Kuasai 50 Persen Pasar EV, BYD Tetap Optimis Walau Subsidi Mobil Listrik di 2026 Dihapus

Kuasai 50 Persen Pasar EV, BYD Tetap Optimis Walau Subsidi Mobil Listrik di 2026 Dihapus

Otomotif | sindonews | Minggu, 8 Februari 2026 - 12:43
share

Tahun 2026 menandai babak baru bagi ambisi dekarbonisasi Indonesia yang cukup berisiko: penghapusan total insentif pajak untuk mobil listrik. Di atas kertas, kebijakan ini adalah "rem tangan" bagi pertumbuhan konsumsi. Namun, di lantai pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026, raksasa asal China, BYD, justru menampilkan wajah optimisme.

Pasar kendaraan listrik (EV) Indonesia kini dipaksa berdiri di atas kaki sendiri. Tanpa subsidi atau pembebasan pajak yang sempat memanjakan pembeli di tahun-tahun sebelumnya, harga kendaraan listrik praktis kembali ke titik normal. Kenaikan harga seharusnya berbanding lurus dengan penurunan minat. Namun, data menunjukkan bahwa BYD telah membangun benteng yang cukup kokoh sebelum badai kebijakan ini tiba.

Sepanjang 2025, BYD Indonesia mencatatkan angka penjualan fantastis sebanyak 54.100 unit. Angka ini jadi simbol dominasi karena mencakup sekitar 52 persen dari total penjualan EV nasional. Dengan kata lain, satu dari dua mobil listrik yang terjual di Indonesia adalah produk BYD.

"Saat ini, per Januari trennya belum terlalu kelihatan ya," ujar Luther Panjaitan, Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, saat ditemui di JIExpo Kemayoran. Luther menekankan bahwa proses administrasi registrasi kendaraan yang belum rampung di awal tahun membuat data belum bisa dibaca secara utuh, namun ia memastikan belum ada gejolak berarti dalam minat beli.

Keyakinan BYD didorong oleh "kedalaman" industri yang mereka miliki secara global. Pada 2025, BYD memproduksi unit ke-15 juta dengan total penjualan ekspor melampaui 1 juta unit ke 119 negara. Di Indonesia, strategi mereka bergeser dari sekadar menjual harga murah menjadi memperkuat kepercayaan melalui jaringan. Setelah menguasai wilayah Barat, di tahun 2026 ini BYD menargetkan utilisasi pabrik hingga 150.000 unit dan ekspansi agresif ke wilayah Timur Indonesia.BYD sepertinya ingin membuktikan bahwa kendaraan listrik telah mencapai fase "kematangan".

Dengan pangsa pasar EV nasional yang melonjak dari angka kecil menjadi 13 persen di akhir 2025—bahkan menyentuh 18 persen pada kuartal keempat—konsumen dianggap tidak lagi membeli mobil listrik hanya karena murah akibat subsidi, melainkan karena kebutuhan fungsional dan teknologi inti.

Meski demikian, ketidakpastian tetap membayangi. Luther mengakui bahwa kejelasan kebijakan tetap menjadi faktor krusial agar konsumen bisa segera melakukan aksi pembelian tanpa keraguan. "Penting, supaya mungkin konsumen bisa melakukan action sesegera mungkin atau punya pertimbangan lain," tambahnya.

Partisipasi BYD di IIMS 2026 dengan portofolio produk yang mengisi hampir seluruh segmen pasar menjadi ujian nyata: apakah efisiensi biaya operasional dan kematangan teknologi mampu mengalahkan ketergantungan pada subsidi? Jika angka penjualan tetap stabil di angka 50.000-an unit tahun ini, maka BYD telah berhasil membuktikan bahwa mobilitas berkelanjutan di Indonesia sudah mampu "lepas sapih" dari bantuan negara.

Topik Menarik