Di Balik Para Juara Festival Film Cannes 2021

cultura.id | Seleb | Published at 22/07/2021 11:10
Di Balik Para Juara Festival Film Cannes 2021

Setelah mengalami masa-masa suram selama hampir dua tahun, industri perfilman mendapat angin segar dengan hadirnya Festival Film Cannes 2021 yang diselenggarakan pada 6-17 Juli 2021.

Festival bergengsi ini berhasil diselenggarakan setelah dibatalkan pada tahun 2020 akibat pandemi COVID-19. Dalam sejarah penyelenggaraannya, Festival Film Cannes hanya pernah sekali dibatalkan pada 1968 selama kerusuhan mahasiswa nasional yang menyebabkan situasi yang tidak kondusif. Pada periode ini, muncul ikon French New Wave seperti Francois Truffaut dan Jean-Luc Godard.

Kondisi yang menyebabkan pembatalan pelaksanaan festival antara dua peristiwa ini sangat jauh berbeda. Bagi komunitas film seluruh dunia, Festival Cannes adalah momen yang sangat krusial. Tidak diragukan lagi, pembatalannya berdampak luas bagi ekosistem industri, mulai dari agen distributor, produser, hingga para pemain film.

Pasar film Cannes adalah acara tahunan yang menghadirkan kesepakatan-kesepakatan antara pihak yang terlibat, sehingga roda industri terus berjalan. Selain itu, Festival Cannes juga berperan dalam memposisikan film berbahasa asing secara komersial dan dalam ajang penghargaan. Dengan peluang-peluang ini, Festival Film Cannes adalah acara yang sangat dinantikan di seluruh penjuru dunia.

 

Pada bulan Maret 2021, sutradara dan penulis naskah Amerika Spike Lee diundang menjadi presiden juri dalam Festival Cannes 2021. Pengangkatan Spike Lee menjadikannya sebagai presiden juri pertama berkulit hitam dalam Festival Film Cannes.

Meskipun dilaksanakan dengan kapasitas penuh selama era pandemi, tetap dilakukan tindakan-tindakan pencegahan penularan virus, seperti penggunaan sertifikat vaksinasi dan bukti tes negatif COVID-19. Selama 12 hari, festival dimeriahkan oleh pemutaran berbagai film yang sudah dinantikan sebelumnya, seperti "The French Dispatch" karya Wes Anderson, dan film musical "Annette" karya Leos Carax.

Festival ini ditutup dengan pengumuman penghargaan-penghargaan bergengsi, mulai dari penghargaan naskah terbaik hingga penghargaan tertinggi Palme dOr.

Berikut daftar pemenang penghargaan utama Festival Film Cannes 2021:

Julia Ducournau, Sutradara Perempuan Kedua dalam Sejarah yang Meraih Penghargaan Palme dOr

Setelah menunjuk Spike Lee sebagai presiden juri kulit hitam pertama di Festival Cannes, tahun ini publik juga dikejutkan dengan keluarnya Julia Ducournau sebagai peraih penghargaan Palme dOr, mengalahkan film-flim bergengsi lainnya. Julia merupakan sutradara wanita kedua yang memenangkan Palme dOr, setelah Jane Campion dengan karyanya "The Piano" pada 1993.

Hal ini menunjukkan diversifitas yang semakin menonjol dalam Festival Film Cannes 2021. Karya Julia yang keluar sebagai juara Cannes ini bertajuk Titane, sebuah film liar tentang pembunuh berantai yang memiliki ketertarikan seksual terhadap mobil. Film ini meninggalkan kesan mengejutkan pada penontonnya, karena diisi dengan nuansa body horror thriller khas David Cronenberg yang bercampur dengan nilai-nilai tentang keluarga dan karakter yang kuat.

Julia Ducournau & Spike Lee Cannes 2021

Julia Ducournau & Spike Lee (Photo: REUTERS/Eric Gaillard)

Film ini sukses membagi penontonnya menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang menyatakan bahwa film ini sangat orisinil dan baru, serta kelompok yang menyebutkan bahwa film ini terlalu berantakan dan brutal untuk ditonton.

Julia mengaku tidak senang dengan predikat sutradara perempuan yang memenangkan Palme dOr. Baginya, dirinya tidak perlu diapresiasi karena dirinya adalah perempuan, namun karena dirinya adalah sutradara yang menghasilkan film yang layak memenangkan penghargaan tersebut.

Terdapat pihak-pihak yang melabeli film ini sebagai film yang terlalu provokatif. Julia berpendapat, telah banyak film yang lebih mengerikan daripada film-nya dengan topik yang sama, namun karena dia adalah perempuan, maka kritik itu muncul. Julia mengatakan bahwa akan lebih banyak lagi perempuan yang memenangkan Palme dOr setelah ini.

Dilansir dari Aljazeera, dalam beberapa tahun terakhir, frustasi pada kesetaraan gender dalam Festival Cannes telah meningkat, termasuk pada tahun 2018 ketika 82 wanitatermasuk Agnes Varda, Cate Blanchett, dan Salma Hayekmemprotes ketidaksetaraan gender di karpet merah Cannes. Jumlah mereka menunjukkan perbandingan jumlah film sutradara wanita yang bersaing di Palme dOr, yaitu sebanyak 82 film, bersaing dengan 1945 film yang disutradarai laki-laki. Tahun ini, empat dari 24 film yang bersaing untuk Palme dOr disutradarai oleh perempua.

Empat dari Delapan Penghargaan Utama diraih oleh Sutradara Asia

Tahun ini, ada lima film karya sutradara Asia yang memperoleh penghargaan utama. Hadiah juri diraih oleh Nadav Lapid di film Aheds Knee (Israel) dan Apichatpong Weerasethakul di film Memoria (Thailand).

Pada kategori Grand Prix, sutradara Iran Asghar Farhadi berhasil menyabet penghargaan melalui karyanya, A Hero. Yang terakhir, film Asia berhasil memenangkan kategori skenario terbaik melalui "Drive My Car" oleh Hamaguchi Ryusuke dan Takamasa Oe. Satu lagi film Asia yang meraih penghargaan pada bidang film pendek terbaik, yakni film Hongkong All The Crows in the World karya Tang Yi.

Premis-premis dari film-film ini sangat menarik. Contohnya, "Drive My Car" yang merupakan adaptasi dari cerita pendek Haruki Murakami dengan judul yang sama. Film ini merupakan drama melankoli yang berlangsung selama 3 jam. Berdasarkan sepak terjang sutradara Hamaguchi, film ini patut untuk menjadi list tontonan.

Drive My Car

Drive My Car

Pada 2018, Hamaguchi berhasil masuk ke dalam nominasi Palme dOr Cannes, bersaing dengan Hirokazu Kore-eda dengan "Shoplifters" karyanya.

Dari Timur Tengah, Asghar Farhadi kembali menunjukkan kebolehannya dalam menarasikan realita kehidupan Iran. "A Hero" merupakan film yang menceritakan dilema moral yang dialami seorang pria bernama Rahim yang sedang menjalani cuti singkat dari penjara. Terlilit hutang dan tuntutan kehidupan, Rahim justru dihadapkan pada sebuah tas berisi 17 koin emas. Penonton dibawa mengalami dilema yang dirasakan Rahim melalui gaya penyampaian Farhadi. Membuat penontonnya merasakan sisi-sisi kemanusiaan adalah keunggulan sutradara film A Separation tersebut.

Nitram, Isu Lama yang Menjawab Isu Masa Kini

Jika melihat isi yang dibawakan oleh Nitram, sayang sekali film ini tidak memenangkan penghargaan skenario terbaik. Nitram bercerita tentang Martin Bryant (dijuluki Nitram), seorang warga negara Australia pelaku penembakan massal yang membunuh 35 orang dan membuat luka 23 lainnya. Peristiwa ini dikenal sebagai pembantaian Port Arthur dan menjadi isu yang sensitif bagi warga Australia, khususnya Tasmania.

Peristiwa ini juga melatarbelakangi lahirnya reformasi senjata api (gun reform) di Australia. Selagi menyutradarai Nitram, Justin Kurzel baru menyadari betapa pentingnya reformasi senjata api itu.

Dilansir dari Deadline, dibutuhkan 10 tahun bagi Shaun Grant untuk menemukan pendekatan yang tepat untuk menulis naskah Nitram. Sebelumnya, bersama dengan Kurzel, mereka telah menggarap proyek mengenai pembunuh berantai Australia yang bertajuk "Snowtown".

 Caleb Landry Jones in 'Nitram' Courtesy of Cannes Film Festival

Caleb Landry Jones in 'Nitram' Courtesy of Cannes Film Festival

Untuk proyek Nitram kali ini, dipersiapkan pendekatan yang tepat mengingat betapa sensitifnya isu tersebut bagi mereka dan warga Australia. Penulisan ini juga didorong oleh pengalaman pribadi Grant ketika tinggal di Los Angeles, ketika sang istri mengalami langsung peristiwa penembakan massal ketika dirinya sedang berbelanja. Melihat hal ini, topik yang mengangkat pentingnya gun control ini dirasa sangat perlu untuk diangkat. Apalagi, berita mengenai penembakan selalu muncul di surat kabar Amerika tiap minggunya.

Kehati-hatian Kurzel dan Grant ditunjukkan dengan peniadaan adegan-adegan kekerasan dan penembakan, yang justru menjadi tema utama yang berhubungan dengan Nitram. Melalui penggambaran ini, diharapkan penonton dapat memahami betapa mengerikannya adegan penembakan tersebut, dan betapa pentingnya kita meningkatkan kesadaran akan hal tersebut. Dengan naskah tersebut, Caleb Landry Jones menyanggupi untuk memerankan Nitram, yang akhirnya mengantarkan dia dan film ini meraih penghargaan aktor terbaik dalam Festival Film Cannes.

Festival Film Cannes 2021 menunjukkan tren peningkatan dalam nilai diversitas yang diusung oleh ajang tersebut. Perkembangan ini tentu saja sangat baik bagi para pekerja film dan masyarakat di seluruh dunia.

Semakin banyak film dari sineas yang berbeda latar belakang, semakin berwarna film yang akan ditonton oleh masyarakat. Dengan ini, pemahaman akan isu-isu penting di dunia akan semakin terangkat.

Jangankan para pemenang, film-film yang berhasil diputar dalam Festival Film Cannes 2021 memiliki keunikan-keunikan tersendiri yang membuatnya sangat layak untuk masuk ke dalam watchlist.

Artikel Asli