Mesin Hybrid + EV, Wuling Eksion Tantang SUV Mahal, Seberapa Layak?

Mesin Hybrid + EV, Wuling Eksion Tantang SUV Mahal, Seberapa Layak?

Otomotif | sindonews | Sabtu, 18 April 2026 - 16:07
share

SUV baru Wuling Eksion mencoba menjawab satu pertanyaan lama: bisakah mobil “rasa premium” hadir tanpa harga premium?

Pasar SUV Indonesia kembali mendapat penantang baru. Dan kali ini bukan sekadar tambahan model. Tapi, strategi yang berpotensi mengubah peta persaingan.

Wuling memperkenalkan Eksion, SUV elektrifikasi 7-penumpang yang hadir dalam dua pendekatan sekaligus: Electric Vehicle (EV) dan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV).

Di tengah tren elektrifikasi yang belum sepenuhnya matang di Indonesia, fleksibilitas teknologi menjadi kunci.

“Eksion hadir sebagai SUV 7-seater pertama di Indonesia dengan pilihan EV dan PHEV,” ujar Aji Ibrahim, Product Planning Wuling Motors.Secara dimensi, Eksion berada di kelas menengah atas. Panjangnya 4.745 mm, lebar 1.850 mm, tinggi 1.755 mm, dengan wheelbase 2.810 mm. Angka ini menempatkannya sejajar dengan SUV seperti Honda CR-V atau bahkan mendekati Hyundai Santa Fe. Artinya, secara ruang kabin dan proporsi, Eksion tidak bermain di segmen entry-level.Suspensi depan McPherson dan belakang multi-link independent juga menunjukkan orientasi kenyamanan, bukan sekadar mobil keluarga biasa. Ini biasanya ditemui pada SUV dengan harga lebih tinggi.

Masuk ke kabin, pendekatan yang diambil Wuling cukup jelas: menghadirkan kesan premium melalui material dan fitur.

Kombinasi warna walnut brown dan carbon black, ventilated seat, electric seat adjustment, hingga panoramic sunroof adalah fitur yang selama ini identik dengan SUV di atas Rp500 juta.

Panel digital juga jadi sorotan, dengan layar utama 12,8 inci dan MID 8,8 inci. Ini melampaui standar banyak SUV konvensional di kelas menengah yang masih bertahan di layar 7–10 inci.

Namun inti dari Eksion ada pada powertrain. Untuk varian PHEV, Wuling menggabungkan mesin 1.5L dengan tenaga 105 hp dan torsi 130 Nm, dipadukan motor listrik 195 hp dan torsi 230 Nm. Angka ini secara total memberikan karakter performa yang lebih responsif dibanding SUV bensin biasa.

Sebagai pembanding, SUV konvensional di kelas harga Rp400 juta–Rp600 juta umumnya memiliki tenaga di kisaran 150–190 hp tanpa bantuan motor listrik.

Eksion, dengan kombinasi ini, secara teknis menawarkan akselerasi yang lebih instan, terutama di kecepatan rendah.

Baterai 20,5 kWh juga memungkinkan jarak tempuh gabungan lebih dari 1.000 km berdasarkan standar CLTC. Ini menjadi solusi atas kekhawatiran utama pengguna EV di Indonesia: infrastruktur pengisian yang belum merata.

Di sinilah Eksion mencoba mengisi celah pasar. EV murni masih menghadapi keterbatasan, sementara mobil bensin mulai ditinggalkan secara regulasi global. PHEV menjadi jembatan, dan Wuling memanfaatkannya.Namun pertanyaan besarnya bukan soal teknologi, melainkan penerimaan pasar.

Selama ini, konsumen Indonesia masih melihat merek sebagai faktor utama dalam pembelian SUV. Produk dengan fitur setara seringkali tetap kalah jika brand equity tidak sekuat pemain Jepang atau Korea.

Eksion mencoba mematahkan pola itu dengan pendekatan “value over brand”. Dengan satu platform, Wuling menghadirkan dua teknologi sekaligus—EV dan PHEV—yang biasanya dikembangkan secara terpisah oleh pabrikan lain dengan biaya jauh lebih besar.

Strategi ini efisien secara industri, tetapi juga berisiko. Jika harga tidak cukup kompetitif, Eksion bisa terjebak di tengah: terlalu mahal untuk pembeli rasional, namun belum cukup kuat untuk pembeli berbasis brand.

Di sisi lain, jika harga agresif, Eksion berpotensi menjadi disrupsi serius. Kombinasi dimensi besar, fitur premium, dan elektrifikasi dalam satu paket adalah sesuatu yang jarang ditemukan di pasar saat ini.

Dalam konteks 2026, ketika penjualan mobil masih cenderung melambat dan konsumen semakin selektif, produk seperti Eksion bisa menjadi indikator perubahan perilaku pasar: dari brand-driven menjadi value-driven.

Pertanyaannya kini sederhana: apakah konsumen Indonesia siap menerima SUV “rasa premium” dari pemain baru, atau tetap bertahan pada nama besar yang sudah mapan?

Topik Menarik