Gaikindo Buka Suara: Potensi Pasar Otomotif RI Tersandera Pajak, Relaksasi Bisa Jadi Kunci Ledakan Penjualan

Gaikindo Buka Suara: Potensi Pasar Otomotif RI Tersandera Pajak, Relaksasi Bisa Jadi Kunci Ledakan Penjualan

Otomotif | sindonews | Sabtu, 2 Agustus 2025 - 11:33
share

Di tengah gemerlap dan optimisme pameran GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyampaikan pesan penting yang menjadi sorotan. Di balik layar, pasar otomotif nasional disebut memiliki "potensi raksasa" yang saat ini sedang "tersandera" oleh beban pajak yang dinilai terlalu tinggi.

Alih-alih menyajikan keluhan, Gaikindo justru melontarkan sebuah visi optimistis: jika pemerintah mau meninjau kembali struktur pajak kendaraan, Indonesia berpotensi mengalami ledakan penjualan mobil yang akan memberikan efek domino positif bagi seluruh perekonomian.

Avanza di Negeri Jiran: Cermin yang Menyakitkan

Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, memaparkan sebuah perbandingan yang sangat dramatis dan membuka mata. Ia mengambil contoh "mobil sejuta umat", Toyota Avanza, yang lahir dari pabrik di Indonesia.

"Kita bandingkan, mobil Toyota Avanza itu dibuat di Indonesia. Dijual di Indonesia, juga diekspor ke negara lain termasuk di Malaysia. Di Indonesia, bayar pajak tahunannya Rp5 juta, sementara di Malaysia, dengan produk yang sama, pajak tahunan (cuma) Rp500 ribu," kata Kukuh di arena GIIAS 2025.

Perbedaan sepuluh kali lipat untuk produk yang sama ini menjadi cermin betapa besarnya beban pajak yang ditanggung oleh konsumen di Tanah Air.

'Harga Siluman' di Balik Banderol Mobil

Kukuh juga membongkar "harga siluman" yang seringkali tidak disadari oleh konsumen. Beban pajak ini sudah terasa bahkan sejak mobil keluar dari pabrik.

“Kalau dibedah lagi, katakan ambil mobil yang harganya Rp100 juta keluar dari pabrik. Kalau Anda beli, bayarnya Rp 150 juta, bukan Rp 100 juta. Artinya Rp 50 jutanya adalah pajak. Begitu besarnya pajak itu,” ujarnya.

Jurang yang Semakin Lebar

Beban pajak yang tinggi ini menciptakan sebuah jurang yang semakin lebar antara daya beli masyarakat dan harga mobil. Gaikindo memaparkan data kajian yang mengkhawatirkan:

Pendapatan kelas menengah di Indonesia rata-rata naik 3 per tahun.

Namun, harga mobil yang menjadi incaran mereka naik hingga 7,5 per tahun."Jadi gap-nya makin lama makin besar. Ini yang harus diantisipasi," tegas Kukuh.

Seruan untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

Gaikindo mengingatkan bahwa dampak dari pasar yang stagnan tidak hanya dirasakan oleh pabrikan besar. Yang lebih rentan adalah ekosistem di belakangnya: ratusan perusahaan pemasok komponen di tingkat tier 1, tier 2, hingga tier 3, yang menyerap ribuan tenaga kerja.

Seruan Gaikindo di panggung GIIAS ini bukanlah sebuah tanda menyerah, melainkan sebuah undangan kolaborasi kepada pemerintah. Di balik angka penjualan yang melambat, tersimpan potensi pasar yang luar biasa besar. Dengan relaksasi kebijakan pajak, mimpi memiliki mobil baru bisa menjadi kenyataan bagi jutaan keluarga Indonesia, yang pada akhirnya akan menjadi bahan bakar bagi pertumbuhan ekonomi nasional yanglebihkencang.

Topik Menarik