Rp25 Triliun untuk Pikap Impor, Otomotif Lokal cuma Jadi Penonton di Negeri Sendiri?

Rp25 Triliun untuk Pikap Impor, Otomotif Lokal cuma Jadi Penonton di Negeri Sendiri?

Otomotif | sindonews | Selasa, 24 Februari 2026 - 11:30
share

Rencana ambisius pemerintah untuk mendatangkan 105.000 unit mobil pikap dalam bentuk utuh atau Completely Built Up (CBU) dari India senilai hampir Rp25 triliun untuk operasional Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) menuai badai kritik. Kebijakan ini dinilai sebagai anomali fatal di tengah gaung hilirisasi, secara langsung mencederai semangat kemandirian industri dan menutup keran penyerapan tenaga kerja di sektor otomotif domestik pada 2026.

Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Pusat, Moreno Soeprapto, melontarkan kritik pedas terkait langkah pengadaan yang mensubstitusi peran sumber daya lokal tersebut.

”Dengan impor 105 ribu unit mobil secara CBU dengan nilai hampir Rp25 triliun, berarti peluang membuka lapangan kerja untuk masyarakat Indonesia itu tidak ada. Malah memberikan lapangan kerja untuk India,” tegas Moreno.

Menganalisis logika pasar otomotif 2026, kucuran dana Rp25 triliun ke luar negeri—yang jika dirata-rata berkisar di angka Rp238 juta per unit—adalah inefisiensi yang ironis. Padahal, utilisasi pabrik perakitan kendaraan niaga di Indonesia saat ini masih memiliki ruang kosong yang sangat besar. Mengimpor produk CBU berarti memutus peluang stimulus ekonomi bagi ribuan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bergerak di rantai pasok komponen lapis kedua dan ketiga.

Moreno menegaskan bahwa proyek logistik skala nasional ini sejatinya adalah panggung pembuktian bagi talenta lokal. Salah satunya melalui ekosistem yang dibangun oleh divisi Modifikasi dan Kendaraan Listrik IMI Pusat di bawah komando Andre Mulyadi. “Kita memiliki banyak builder dan engineer lokal yang kemampuannya tidak kalah dengan luar negeri,” imbuhnya.

Andre Mulyadi, yang juga pendiri National Modificator & Aftermarket Association (NMAA), memastikan bahwa industri modifikasi dan aftermarket Indonesia tak lagi sekadar bermain di ranah estetika visual, melainkan menapak ke level rekayasa teknis dan manufaktur komponen skala produksi.

IMI mendesak agar keran pengadaan armada operasional KDMP diputar arah menuju pelaku industri dalam negeri. Pengalihan nilai investasi raksasa ini ke manufaktur lokal tidak hanya akan menghidupkan ekosistem UMKM, tetapi juga menjadi etalase kedaulatan teknologi anak bangsa.

Topik Menarik