Triumph Bonneville T40, Mempertahankan Gaya Klasik dengan Mesin 400cc
CEO OpenAI Sam Altman meminta dunia bersiap menerima sisi gelap kecerdasan buatan (AI). Peretasan, penipuan, dan penyalahgunaan, menurut dia, adalah harga yang layak dibayar demi manfaat teknologi ini.
Pernyataan itu disampaikan Altman dalam wawancara dengan Politico, seperti dilaporkan Newsweek, Senin (5/10/2026). Saat ditanya soal perbedaan sikap OpenAI dan pesaingnya, Anthropic, dalam urusan regulasi AI, Altman menyebut jaraknya lebar.
"Dunia sebaiknya menerima sejumlah hal buruk terjadi demi manfaat teknologi ini dan agar orang memiliki keleluasaan," kata Altman.
Ia menolak membatasi akses terhadap AI canggih demi menghapus semua risiko. "Saya tidak akan mengambil kompromi dengan berkata, 'Kami pastikan tidak ada peretasan besar, tidak ada penyalahgunaan, nol penipuan, nol hal buruk lainnya'," ujarnya.
Menurut dia, manusia akan berbuat kebaikan dengan AI berlipat-lipat kali lebih banyak daripada keburukannya.Sikap ini menyimpan paradoks. Altman memaklumi kerugian yang ia anggap wajar, tetapi menolak risiko katastrofik, termasuk hilangnya kendali manusia atas sistem AI.
Ia tidak menjelaskan di mana garis batas keduanya, juga siapa yang menanggung kerugian ketika penipuan berbasis AI menimpa warga biasa.
Injak rem
Pandangan Altman berseberangan dengan CEO Anthropic Dario Amodei. Lewat esai "We Must Pace the Frontier" yang terbit September lalu, Amodei menilai kemampuan AI melaju lebih cepat daripada kesiapan pengamanannya.
"Kita harus memperlambat laju peningkatan kemampuan model AI," tulis Amodei.Kekhawatiran terbesarnya adalah recursive self-improvement, yakni ketika AI ikut membangun AI yang lebih baik, yang kemudian membangun AI yang lebih baik lagi. Jika tak dikendalikan, siklus ini bisa melampaui kemampuan manusia untuk memahami dan mengontrolnya.
Amodei juga menyinggung insiden terbaru yang melibatkan agen AI otonom. Dengan laju saat ini, ia khawatir dalam 6-12 bulan kawanan agen AI dapat mengganggu seluruh jaringan internet. Meski begitu, ia tidak meminta pengembangan AI dihentikan. Ia mengusulkan evaluator pihak ketiga, koordinasi lebih erat antarperusahaan AI, serta mekanisme pengawasan internasional untuk model canggih.
Peringatan dari dalam
Perdebatan kian tajam setelah mantan peneliti Anthropic, Jacob Coxon, menuding perusahaan AI berlomba menuju superintelijensi yang mampu memperbaiki dirinya sendiri dan "berjudi dengan nyawa kita".
Peringatan Coxon menarik perhatian karena melampaui isu disinformasi dan hilangnya lapangan kerja. Ia menyoroti kemungkinan AI masa depan tak lagi bisa dikendalikan.
Silang pendapat dua pemimpin perusahaan AI papan atas ini memperlihatkan pertanyaan yang belum terjawab: apakah teknologi pengubah dunia harus dilepas secepatnya meski risikonya diketahui, atau sengaja diperlambat sampai pengamannya siap.
Bagi publik, pilihan itu bukan perkara abstrak. Penipuan, peretasan, dan penyalahgunaan yang dianggap Altman sebagai harga wajar akan lebih dulu dirasakan pengguna biasa, bukan perusahaan pembuat modelnya.







