampert. Namun setelah bercerai, Foster kembali ke Amerika.

Setibanya di Indonesia untuk menjalankan misinya, Foster melakukan sebuah pertemuan bersama dengan para pejabat Indonesia pada 28 September 1945 di kediaman Menteri Luar Negeri, Achmad Soebardjo. Pada pertemuan itu, Jane Foster bersama Letkol K.K. Kennedy dari pasukan sekutu mewawancarai para pejabat untuk mengetahui pandangan mereka.

Beberapa tokoh yang hadir di pertemuan itu antara lain adalah Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Amir Syarifudin, Iwa Kusumasumantri, dan Tan Malaka yang menyamar sebagai Kasman Singodimedjo.

Sesudah pertemuan itu, Foster segera kembali ke markas untuk memberi laporan. Dalam laporannya, Foster menjelaskan bahwa Indonesia tidak terlibat dalam rencana besar Rusia ataupun Jepang. Foster juga menyebutkan bahwa Indonesia tidak merencanakan revolusi, melainkan ingin membicarakan perdamaian.

Penilaian Foster dan agen OSS lain di Indonesia ini sejatinya memiliki nada yang simpatik. Sayangnya, Amerika justru terfokus pada pembangunan di Eropa dan mengorbankan sekutunya si Asia. Alhasil, banyak kekuatan kolonial lain yang kembali menyerang negara Asia tanpa halangan dari Amerika.

Hal ini lantas membuat Foster marah karena dirinya melihat langsung bagaimana kekejaman Belanda dan Prancis pada Indonesia dan Vietnam. Dirinya bahkan mengutuk kebijakan ini dalam sebuah kertas putih yang lecek.

Foster kemudian meninggalkan OSS pada 1946 dan memilih kembali ke Amerika. Setelah itu, Foster kemudian menghabiskan sisa hidupnya di Paris.

(RIN)

Topik Menarik