5 Fakta Film Miracle In Cell No. 7, Diadaptasi Dari Kisah Nyata

5 Fakta Film Miracle In Cell No. 7, Diadaptasi Dari Kisah Nyata

Seleb | BuddyKu | Rabu, 14 September 2022 - 20:47
share

ABOUTSEMARANG Film drama Indonesia yang ditunggu-tunggu yakni Miracle In Cell No 7 resmi tayang dan dalam 4 hari penayangan, film yang diremake dari Korea Selatan ini sudah ditonton sebanyak 1.150.346 orang.

Film Miracle In Cell No 7 versi Indonesia merupakan garapan sutradara Lee Hwan-kyung. Film aslinya ini pertama kali tayang pada 2013 lalu.

Film ini mengisahkan Dodo Rozak (Vino G. Bastian), seorang pria dengan keterbelakangan mental yang sangat menyayangi anak perempuannya (Kartika Graciella Abigail/Mawar de Jongh).

Karena kemampuan kognitif Dodo yang terbatas, Kartika yang pada akhirnya justru lebih sering merawat Dodo.

Meski begitu, keduanya tetap hidup bahagia dan saling mencintai. Dodo mencukupi kebutuhan sehari-harinya dengan berjualan balon gas. Hal itu sangat dibanggakan putrinya.

Suatu hari, terjadi kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap gadis kecil bernama Melati (Makayla Rose). Ia merupakan anak seorang politikus.

Dodo, yang berada di dekat tempat kejadian perkara, dituduh sebagai tersangka utama. Ia pun mendekam di dalam penjara.

Cerita selengkapnya bisa kamu temukan dengan menonton film Miracle In Cell No 7 di bioskop. Sebelum menonton yuk simak 5 fakta film Miracle In Cell No 7 berikut ini.

1. Diadaptasi Dari Kisah Nyata

Miracle In Cell No 7 bercerita tentang kisah seorang laki-laki disabilitas yang meninggal dunia di usia 87 tahun. Di dunia nyata, laki-laki tersebut bernama Jeong Won Seop sementara dalam film Miracle in Cell No7 karakter itu bernama Lee Yong Gu dan diperankan oleh Ryu Seung Ryong

Jeong Won Seop dituding melakukan pemerkosaan pada seorang gadis sekolah dasar. Gadis itu merupakan anak dari kepala polisi Chun Cheon di tahun 1972. Karena hal itu, Jeong Won Seop baru bebas dari penjara pada tahun 2008.

2. Vino G. Bastian Konsultasi ke Psikolog Demi Dalami Peran Difabel

Vino G. Bastian mengaku sempat konsultasi ke psikolog untuk memdalami peran sebagai orang berkebutuhan khusus. Pihak Falcon sampai mendatangkan psikolog untuk Vino demi mendalam peran di film Miracle In Cell No.7. Namun, Vino mengaku tak puas dan akhirnya datang ke sekolah sang anak untuk bertemu dengan psikolog dan psikiater di sana.

3. Dapat Pujian dari Sutradara Asli

Meski merupakan film versi remake, hasil kerja keras sutradara Hanung Bramantyo dan timnya membuahkan hasil yang manis. Sutradara asli film ini, Lee Hwan Kyung dan produser Lim Min Sub memberikan apresiasi dan pujian tinggi kepada hasil karya Hanung Bramantyo dan timnya. Bahkan baik Lim Min Sub maupun Lee Hwan Kyung mengatakan sudah tak sabar untuk menyaksikan secara langsung di bioskop saat filmnya dirilis.

4. Tak 100 Persen Mirip Dengan Aslinya

Walau versi remake dari film asal Korea Selatan, tapi film versi Indonesia ini tak mirip 100 persen dengan aslinya. Hal yang paling mencolok adalah tentang konflik utama yang diangkat dalam film.

Pada film aslinya, sosok yang menyebabkan sang ayah mendapatkan fitnah dan dituduh menjadi pembunuh adalah anak seorang perwira kepolisian, yang setara dengan propam atau bahkan kapolri di Indonesia.

Namun karena menurut sang sutradara Hanung Bramantyo terlalu riskan jika melibatkan institusi yang satu itu, maka konflik pun diubah menjadi pertarungan antara sang ayah dengan sosok berpengaruh dalam suatu partai.

5. Andmesh Jadi Pengisi Soundtrack

Andmesh didapuk untuk mengisi soundtrack film Miracle in Cell No.7 dengan lagu Andaikan Kau Datang. Ia begitu bangga mendapat kesempatan mengisi soundtrack dalam film itu. Saya sangat bangga terlibat dalam proyek ini, saya nyanyi dengan hati saya, ucapnya. (*)

Topik Menarik