Jetour T2 Terbakar di Jagorawi, Sistem Keselamatan Disebut Berfungsi Normal

Jetour T2 Terbakar di Jagorawi, Sistem Keselamatan Disebut Berfungsi Normal

Otomotif | sindonews | Sabtu, 14 Februari 2026 - 09:35
share

Hasil investigasi insiden Jetour T2 di Tol Jagorawi menyimpulkan sistem keselamatan kendaraan bekerja sesuai standar, termasuk airbag yang mengembang penuh dan struktur kabin yang tetap stabil. PT Jetour Sales Indonesia bersama Kementerian Perhubungan dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memaparkan hasil investigasi atas insiden lalu lintas yang melibatkan Jetour T2 di ruas Tol Jagorawi. Klarifikasi ini dilakukan dalam forum resmi yang dipimpin Direktur Sarana dan Keselamatan Transportasi Jalan Kementerian Perhubungan RI, Yusuf Nugroho, S.T., M.T., dan dihadiri Ketua KNKT, Kasubdit Uji Tipe Kendaraan Bermotor, Ketua Tim Kelompok Substansi Sertifikasi Tipe Kendaraan Bermotor, perwakilan Balai Pengujian Laik Jalan dan Sertifikasi Kendaraan Bermotor Bekasi, serta manajemen PT Jetour Sales Indonesia.

Langkah ini menjadi bagian dari proses investigasi yang diklaim menyeluruh, objektif, dan berbasis data teknis sejak awal kejadian.

“Kami mengapresiasi PT Jetour Sales Indonesia atas respon cepat dalam melakukan investigasi terhadap kejadian yang ada. Tujuan diselenggarakannya klarifikasi ini adalah untuk memperoleh penjelasan terkait kronologi dan hasil investigasi atas insiden kendaraan merek Jetour, dengan fokus pada spesifikasi teknis kendaraan, sistem keselamatan (safety system), serta mekanisme perlindungan terhadap risiko kebakaran,” ujar Yusuf Nugroho.

Kronologi Teknis dan Temuan Investigasi

Berdasarkan paparan dalam rapat klarifikasi, insiden tersebut dikategorikan sebagai tabrak samping, bukan tabrak belakang seperti yang sempat beredar di ruang publik. Benturan ekstrem terjadi pada sisi kiri kendaraan, menyebabkan roda depan dan belakang kiri mengalami kerusakan berat.

Akibat kerusakan tersebut, bagian bawah kendaraan bergesekan langsung dengan permukaan aspal. Gesekan inilah yang disebut menjadi pemicu munculnya api sebagai dampak lanjutan pasca benturan keras, hingga akhirnya kendaraan terbakar.

Dalam kondisi benturan, sistem keselamatan disebut bekerja sesuai desain. Airbag mengembang secara penuh, struktur kendaraan tetap stabil dan tidak terguling, serta pintu masih dapat dibuka secara normal setelah benturan serius. Hal ini diklaim menunjukkan integritas struktur kabin dan fungsi keselamatan berjalan sebagaimana dirancang.Secara teknis, Jetour T2 disebut telah memenuhi standar keselamatan ASEAN NCAP, ECE R153, ECE R34, serta regulasi lain yang menjadi acuan keselamatan kendaraan di pasar domestik dan internasional. Peter Zhang, President Director PT JETOUR Sales Indonesia, menyatakan, “Sejak awal kami berkomitmen untuk menelaah insiden ini secara teknis, terbuka, dan berbasis fakta. Hasil investigasi menunjukkan bahwa sistem keselamatan kendaraan bekerja sesuai standar yang berlaku. Keselamatan konsumen merupakan prioritas utama kami dan kami akan terus memastikan setiap produk Jetour memenuhi regulasi dan standar kualitas tertinggi,” bebernya.

Uji Regulasi dan Persepsi Publik

Dalam industri otomotif, pemenuhan standar seperti ASEAN NCAP, ECE R153, dan ECE R34 menjadi indikator dasar keselamatan. ECE R34, misalnya, berkaitan dengan perlindungan terhadap risiko kebakaran. Sementara ECE R153 mengatur sistem keselamatan tertentu dalam kendaraan modern.

Namun, dalam konteks pasar, pemenuhan standar regulasi sering kali belum cukup untuk meredam kekhawatiran publik. Insiden kebakaran kendaraan, terutama di jalan tol, sensitif terhadap persepsi konsumen.

Fakta bahwa pintu masih dapat dibuka setelah benturan dan struktur tidak terguling menunjukkan desain crash structure dan sistem proteksi pasif bekerja. Dalam skenario benturan ekstrem, deformasi struktur bawah memang dapat memicu percikan atau panas akibat friksi. Di sinilah pentingnya proteksi tambahan terhadap komponen sensitif di bagian bawah kendaraan.

Konteks Pasar dan Kepercayaan Konsumen

Jetour T2 berada di segmen SUV yang kompetitif di Indonesia. Dalam segmen ini, isu keselamatan menjadi faktor utama dalam keputusan pembelian, selain harga dan fitur. Transparansi investigasi bersama regulator dan KNKT menjadi langkah strategis untuk menjaga kepercayaan publik. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa produsen tidak berdiri sendiri dalam menjelaskan insiden, melainkan melibatkan otoritas resmi.

Tentu saja, evaluasi berkelanjutan tetap diperlukan. Industri otomotif global menunjukkan bahwa pembaruan desain atau penyesuaian teknis sering kali muncul dari hasil investigasi insiden nyata di lapangan.

Yang jelas, PT Jetour Sales Indonesia menegaskan komitmennya untuk mematuhi ketentuan keselamatan yang berlaku di Indonesia, melakukan evaluasi produk secara berkelanjutan, serta menjaga transparansi komunikasi kepada publik.

Antara Standar dan Kepercayaan

Hasil investigasi menyatakan sistem keselamatan Jetour T2 bekerja sesuai desain, airbag mengembang penuh, struktur stabil, dan pintu dapat dibuka pasca benturan. Insiden dikategorikan sebagai tabrak samping dengan kerusakan berat pada roda kiri depan dan belakang, yang memicu gesekan bawah kendaraan dengan aspal hingga menimbulkan api.

Secara regulasi, kendaraan ini telah memenuhi standar ASEAN NCAP, ECE R153, dan ECE R34. Namun dalam dinamika pasar, keselamatan bukan hanya soal standar teknis, melainkan juga soal persepsi dan konsistensi kualitas di lapangan. Insiden di Tol Jagorawi menjadi ujian penting bagi Jetour dalam membangun reputasi jangka panjang di Indonesia.

Topik Menarik