Sabet 100 Juta Vaksinasi, Ini 7 Jenis Vaksin COVID19 yang Lolos BPOM Gaes

Seleb | kuyou.id | Published at Rabu, 01 September 2021 - 12:04
Sabet 100 Juta Vaksinasi, Ini 7 Jenis Vaksin COVID19 yang Lolos BPOM Gaes

Pemerintah Indonesia berhasil sabet target 100 juta vaksinasi nih gaes. Berikut 7 jenis vaksin COVID19 yang sudah lolos izin BPOM.


Seperti yang diketahui, Indonesia akhirnya telah berhasil menyuntikkan 100 juta dosis vaksin pada Selasa, 31 Agustus 2021. total vaksinasi yang sudah disuntikkan sebanyak 100.017.626 dosis, yang artinya capaian ini sudah melebihi target yang diberikan Presiden Jokowi kepada Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin gaes.


Belum lama ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sudah mengeluarkan izin penggunaan darurat atau emerhency use authorization (EUA) terhadap 7 jenis vaksin COVID19 di Indonesia sejak Januari hingga Agustus 2021.

EUA untuk 7 jenis vaksin COVID19 di Indonesia ini diterbitkan setelah melalui pengkajian secara intensif oleh BPOM bersama dengan Tim Komite Nasional Penilai Khusu Vaksin COVID19 serta Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI).


Selain itu, penilaian terhadap data mutu 7 jenis vaksin COVID19 ini juga sudah mengacu pada pedoman evaluasi mutu vaksin yang berlaku secara internasional lho gaes.


"Setiap proses pemberian EUA masing-masing vaksin mempunyai prosesnya tersendiri, dinamikanya tersendiri. Dan alhamdulillah pada saat ini sudah ada 7 jenis vaksin yang kami berikan emergency use authorization," kata Kepala BPOM Penny Lukito saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi IX DPR, pada Rabu 25 Agustus 2021.





Daripada makin penasaran, berikut 7 jenis vaksin COVID19 yang sudah mendapat EUA dari BPOM yang sudah dihimpun dari berbagai sumber untuk kamu.



1. Sinovac



Vaksin Sinovac merupakan vaksin Covid-19 yang pertama kali mendapat izin penggunaan darurat dari BPOM. EUA ditebritkan oleh BPOM pada Senin, 11 Januari 2021 lalu.


Izin pengguanaan darurat terhadap vaksin Sinovac ini diberikan setelah BPOM mengkaji hasil uji klinis tahap III vaksinyang dilakukan di Bandung dan juga mengkaji hasil uji klinis vaksin Sonivac yang dilakukan di Turki dan Brasil.


Dari hasil analisis uji klinis tahap III di Bandung menunjukkan efiksi vaksin COVID19 sebedar 65,3 persen gaes. Vaksin yang dikembangkan oleh Sinovac Research and Development Co.,Ltd ini diberikan dua dosis 0,5 ml setiap dosisnya dengan interval minimal pemberian antar dosis adalah selama 28 hari.



2. Vaksin Covid-19 Bio Farma



Pada 16 Februari 2021, BPOM kembali mengeluarkan EUA untuk vaksin COVID19 yang diproduksi oleh PT Bio Farma (Persero). Vaksin ini memiliki nomor izin penggunaan EUA 2102907543A1.


Vaksin dengan nama produk Vaksin Covid-19 ini berasal dari bahan baku vaksin yang secara bertahap sudah dikirimkan oleh Sinovac gaes. Vaksin ini memiliki bentuk sediaan vial 5 ml. Setiap vial berisi 10 dosis vaksin yang berasal dari virus yang di-inaktivasi.


Pada setiap vial sudah dilengkapi dengan sua dimensi bercode khusus yang menujukkan detail informasi dari setiap vial yang berfungsi untuk melacak vaksin dan mencegah pemalsuan vaksin gaes.



3. AstraZeneca



Vaksin COVID19 yang lolos BPOM selanjutnya adalah AstraZeneca. Diketahui, BPOM kembali mengeluarkan EUA untuk Vaksin COVID19 buatan perusahaan farmasi Inggris, yaitu AstraZebeca pada 22 Februari 2021 lalu.


Vaksin ini memiliki nomor izin penggunaan EUA 2158100143A1. Vaksin COVID19 yang dikembangkan oleh AstraZeneca dan University of Oxford ini memiliki efikasi sebedar 62,1 persen.


BPOM memberikan izin menggunaan darurat untuk AstraZeneca setelah melakukan evaluasi bersama Komite Nasional Penilai Obat berserta pihak lainnya.





Vaksin ini diberikan secara intramuskular dengan dua kali penyuntikkan. Setiap penyuntikkan dosis yang diberikan sebesar 0,5 persen dengan interval minimal pemberian antar dosis yaitu 12 minggu gaes.



4. Sinopharm



Kemudian, BPOM kembali mengeluarkan EUA untuk vaksin COVID19 Sinopharm dengan monor EUA 2159000143A2 pada 29 April 2021 lalu.


Vaksin Sinopharm ini didistribuskan oleh PT Kimia Farma dengan platfom inactivated virus atau virus yang mematikan. Berdasarkan hasil evaluasi, pemberian vaksin Sinopharm dua dosis dengan selang pemberian 21 hari menunjukkan profil kemanan yang bisa ditoleransi dengan baik.


Adapun hasil uji klinis tahap III yang dilakukan oleh peneliti di Uni Emirates Arab (UAE) dengan subjek sekitar 24 ribu menunjukkan efikasi vaksin Sinopharm sebesar 78 persen gaes.



5. Moderna



Pada Jumat 2 Juli 2021 lalu, vaksin Moderna telah mendapat EUA dari BPOM. Penerbitan EUA untuk vaksin COVID19 ini berdasarkan hasil uji klinis tahap III dan pengkajian Komite Nasional Penilai Vaksin Covid-19, ITAGI dan juga BPOM.


Berdasarkan data uji klinis tahap ketiga menunjukkan efikasi vaksin Moderna sebesar 94,1 persen pada kelompok usia 18-65 tahun kemudian menurun menjadi 86,4 persen untuk usia di atas 65 tahun.


Selain itu, hasil uji klinis juga menyatakan vaksin Moderna aman untuk kelompok populasi masyarakat dengan komorbid ayau penyakit penyerta, yaitu penyakit paru kronis, jantung, obesitas keras, diabetes, penyakit lever hati, dan HIV.



6. Pfizer



Vaksin COVID19 Pfizer mendapat izin pengguanaan EUA dari BPOM pada 15 Juli 2021 lalu. Penerbitan EUA terhadap Pfizer dilakukan sesuai dengan pedoman evalusi yang berlaku secara internasional.


Data dari uji klinis tahap III menunjukkan efikasi sebesar 100 persen pada usia remaja 12-15 tahun, kemudian menurun menjadi 95,5 persen pada usia 16 tahun ke atas gaes.


Vaksin Pfizer diberikan secara intramuskular dengan dua kali penyuntikkan setiap penyuntikkan dosis yang diebrikan sebasar 0,3 ml dengan interval minimal pemberian antar dosis yaitu 21-28 hari.



7. Sputnik V



Terakhir adalah vaksin COVID19 Sputnik V. BPOM menerbitkan EUA untuk vaksin Sputnik V pada Selasa, 24 Agustus 2021 lalu.


Vaksin Sputnik V digunakan untuk kelompok usia 18 tahun ke atas. Vaksin ini diberikan secara injeksi intramuskular dengan dosis 0,5 ml untuk dua kali penyuntyikkan dalam rentang waktu 3 minggu gaes.


Vaksin Sputnik V dikembangkan oleh The Gamaleya National Center of Epidemiology and Microbiology di Russia dengan menggunakan platform Non-Replocating Viral Vector (Ad260S dan Ad5-S).


Adapun, pemberian EUA untuk Sputnik V sudah berdasarkan pengkajian secara intensif oleh BPOM bersama Tim Komite Nasional Penilai Khusu Vaksin Covid-19 dan ITAGI.


Dari hasil kajian terkait keamanannya, efek samping dari penggunaan Sputnik V merupakan efek samping dengan tingkat keparahan ringan atau sedang seperti flu yang ditandai dengan demam, menggigil, neyri sendi, nyeri otot, badan lemas, ketidaknyamanan, sakit kepala, hipertermia, atau reaksi lokai pada injeksi.





Sedangkan untuk efikasinya, data uji klinis tahap III menunjukkan vaksin Sputnik V memberikan efikasi sebesar 91,6 persen dengan rentang confidence interval 85,6 persen-95,2 persen gaes.


Nah, itu dia 7 jenis vaksin COVID19 yang sudah lolos izin BPOM gaes. Buat kamu yang belum divaksin yuk segara divaksin~


Artikel Asli