Kisah Raphinha: Dari Nyaris Terbuang hingga Jadi Pahlawan Barcelona di El Clasico
BARCELONA, iNews.id – Raphinha nyaris meninggalkan Barcelona sebelum kedatangan Hansi Flick pada 2024 mengubah total arah kariernya dan menjadikan dia salah satu pemain paling menentukan di dunia sepak bola saat ini.
Winger asal Brasil itu mengungkapkan posisinya sempat berada di ujung tanduk sebelum Flick tiba. Dia bahkan merasa tinggal selangkah lagi hengkang dari Camp Nou, sebelum pelatih asal Jerman tersebut meyakinkan dia untuk bertahan.
Transformasi Raphinha kembali terlihat jelas saat Barcelona menghadapi Real Madrid di final Piala Super Spanyol, Senin (12/1/2026) dini hari WIB. Dalam laga tersebut, dia tampil sebagai figur sentral dengan mencetak dua gol dan membawa Blaugrana menang dramatis 3-2.
Raphinha membuka keunggulan Barcelona pada babak pertama sebelum memastikan kemenangan lewat gol penentu yang berawal dari defleksi. Penampilan tersebut menegaskan perannya sebagai pemain kunci di era Flick.
Kontribusi besar itu kontras dengan dua musim awalnya di Spanyol. Raphinha datang ke Barcelona pada 2022 di bawah asuhan Xavi Hernandez, namun dia kesulitan menunjukkan konsistensi dan kerap tenggelam dalam persaingan internal.
Situasi makin rumit ketika Lamine Yamal muncul sebagai opsi utama di posisi sayap kanan. Pada bursa transfer musim panas 2024, nama Raphinha bahkan terseret spekulasi hengkang seiring ketertarikan Barcelona terhadap Nico Williams.
Flick Ubah Segalanya
Hansi Flick memiliki pandangan berbeda sejak awal kedatangannya. Dia langsung berbicara dengan Raphinha dan memberi keyakinan penuh mengenai peran penting sang pemain di tim.
“[Flick] adalah orang yang mengubah segalanya untuk saya di sini. Saya sudah satu kaki di luar klub saat dia datang. Pentingnya dia berbicara dengan saya, mengatakan saya akan menjadi penting, itu yang dibutuhkan pemain, seseorang yang menghargai kerja kerasmu,” ujar Raphinha, dikutip dari Sport Illustrated.
“Dia memberi saya apa yang saya butuhkan pada saat itu, sehingga saya bisa fokus bekerja keras dan memberikan yang terbaik untuk tim,” tambahnya.
Flick kemudian menggeser Raphinha ke sisi kiri dalam sistem yang mengakomodasi Lamine Yamal di kanan serta memberi ruang bagi Alejandro Balde untuk aktif menyerang. Sejak itu, Raphinha menjadi sosok tak tergantikan.
Catatan statistik menguatkan peran vital tersebut. Sejak Flick menangani Barcelona, tidak ada pemain lain yang mampu menyamai kontribusi Raphinha dengan total 75 gol dan assist di semua kompetisi.
Hansi Flick juga memberi pujian khusus terhadap mentalitas sang pemain. Menurut dia, intensitas dan daya juang Raphinha memberi dampak besar bagi keseluruhan tim.
“Mentalitasnya luar biasa. Dia punya dinamika yang memengaruhi seluruh tim. Dia memang sempat gagal di peluang pertama, tetapi di kesempatan kedua dia ada di sana, mencetak gol pertama dan memberi tim kepercayaan diri,” kata Flick.
“Ini yang dia bawa. Rapha di lapangan berarti intensitas tinggi, dan kami membutuhkan itu,” lanjut Flick.
Meski dikenal tangguh, Raphinha sempat absen hampir dua bulan akibat cedera hamstring. Pada periode tersebut, Barcelona menelan kekalahan dari Sevilla, Paris Saint-Germain, dan kalah di Clásico pertama musim ini.
Data berbicara jelas. Raphinha tidak menjadi starter dalam seluruh empat kekalahan Barcelona musim ini. Saat dia bermain sejak awal, catatan tim mencatat 13 kemenangan dan satu hasil imbang dari 14 laga.
Keputusan Raphinha bertahan kini terbukti krusial. Hansi Flick jelas bukan satu-satunya sosok yang bersyukur sang winger memilih tetap mengenakan seragam Barcelona.










