Loading...
Loading…
Tanggapan Psikolog Soal Glorifikasi Saipul Jamil

Tanggapan Psikolog Soal Glorifikasi Saipul Jamil

Seleb | jawapos | Senin, 06 September 2021 - 15:47

JawaPos.com Glorifikasi terhadap Saipul Jamil menjadi sorotan publik luas. Pedangdut yang akrab disapa Bang Ipul menjadi sorotan setelah kebebasannya dari Lapas Kelas I Cipinang Jakarta Timur disambut dengan kalungan bunga seolah baru saja menang Olimpiade.

Saipul Jamil juga meninggalkan Lapas Cipinang dengan menggunakan mobil sport dengan disopiri Indah Sari. Aksi itu kemudian memantik perbincangan banyak orang di media sosial.

Bahkan tagar soal Saipul Jamil menjadi trending di Twitter beberapa hari belakangan. Ada juga netizen meminta Saipul Jamil diboikot dari program TV setelah beberapa TV banyak menjadikannya sebagai bintang tamu. Netizen menganggap hal itu tidak sensitif terhadap korban pelecehan seksual yang merasakan penderitaan.

Psikolog Dody Tri menanggapi hal tersebut. Dia menyatakan penjembutan Saipul Jamil memang boleh boleh saja sebagai ekspresi kebahagiaan keluarga dan orang orang terdekat lantaran Saipul Jamil akhirnya bebas setelah menjalani hukuman 5 tahun 7 bulan. Akan tetapi euforia itu justru bisa menimbulkan penderitaan bagi pihak lain khususnya yang menjadi korban.

Cuma ketika kegembiraan itu diluapkan ke sosial media, euforia itu kan tidak semua orang dalam posisi yang sama. Pasti akan terdampak juga dengan orang orang yang terlibat dalam kasus SJ. Dampak sosial dan psikologisnya pasti ada, kata Dody Tri kepada JawaPos.com, Senin (6/9).

Dody Tri menyatakan aksi glorifikasi terhadap Saipul Jamil tentu akan dapat menyakiti perasaan korban. Terutama apabila korbannya belum sembuh total dari trauma masa lalu yang dirasakan akibat kejadian tak menyenangkan dialaminya.

Buat orang yang menjadi korban dalam hal ini belum tentu merasa sepadan dengan yang dialaminya. Karena ini sangat emosional. Sehingga ketika melihat pemberitaan dari orang yang tidak disukai pasti ada dampak psikologisnya. Apalagi orangnya mengalami trauma yang belum selesai. Ini menjadi semacam kebahagiaan di atas penderitaan orang lain. Ini dua perspektif yang sangat berbeda, paparnya.

Sementara itu, Psikolog Kasandra Putranto menilai, glorifikasi juga terjadi lantaran masih banyak masyarakat yang mengangap Saipul Jamil sebagai idola dan lebih superior dibandingkan korban kekerasan seksual. Hal ini yang juga berpengaruh terhadap dukungan yang terus diberikan kepada Saipul Jamil dan diyakini Bang Ipul tidak melakukan pelanggaran kekerasan yang serius.

Kurangnya kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap isu kekerasan seksual dan terhadap dampak dari kekerasan seksual turut memengaruhi pandangan masyarakat terhadap kekerasan seksual. Sehingga masyarakat menganggap tindakan kekerasan seksual sebagai wajar bahkan menyalahkan korban, kata Kasandra kepada JawaPos.com.

Dia menegaskan, kekerasan seksual tergolong dalam kejahatan kemanusiaan yang memiliki dampak psikologis yang sangat serius. Beberapa diantaranya bisa berdampak post-traumatic disorder, depresi, gangguan kecemasan, bahkan berakibat terjadinya upaya bunuh diri dilakukan korban.

Kasandra juga melihat, pembenaran terhadap bang Ipul sebagai pelaku pelecehan seksual dilihat sebagai kultur yang dibentuk oleh budaya patriarki. Dan pemberitaan media yang tidak terlalu berhati-hati juga mengakibatkan terjadinya glorifikasi pada Saipul Jamil.

Penggunaan berita atau kisah yang menarik atau mengejutkan tanpa mementingkan akurasi, dengan tujuan untuk menarik minat atau kegembiraan publik. Liputan terhadap Ipul dilakukan sebagai kapitalisasi media dengan tujuan untuk memancing penonton dengan berita-berita yang sensasional, paparnya.

Sedangkan Psikolog Mintarsih menitikberatkan pada aksi pelecehan seksual yang terjadi antara Saipul Jamil dan korbannya berinisial DS. Menurutnya, perlu diteliti lebih jauh untuk melihat tingkat trauma dialami korban.

Apakah korbannya juga mau? Apakah itu benar-benar menjadi korban yang dipaksa ? Atau si anak di bawah umur itu senang (untuk tujuan) mencari uang? Tapi apapun itu dia (Saipul Jamil), tetap salah secara hukum, papar Mintarsih kepada JawaPos.com .

Trauma yang Dirasakan Korban

Dody Tri menyatakan trauma yang dirasakan korban pelecehan seksual sangat berbeda-beda antara satu kasus dengan kasus yang lainnya. Bisa saja si korban cepat melakukan proses penyembuhan diri, tapi bisa juga memiliki jangka yang panjang bahkan sampai usia tua sekalipun.

Dody Tri menyatakan, trauma yang panjang biasanya terjadi kepada korban yang tidak mendapatkan terapi khusus. Kalau tidak mendapat terapi khusus kemungkinan tetap bisa sembuh apabila dia mengupayakan untuk sembuh. Tapi prosesnya mungkin bisa tahunan bahkan sampai tua mungkin bisa masih membekas, ungkapnya.

Trauma yang dirasakan korban pelecehan seksual bisa lebih cepat proses kesembuhannya apabila mendapatkan terapi khusus dengan penanganan yang tepat.

Kalau si subyek (korban) mau koperatif, disupport sama keluarga bisa jadi prosesnya jadi lebih cepat. Dan terkait dengan pribadinya juga, kalau orangnya mudah memaafkan dan dekat sama Tuhan, bisa jadi prosesnya lebih cepat. Kalau dia punya cara berpikir yang baik juga prosesnya jadi lebih cepat. Dan faktor terapisnya juga sangat berpengaruh, bebernya.

Disinggung soal durasi waktu proses kesembuhan korban pelecehan seksual dari trauma yang dialami, Dody Tri mengaku tidak ada patokan pasti dan juga tergantung dengan pendekatan terapi yang digunakan. Tapi pengalaman saya ada yang setahun sembuh, ada yang 6 bulan juga ada, yang 3 bulan langsung bisa recovery juga ada. Masing-masing orang berbeda, tandasnya.

Original Source

Topik Menarik

{
{