Kisah Dhalia Artis Top Era 1950-an, Keturunan Bangsawan Jatuh Miskin di Masa Tua

inewsid | Seleb | Published at Kamis, 16 September 2021 - 13:28
Kisah Dhalia Artis Top Era 1950-an, Keturunan Bangsawan Jatuh Miskin di Masa Tua

JAKARTA, iNews.id - Dhalia telah menjadi artis legendaris di industri perfilman Indonesia. Dia merupakan aktris yang tenar di era 1950-an sekaligus peraih piala FFI pertama sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik pada 1955.

Populer sebagai seorang aktris, latar belakang Dhalia rupanya tidak sembarangan. Aktris asal Medan ini merupakan keturunan keluarga bangsawan di Deli, Sumatra Utara.

Ayah Dhalia, memiliki gelar Tengku dan mempunyai rombongan sandiwara yang populer di zaman kolonial Belanda. Nama rombongan sandiwara itu adalah The Union Dhalia Opera yang dibentuk pada 1925.

Sebagai keturunan bangsawan, Dhalia sempat mengenyam pendidikan di masa itu. Dhalia sekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Muhammadiyah di Medan dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) atau setara sekolah menengah pertama (SMP) di Yogyakarta.

Mulanya, sang ayah ingin Dhalia menempuh pendidikan tinggi ke Kairo, Mesir. Namun Dhalia justru jatuh cinta dengan dunia akting. Dia mulai terjun ke dunia film di era 1940-an. Pada masa awal karier, dia bermain dalam film-film propaganda seperti Panggilan Darah (1941), Berdjoang (1943), dan Hoedjan (1944).

Nama Dhalia kemudian semakin melejit di era 1950-an. Dapat dikatakan, era 1950-an itu merupakan puncak kejayaannya sebagai aktris. Dia tidak hanya membintangi banyak film, tetapi meraih penghargaan sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik di ajang penghargaan bergengsi, Festival Film Indonesia (FFI) yang digelar pertama kalinya pada 1955.

Di era tersebut, Dhalia membintangi sejumlah film. Di antaranya Sorga Terakhir (1952), Chandra Dewi (1952), Sangkar Emas (1952), Lewat Djam Malam (1954), Kopral Djono (1954), Antara Dua Sorga (1954), Halilintar (1954), Kabut Desember (1955), dan Peristiwa Didanau Toba (1955).

Dhalia sempat menghilang di pertengahan era 1950 hingga 1960-an. Dia muncul lagi di era 1970-an lewat film Last Tango in Jakarta yang tayang pada 1973. Dhalia, bahkan tetap eksis di era 1980-an dan awal 1990-an.Tetapi sayangnya, karier bersinar di masa muda dan gelar bangsawan yang dimilikinya, tidak menjadi jaminan Dhalia hidup enak di masa tua.

Melansir dari kanal YouTube Mesin Waktu, Kamis (16/9/2021), di masa tuanya Dhalia justru hidup mengontrak rumah bersama anak perempuannya yang sudah menjanda dan cucunya di kawasan Pegangsaan, Jakarta Pusat.

Bahkan, kepada wartawan majalah Pertiwi, Dhalia sempat mengaku pusing mencari uang untuk membayar kontrakan rumah sebesar Rp450.000 per tahun. Tak hanya itu, di usia senjanya, Dhalia tetap menerima tawaran bermain film meski dia harus berangkat ke lokasi syuting menggunakan bus kota atau bajaj.

Dhalia lalu meninggal dunia di Jakarta pada 14 April 1991. Dia mengembuskan napas terakhirnya di usia 64 tahun. Dua film terakhirnya sebelum meninggal yakni Pendekar Jagad Kelana dan Ketika Dia Pergi yang tayang di tahun 1990.

Artikel Asli