Profil StreetScooter, Mobil Listrik Jerman yang Dilirik Pertamina Cs

Otomotif | katadata.co.id | Published at Jumat, 26 November 2021 - 11:53
Profil StreetScooter, Mobil Listrik Jerman yang Dilirik Pertamina Cs

Rencana Indonesia Battery Corporation alias IBC mengakuisisi StreetScooter, produsen mobil listrik asal Jerman, memantik kontroversi. Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama mengkritik Pertamina yang memiliki 25% saham di IBC.

Ahok mengatakan pembelian perusahaan mobil listrik Jerman StreetScooter tidak layak karena hasil due diligence yang dilakukan mengatakan akusisi tidak cocok.

StreetScooter GmbH merupakan produsen kendaraan listrik yang berlokasi di Aachen, Jerman. StreetScooter GmbH adalah anak usaha dari Deutsche Post DHL.

StreetScooter memulai produksi pertamanya pada 2015. Pada April 2016, Deutsche Post DHL mengumumkan bahwa produksi StreetScooter mulai 2017 akan ditingkatkan hingga 10 ribu kendaraan tiap tahunnya.

Lalu pada Oktober 2017 Streetscooter mengumumkan untuk membangun pabrik kedua di Duren dengan kemampuan produksi hingga 10.000 kendaraan per tahun. Hingga 2020, perusahaan telah mendistribusikan 13.500 mobil van dan truk listrik ke seluruh Jerman.

Pada September 2019, StreetScooter juga mengumumkan rencana kerja sama dengan pabrikan otomotif asal China yakni Chery. Rencana kerja sama tersebut untuk memproduksi hingga 100.000 kendaraan per tahun pada 2021. Namun pada Maret 2020, Deutsche Post justru mengumumkan rencana untuk melepas StreetScooter.

Belum lama ini, mengutip Reuters, Deutsche Post diketahui telah setuju untuk menjual StreetScooter kepada perusahaan Jerman bernama Odin Automotive yang berbasis di Luksemburg. Meski demikian, Deutsche Post tidak ingin mengomentari terkait kesepakatan tersebut.

Corporate Secretary IBC Muhammad Sabik menjelaskan alasan rencana akuisisi tersebut. Sabik mengatakan IBC tengah melakukan kajian dan evaluasi secara menyeluruh terhadap seluruh aspek rencana tersebut.

Sesuai Rencana Jangka Panjang Perseroan (RJPP), IBC akan melakukan pengembangan bisnis baik di Ekosistem EV Battery (EVB) maupun EV (Electric Vehicle). Pengembangan Ekosistem kendaraan listrik ini menjadi salah satu kunci untuk mendukung program percepatan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) di Indonesia.

"Salah satu upaya yang dilakukan IBC dalam pengembangan industri EV adalah dengan mengembangkan portfolio bisnis untuk mendapatkan know-how dan knowledge transfer serta mitra strategis yang memiliki kompetensi dalam pengembangan EV," tutur Sabik.

Kendaraan Listrik 2022 Sebagai bagian dari upaya tersebut, IBC sampai saat ini sedang menjajaki kemungkinan untuk mendapatkan mitra yang dapat mendukung upaya IBC dalam mengakselerasi penggunaan kendaraan listrik di Indonesia. "Mitra strategis tersebut tentu bisa berasal dari dalam negeri maupun luar negeri," kata Sabik.

Pertamina melalui anak usahanya Pertamina Power Indonesia (PPI) menyiapkan sejumlah strategi dalam mendorong ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Salah satunya bergabung dengan IBC.

Ahok menyarankan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati untuk memperhatikan tata kelola perusahaan yang baik/Good Corporate Governance (GCG) dalam proses akuisisi perusahaan pabrik asal Jerman tersebut. "Harus proper dan GCG juga untuk bangun ekosistem mobil listrik dan tahu partnermu," kata Ahok kepada Katadata.co.id, Rabu (24/11).

Ekonom Senior Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet pun menilai akuisisi pabrik mobil listrik belum saatnya.

"Perencanaan mobil listrik perlu dilakukan secara bertahap, tidak kemudian serta merta melakukan akuisisi terhadap pabrik mobil yang sebenarnya merugi," kata Yusuf kepada Katadata.co.id, Kamis (25/11)

Dalam konteks Indonesia, pemerintah diuntungkan lantaran RI merupakan salah satu negara dengan cadangan nikel terbesar dunia. Sementara, nikel merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam badan rancang dari mobil listrik.

Dia menilai sebaiknya Indonesia terlebih dulu ikut pada rantai pasok global, dengan produk baterai kendaraan listrik untuk beberapa pemain mobil listrik terkemuka. Setelah matang, tahapan berikutnya dapat memulainya dalam membangun suku cadang pendukung mobil listrik diluar baterai tentunya. "Jika tahapan ini selesai baru kemudian kita berbicara membangun industri mobil listrik," ujar Yusuf.

Artikel Asli