Loading...
Loading…
Refly Harun sebut masuk akal jika polisi sengaja habisi 4 Laskar FPI

Refly Harun sebut masuk akal jika polisi sengaja habisi 4 Laskar FPI

Populer | hops.id | Sabtu, 09 Januari 2021 - 12:50

Beberapa waktu lalu Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengatakan bahwa ada pelanggaran HAM yang dilakukan pihak kepolisian terhadap 4 Laskar Front Pembela Islam (FPI) hingga tewas di Km 50 tol Jakarta-Cikampek pada 7 Desember 2020 lalu.

Hal itu membuat pakar hukum tata negara Refli Harun berkomentar sama. Ia mengaku tidak kaget akan pengakuan Komnas HAM tersebut.

Refli menyampaikan pendapatnya di Channel Youtubenya pada Jumat 8 Januari 2021. Menurutnya sejak awal telah terlihat sejumlah keganjilan, salah satunya soal rekonstruksi kejadian.

FPI. Foto: Tagar

Dari awal kalau kita pikir logick thinking terhadap 4 Laskar FPI itu, kalau kita pagang rekonstruksi yang dilakukan Mabes Polri, ya memang agak tidak masuk akal. Bagaimana mungkin 4 orang dalam penguasaan petugas tiba-tiba hilang nyawa semuanya. Kan ini jadi persoalan yang paling besar, ucapnya dilansir laman Youtube Refly Harun.

Tak cuma itu, Refly berasumsi bahwa 4 Laskar FPI sengaja dibunuh untuk menghilangkan bukti dan saksi. Sebab sangat tidak masuk akal jika Polisi menyebut ke-4 anggota FPI itu merebut senjata aparat.

Logika yang paling mudah adalah mereka memang ya sengaja dalam tanda kutip, sengaja diselesaikan agar kemudian tidak ada lagi bukti-bukti selanjutnya. Karena agak susah kita mau menerima logika bahwa karena mau merebut senjata petugas, maka keempatnya mati ditembak. Jadi ada sebuah persoalan kalau kita mau menerima rekonstruksi (dari Polri) itu, katanya.

Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun. Foto: Youtube/ReflyHarun

Di sisi lain, kesimpulan Komnas HAM merupakan sebuah kesimpulan yang sangat masuk akal. Ini adalah kesimpulan yang sangat logis, sangat masuk akal dan pastinya didukung oleh data data yang ditemukan Komnas HAM di lapangan, katanya.

Lebih lanjut, Refly Harun berharap Komnas HAM bisa membuka insiden ini lebih jauh agar bisa diketahui pasti aktor yang mendesain pembunuhan itu.

Apakah insiden ini by desain atau by eksiden. Karena kalau by desain, tidak hanya soal pelaku di lapangan. Tapi siapa pun yang melakukan desain itu. Kita tidak boleh menuduh institusinya, tapi kalau ada by desain yang dilakukan sekelompok orang, maka by desain itu harus dibongkar, ungkapnya.

Original Source